A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sumpah Hippocrates (Hippocratic Oath) merupakan salah satu landasan hukum dan etik tertua di dunia kedokteran modern. Di luar wacana yang masih memperdebatkan dari mana sesungguhnya rangkaian ini berasal, apakah Hippocrates atau penerusnya ataukah para Pytagoreans, namun secara universal Hippocratic Oath telah menjadi sebuah pegangan bersama para dokter di seluruh dunia. Medical ethics lahir dari sumpah ini, sedemikian hingga mereka yang telah menempa diri dengan pengetahuan, keterampilan dan keahlian dunia medis akan senantiasa menerapkan apa yang didapatkannya sepenuhnya untuk kemanusiaan.

Berikut isi sumpah Hippocrates jika dituangkan ke dalam bahasa Indonesia,

Saya bersumpah demi Appolo sang penyembuh dan Asclepios, Segala Kesembuhan, seluruh Dewa-Dewi, bahwa sesuai dengan kemampuan dan penilaian,

Saya akan menaati sumpah dan perjanjian ini dengan menghormati orang-orang yang mengajarkan Seni ini pada saya selayaknya orang tua saya, berbagi pengetahuan dengannya, dan meringankan bebannya bila diperlukan; memandang anak-anaknya seperti saudara-saudara saya sendiri, dan mengajarkan mereka Seni ini, bila mereka ingin mempelajarinya, tanpa biaya atau imbalan, dan melalui bimbingan, ceramah dan cara-cara pembelajaran yang lainnya, saya akan mengajarkan pengetahuan Seni ini kepada anak-anak saya, dan anak-anak guru saya dan kepada siswa-siswa yang terkait perjanjian atau sumpah sesuai dengan hukum dunia kedokteran, namun tidak kepada pihak-pihak lain.

Saya akan menaati sistem prosedur kesehatan yang sesuai dengan kemampuan dan penilaian saya, saya akan memperhatikan kepentingan pasien saya, dan tidak akan melakukan hal-hal yang membahayakan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Saya tidak akan memberikan obat yang mematikan kepada siapa pun bila diminta, atau tidak akan memberikan saran untuk itu; dalam bentuk apapun.

Saya tidak akan memberikan obat untuk melakukan aborsi kepada wanita, dan dengan ketulusan dan kesucian, saya akan menjalani hidup saya dan mempraktekkan Seni ini.

Saya tidak akan membedah orang tetapi akan memberikan hal ini dikerjakan oleh orang yang dapat mengajarkannya. Di rumah mana pun yang saya kunjungi, saya akan mendatanginya untuk kepentingan si sakit, dan akan menjauhi tindakan penyelewengan dan korupsi dengan sengaja; dan selanjutnya menjauhkan diri dari rayuan wanita dan pria baik dari golongan orang merdeka maupun budak.

Apa pun, yang berhubungan dengan praktek profesional atau tidak berhubungan dengannya, yang saya lihat atau dengar selama saya hidup, yang tidak boleh disebarluaskan, saya tidak akan menyebarluaskan hal-hal yang harus dirahasiakan itu. Selama saya memegang teguh sumpah ini, semoga saya dikarunia kebahagiaan hidup, dan praktek Seni ini dihormati oleh semua orang selamanya. Tapi bila saya melanggar sumpah ini, semoga kebalikannya yang terjadi pada saya.

Isi sumpah Hippocrates ini dikutip dari buku “Medical Ethics” oleh Tarmizi Taher, M.D. Sedangkan versi bahasa asli dan bahasa Inggrisnya bisa dilihat di situs Wikipedia Online. Mungkin dahulu profesi kedokteran sangat dihormati baik oleh masyarakat maupun yang mengemban sendiri, namun kini banyak pergeseran sosial yang terjadi, seakan-akan profesi dokter hanyalah “tukang bantu” yang “bekerja” untuk membantu “menyembuhkan” si sakit, sedangkan nilai seni kedokteran dan kemanusiaan yang ada bersamanya seakan menghilang tertelan oleh paradigma baru di dunia modern ini. Namun di balik semua keluh kesah dan tuntutan akan keprofesionalismean seorang tenaga medis atau dalam hal ini dokter, tetap ada terlihat mereka di antara yang banyak yang masih bermekaran dengan kuntum-kuntum kemanusiaan yang luar biasa memukau.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca