Di depan cermin, seorang bapak berusia 62 tahun di Surabaya melihat sesuatu yang baru: lingkaran putih keabu-abuan tipis mengelilingi bagian hitam matanya. Tidak sakit, tidak buram, tidak merah. Tetapi justru karena tampak jelas, ia bertanya-tanya, apakah ini tanda kolesterol tinggi, atau sekadar bagian dari menua?
Kondisi itu bernama arcus senilis, atau arkus kornea (corneal arcus). Jawabannya: pada sebagian besar orang lanjut usia, ini memang bagian dari penuaan dan tidak berbahaya. Namun pada kelompok tertentu, terutama yang masih muda, ia layak menjadi alasan untuk memeriksa kadar lemak darah.
Apa itu arkus senilis?
Arkus senilis adalah cincin berwarna putih, abu-abu, atau kekuningan di tepi kornea, yaitu selaput bening di bagian depan bola mata. Cincin ini terbentuk dari endapan lemak (kolesterol dan trigliserida) di jaringan kornea bagian tepi. Biasanya endapan dimulai dari bagian atas dan bawah, lalu menyambung membentuk lingkaran penuh. Di antara cincin dan sklera (bagian putih mata) tetap ada pita bening sempit yang disebut lucid interval.
Arkus senilis tidak menimbulkan nyeri, tidak mengganggu penglihatan, dan tidak memerlukan obat tetes mata. Pusat kornea tetap jernih sehingga cahaya masuk ke mata seperti biasa.
Penyebab munculnya endapan di tepi kornea diperkirakan karena pembuluh darah di tepi kornea lebih bocor terhadap partikel lemak (lipoprotein) dibandingkan bagian tengahnya. Semakin lama tubuh terpapar lemak darah, semakin banyak yang menumpuk. Sebuah tinjauan sistematis tahun 2025 menyimpulkan bahwa arkus kornea terutama mencerminkan paparan lemak kumulatif sepanjang hidup, bukan sekadar angka kolesterol pada hari pemeriksaan.1

Seberapa sering terjadi, dan pada siapa?
Arkus senilis sangat sering ditemukan pada orang tua, dan lebih sering pada laki-laki. Di Asia, angkanya tinggi: pada studi populasi di Singapura, arkus ditemukan pada 73,2% orang Melayu berusia 40–80 tahun2 dan 50,1% orang keturunan India pada rentang usia yang sama.3 Pada kedua studi, usia menjadi faktor terkuat; setiap kenaikan 10 tahun memperbesar peluang adanya arkus secara bermakna.
Selain usia dan jenis kelamin laki-laki, arkus berkaitan dengan kolesterol total dan LDL yang lebih tinggi, merokok, hipertensi, indeks massa tubuh yang lebih besar, serta penanda peradangan.2,3 Karena itu, orang dengan arkus sering kali juga memiliki beberapa faktor risiko jantung lain.
Apakah arkus senilis berarti penyakit jantung?
Ini pertanyaan yang paling sering muncul, dan jawabannya bergantung pada usia. Tinjauan sistematis 12 studi observasional menemukan bahwa arkus konsisten berkaitan dengan profil lemak yang bersifat aterogenik dan beban penyakit kardiovaskular yang sudah ada. Namun, kemampuannya memprediksi kejadian baru pada orang tua umumnya terbatas setelah usia, jenis kelamin, dan kadar lemak diperhitungkan. Peneliti juga mencatat sensitivitasnya rendah, sehingga tidak adanya arkus tidak menyingkirkan penyakit jantung.1
Pada populasi Asia, studi kohort enam tahun di Singapura mendapati arkus tetap berkaitan dengan kejadian penyakit kardiovaskular baru (infark miokard, angina, atau stroke) pada laki-laki Melayu dan India, bahkan setelah faktor risiko konvensional diperhitungkan (rasio odds 1,73), tetapi tidak pada perempuan.4 Artinya, arkus bisa menjadi petunjuk tambahan yang kasat mata, bukan alat ukur risiko yang berdiri sendiri.
| Kelompok | Makna arkus senilis | Langkah yang wajar |
|---|---|---|
| Usia 60 tahun ke atas, tanpa keluhan | Umumnya bagian dari penuaan; daya prediksi risiko jantungnya terbatas | Tidak perlu panik; pastikan pemeriksaan tekanan darah, gula, dan lipid rutin sesuai usia |
| Usia 40–60 tahun | Bisa mencerminkan paparan lemak yang lama, terutama pada laki-laki dan perokok | Periksa profil lipid, tekanan darah, dan gula darah; nilai risiko kardiovaskular |
| Di bawah 40–50 tahun | Tidak lazim; perlu dicurigai kelainan lemak darah, termasuk bawaan keluarga | Periksa profil lipid lengkap dan riwayat keluarga; konsultasi dokter |
| Hanya satu mata | Tidak khas penuaan biasa | Periksakan ke dokter mata; pertimbangkan evaluasi pembuluh darah leher |
Arkus pada usia muda: ketika harus curiga hiperkolesterolemia familial
Arkus yang muncul sebelum usia sekitar 45–50 tahun disebut arkus juvenilis, dan ini patut diperhatikan. Salah satu penyebab penting adalah hiperkolesterolemia familial (HF), kelainan genetik yang membuat kadar LDL sangat tinggi sejak lahir. Pedoman ESC/EAS 2019 tentang dislipidemia mencantumkan arkus kornea pada usia di bawah 45 tahun sebagai salah satu petunjuk klinis HF, bersama xantoma tendon dan riwayat keluarga penyakit jantung dini.5
Penelitian terbaru di Jepang pada 484 pasien HF menunjukkan bahwa arkus dan penebalan tendon Achilles lebih sering ditemukan pada mereka yang kadar lipoprotein(a)-nya tinggi, dan kombinasi tersebut menandai risiko kejadian kardiovaskular besar yang paling tinggi.6 Jadi, pada orang muda, cincin di kornea bisa menjadi petunjuk pertama yang menyelamatkan.
Contoh: seorang laki-laki 35 tahun di Makassar datang ke dokter mata untuk kacamata baru, lalu diketahui memiliki arkus di kedua mata. Ayahnya meninggal karena serangan jantung pada usia 48 tahun. Situasi seperti ini sebaiknya diikuti pemeriksaan profil lipid dan konsultasi lanjutan, tanpa menunggu keluhan.
Kapan perlu ke dokter?
Sebaiknya Anda berkonsultasi bila:
- Cincin putih muncul pada usia di bawah 45–50 tahun.
- Cincin hanya muncul di satu mata.
- Ada riwayat keluarga kolesterol sangat tinggi atau penyakit jantung dan stroke pada usia muda.
- Anda memiliki benjolan kekuningan di kelopak mata atau tendon (misalnya tumit), yang bisa menjadi xantoma atau xantelasma.
- Anda merokok, memiliki diabetes, atau hipertensi dan belum pernah memeriksa lipid darah.
Pemeriksaan yang umumnya dilakukan adalah profil lipid darah (kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida), pengukuran tekanan darah, gula darah, dan penilaian risiko kardiovaskular. Dokter mata dapat menegakkan arkus dengan pemeriksaan lampu celah; arkus kornea sendiri tidak memerlukan pengobatan khusus.
Apakah cincin ini bisa dihilangkan?
Tidak ada obat tetes atau tindakan yang perlu untuk menghilangkan arkus senilis, dan cincin yang sudah terbentuk umumnya menetap. Karena tidak mengganggu penglihatan, pengobatan dari sisi mata biasanya tidak diperlukan. Fokus perawatan adalah pada penyebab di baliknya: mengendalikan kadar lipid darah, berhenti merokok, menjaga tekanan darah dan gula darah, mengatur pola makan, dan rutin beraktivitas fisik. Bila lemak darah tinggi, dokter dapat mempertimbangkan obat penurun kolesterol sesuai tingkat risiko Anda.
Pesan utama
Arkus senilis pada lansia umumnya jinak dan sering hanya cerminan usia. Ia bukan penyakit mata yang perlu diobati, tetapi dapat menjadi isyarat kasat mata tentang paparan lemak yang panjang. Semakin muda usia saat cincin muncul, atau bila hanya satu mata yang terkena, semakin kuat alasan untuk memeriksa lemak darah dan kesehatan pembuluh darah. Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh dokter.
Rujukan
1. Bonajmah H, dkk. The relation of corneal arcus with cardiovascular diseases: a systematic review. Cureus. 2025;17(12):e99615. doi:10.7759/cureus.99615
2. Wu R, dkk. Cardiovascular risk factors, inflammation, and corneal arcus: the Singapore Malay Eye Study. Am J Ophthalmol. 2010;150(4):581-587. doi:10.1016/j.ajo.2010.04.028
3. Ang M, dkk. Corneal arcus is a sign of cardiovascular disease, even in low-risk persons. Am J Ophthalmol. 2011;152(5):864-871. doi:10.1016/j.ajo.2011.04.014
4. Wong MYZ, dkk. Is corneal arcus independently associated with incident cardiovascular disease in Asians? Am J Ophthalmol. 2017;183:99-106. doi:10.1016/j.ajo.2017.09.002
5. Mach F, dkk. 2019 ESC/EAS guidelines for the management of dyslipidaemias. Eur Heart J. 2020;41(1):111-188. doi:10.1093/eurheartj/ehz455
6. Murai K, dkk. Corneal arcus and Achilles tendon thickness reflect circulating lipoprotein(a) levels in familial hypercholesterolemia. J Clin Lipidol. 2025;19(5):1273-1283. doi:10.1016/j.jacl.2025.07.010





Tinggalkan Balasan