A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Segala sesuatu yang berdiri dengan indah di dunia ini memiliki sendi dan pilar yang menyokongnya. Kehidupan berubah setiap saat, bergerak, mengalir, tertiup, dan ketika kutatap ketiada-abadian ini, kulihat sepernik kecil ke-aku-an-ku yang menyelip dan bergulat di sana. Senyum kecilku karena melihat kebodohanku sendiri. Setiap hal saling berhubungan, dan setiap hubungan tumbuh bagai sebuah pohon, mulai dari benih yang bertunas hingga ia besar dan kemudian berakhir dalam perjalanan waktu.

Malam ini bintang-bintang tak secemerlang sebagaimana yang kulihat ketika kesenduan ini belum menyelimuti langit hatiku. Langkah-langkah yang melunglai dan adante yang kian memelan, seakan ia hendak lepas dari sang waktu yang tiada. Seluruh dunia terpisah dari sebuah keberadaan yang hilang, aku tak mengerti dan tak ingin mengerti, karena tiada hal yang bagiku memiliki makna untuk dipahami. Yang tersisa hanyalah sebuah tanda dari ikatan lama yang ingin kembali mengulang cerita bisunya akan senyuman bahagia yang pernah ada.

Ketika sekat-sekat itu terluluhkan, ia kembali pada yang tiada berwujud, mengalir pada yang tiada bercorak. Ia kembali pada ketiadaan sepenuhnya.

Pohon itu telah roboh dan ialah akhir dari masa-masa penciptaannya. Lagu-lagu tak disenandungkan lagi, karena setiap cinta yang berasal dari bumi, air dan udara yang mengalir di setiap buluhnya telah kembali ke alam sebagaimana sebelum ia ada. Pohon itu telah roboh, kini lembarannya pun tertutup dalam gulungan debu waktu. Tiada yang tersisa kecuali cerita yang tak terungkapkan dan tanpa makna.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca