A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Hari itu Sang Guru tak sengaja berpapasan dengan salah seorang muridnya.
Murid itu tersenyum padanya dan kemudian melenggang pergi dengan santai
begitu berpapasan. Sang Guru hanya terdiam sejenak, setidaknya ini
selalu berlangsung sejak si murid memasuki "padepokannya". Guru yang
penasaran itu pun memanggil si murid.
"Do…, kemarilah sebentar" Kata Sang Guru dengan lantang.
Si murid lekas berlari mendekat, "Ya Guru, ada apa memanggilku?"
"Coba kamu lafalkan salah satu sajak pada gulungan bulan purnama yang
kuminta kamu menghapalkannya sejak seminggu yang lalu."
Si murid terdiam sejenak, lalu berkata, "Maaf Guru, kalau yang itu saya
tidak bisa menghapalkannya." Jawabnya dengan tersenyum ringan.
Sang Guru menjadi agak emosi pada muridnya yang paling bodoh ini,
"Kusuruh kamu belajar karena penilaianku padamu paling rendah di antara
murid yang lain, aku tak akan bisa melepasmu ke tengah masyarakat untuk
menunaikan tugasmu yang menanti, bagaimana bisa aku meluluskanmu?"
Si murid pun hanya tersenyum ringan…, dan Sang Guru menjadi tidak
paham, "Mengapa kamu hanya tersenyum seperti itu, tidakkah engkau merasa
khawatir?"
"Maaf Guru, mengapa guru tidak meluluskan saya?"
"Katakan bagaimana bisa meluluskanmu jika engkau tidak memenuhi syaratku
akan hal itu? Itulah keadaannya."
"Jika demikian saya hanyalah tersenyum, karena bagaimana bisa saya tidak
tersenyum jika tiada kekhawatiran bagi saya untuk ada. Itulah keadaannya."
Senyum si murid membuat Sang Guru memahami, "Baiklah…, kapan saja kamu
dapat meninggalkan tempat ini, tugas belajarmu telah usai, kini saatnya
dunia luas memberikanmu lebih banyak dari apa yang dapat kuberikan."
"Guru…, apa yang dapat diberikan pada saya dan apa yang dapat saya
terima? Saya hanyalah sebuah senyum ini yang Anda lihat setiap saat."
"Ah…" Sang Guru menghela napas, "Kalau begitu mulai besok atau
sekarang juga, kamu boleh menggantikanku sebagai kepala pengurus tempat
ini."

Artikel Baru Terbit

  • Mitos Kesehatan Seksual: Antara Pil KB, Metode Tarik, dan Kloset Umum
    Mitos seputar kesehatan seksual — dari pil KB yang dianggap mencegah IMS hingga anggapan dudukan kloset bisa menularkan penyakit — masih beredar luas. Artikel ini meluruskan sembilan mitos utama dengan data terkini kasus IMS dan HIV di Indonesia, serta menjelaskan akses layanan skrining dan pengobatan gratis melalui JKN.
  • Indah di Mata, Perlu Ditimbang di Ruang Rawat: Bunga, Tanaman, dan Hiasan Dinding dalam Kacamata Pencegahan Infeksi
    Bunga segar, tanaman pot, bingkai, dan relief dinding mempercantik suasana ruang rawat, tetapi dapat menjadi reservoir mikroba, terutama bagi pasien dengan imunitas sangat rendah. Artikel ini menimbang bukti ilmiah terbaru, pedoman CDC, dan konteks Indonesia, lalu menawarkan kerangka zonasi yang praktis agar keindahan ruang dan keselamatan pasien dapat berjalan beriringan.
  • Virus untuk Melawan Kanker: Menimbang Kisah Virolog yang Menjadi Pasien Sekaligus Peneliti
    Seorang virolog Kroasia menyuntikkan virus campak dan virus stomatitis vesikular ke tumor payudaranya sendiri, lalu tumor menyusut dan dapat dioperasi. Kisah ini memicu perdebatan etika dan harapan baru bagi terapi virus onkolitik. Artikel ini menimbang bukti, keterbatasan, dan pelajarannya bagi Indonesia. Ini bukan anjuran mencoba sendiri, melainkan bahan refleksi klinis.
  • Ketika Kelamin Bayi Tak Sesuai “Buku Panduan”: Mengenal Differences in Sex Development
    DSD adalah kondisi kongenital ketika kromosom, gonad, dan anatomi seks seseorang tidak berkembang selaras—bukan gangguan orientasi seksual. Artikel ini mengulas klasifikasi, diagnosis, tata laksana multidisiplin, serta konteks Indonesia: keterbatasan data epidemiologi, stigma sosial, dan jalur hukum penetapan status kelamin lewat pengadilan sesuai UU Adminduk.
  • Ketika Diabetes Mengancam Penglihatan: Mengenal Retinopati Diabetik
    Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca