Pada suatu waktu, terdapatlah seorang anak yang hidup sendiri. Ia tak pernah ingat bagaimana ia bisa tinggal dan hidup di antara kumuhnya kota-kota pinggiran di dekat tanah berpasir di negerinya itu.

Ia tak berbeda dengan anak-anak “tak berada” lain yang ada di pertemuan jalan yang sama. Berjuang untuk tetap hidup di antara sudut-sudut pemukiman yang kejam.

Sepanjang musim kering adalah neraka bagi mereka yang tinggal di sana. Air sungai mulai menipis walau tak sepenuhnya berhenti mengalir, namun di beberapa tempat kolam-kolam air yang tersisa hanyalah seperti genangan lumpur bagi hewan-hewan liar untuk meneduhkan diri. Orang yang berada pun merasakan kesulitan dan siksa yang luar biasa dari kondisi alam ini. Apalagi mereka yang tak punya, namun neraka seperti inilah yang mereka kenal selama mereka dapat mengingatnya.

Banyak penduduk yang jatuh sakit di musim kering seperti ini. Demikian juga si anak yang malang ini, sayangnya jangan kan untuk membeli obat yang paling murah pun, bahkan hampir tak pernah memiliki koin untuk membeli sepotong roti. Dalam upaya yang nyaris putus asa, ia melangkahkan kaki kecilnya dengan seok yang tertarih-tatih ketika matahari hendak terbenam. Ia tahu hidupnya tak mungkin lama, mengingat ia telah banyak menyaksikan bagaimana orang-orang senasib di sekitarnya akan segera mati ketika mereka mulai menunjukkan kondisi seperti dirinya saat ini.

Dulu pernah di dengarnya sebuah legenda, tentang seorang dukun yang ahli pengobatan yang tinggal di hutan lebat di pegunungan, beberapa jam dari kotanya. Ia berharap dapat menemukan orang yang dimaksud, karena berita yang tak jelas mengatakan banyak orang telah disembuhkan oleh kebaikan hati sang dukun.

Malam telah larut ketika ia memasuki pinggiran hutan. Kakinya telah penuh oleh luka dan darah oleh perjalanan yang gila itu. Namun itu tak dihiraukannya, sepanjang hidupnya ia sering mendapatkan luka yang lebih hebat dari itu. Ia hanya khawatir, jika ada binatang buas yang mencium aroma darah, mungkin nyawanya akan melayang bukan karena sakit.

Namun sepertinya, kali ini ia masih cukup beruntung. Ia menemukan sebuah pondok kayu di tengah tanah yang agak lapang dengan nyala api unggun di luarnya, serta beberapa artifak aneh berbagai ukuran tersebar di sekitar api unggun itu. Pasti inilah rumah si dukun, pikir anak itu. Ia pun memompakan semangat terakhirnya untuk mencapai pondok tersebut.

Namun ketika ia baru saja mencapai sisi api unggun, seorang kakek tua keluar dengan melalui pintu pondok yang terbuka dengan suara reot yang menyayat hati. Si kakek melihat anak itu dengan keheranan dan menghampirinya.

“Nak…, mengapa engkau memilih menyusahkan diri untuk datang kemari?”

Dalam napas yang tersisa hanya beberapa helai, anak itu berusaha mengeluarkan suara terakhirnya, “Tuan…, katakanlah, apakah saya akan mati.”

“Tentu saja Nak.” Jawab si kakek tanpa pikir panjang tampaknya.

Seketika itu juga si anak jatuh tergolek di pinggir nyala api seakan makin membumbung ke langit. Angin bertiup lemah membuat rerumputan tak kuasa untuk membungkuk.

Si anak tampaknya tersenyum, ia telah jauh berupaya dengan segenap dayanya untuk sampai ke sini. Kini ia telah mendapat jawabnya, ia akan mati. Pertanyaan yang selalu mengganggunya selama ini, apakah ia akan mati dan semua berakhir, ataukah ia akan terus hidup dan menjalani hidup yang sama lagi. Kini untuk pertama kalinya ia bisa melihat kembali sebuah langit malam dengan taburan bintang tanpa ada awan yang menutupi. Entah mengapa hanya saja malam ini semuanya tampak begitu jelas, seakan tak ada yang menghalangi antara ia dan langit, seakan ruang sesak yang ada di antara mereka kini telah kosong.

Api unggun tetap tak acuh berkobar-kobar, namun tampaknya yang tersisa kemudian hanyalah sebuah saat yang kosong.

Artikel Baru Terbit

  • Gangguan Penyesuaian: Ketika Tekanan Hidup Membuat Kita Kewalahan Beradaptasi
    Gangguan penyesuaian adalah respons emosional atau perilaku yang mengganggu fungsi setelah stresor psikososial seperti pindah tugas, kehilangan pekerjaan, atau konflik berkepanjangan. Artikel ini membahas gejala, pembeda dari depresi dan gangguan lain, risiko bunuh diri, serta terapi berbasis bukti.
  • Ketika Layar Ponsel Berbisik Bohong: Membedakan Fakta dan Hoaks Kesehatan di Tengah Banjir Informasi
    disinformasi kesehatan menyebar cepat melalui faktor psikologis, algoritma media sosial, dan kesenjangan literasi digital. Di Indonesia, pola hoaks kesehatan berulang mencakup klaim medis palsu, penyalahgunaan citra otoritas, hingga modus phishing. Metode SIFT, verifikasi ke sumber resmi, dan peran aktif tenaga kesehatan menjadi kunci membendung dampaknya terhadap keselamatan pasien dan kepercayaan publik.
  • The Greater Silence
    Selebritas mana yang ingin Anda temui, dan apa yang ingin Anda bicarakan? I And I dreamed a dream, and in my dream I saw two roads stretching before the soul. And the first road was paved with the dust of books and the echoes of a thousand voices. And at its end there sat a… Read more: The Greater Silence
  • Kamis Keamanan Siber: Patch Tuesday Pecah Rekor 1.413 Celah, Kasus ASOS, dan Zero-Day FortiMail
    Patch Tuesday Oktober 2026 menambal rekor 1.413 celah, ASOS dibobol lewat pihak ketiga, dan zero-day FortiMail masih diburu. Ini yang perlu kamu cek.
  • On Becoming Good
    Apa makna menjadi pribadi yang baik? On Becoming Good And a youth said, Speak to us of becoming good. And he answered, saying: You ask of goodness as one might ask of a river, “Where is your destination?” But the river knows not its ending, only its flowing. To become good is not to arrive… Read more: On Becoming Good

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar Cahya Legawa
    Cahya Legawa

    Terima kasih Bli, namanya juga "kosong", tidak ada pengharapan apa pun, bukankah kita kadang menghadapi kenyataan yang seperti itu?

  2. Avatar Manik
    Manik

    Sangat menyentuh dan mendebarkan… tapi endingnya rasanya kok kurang dramatis dan sedikit menggantung (pendapat orang awam nih)… atau memang sengaja ya..?

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca