Dikisahkanlah, bahwa selama perang dahsyat di Kurukshetra yang berlangsung selama delapan belas hari, Vyasa yang malang – perasaannya begitu terkoyak oleh sesal yang sedemikian hebatnya, karena dua keluarga yang berperang adalah garis keturunannya. Ia tidak tahan melihat pembantaian yang besar-besaran ini, ia pun meninggalkan lokasi perang saudara ini.
Suatu hari dalam rasa sesal dan sedih yang mendalam, Vyasa meninggalkan medan yang terendam darah itu dengan segera, di mana pembunuhan besar-besaran akan terjadi lagi pada hari berikutnya.
Dengan bergegas, ia melihat seekor laba-laba berlari sama tergesa-gesanya di atas pasir.
“Mengapa engkau begitu tergesa?” Tanya Vyasa.
Laba-laba itu berlari melewati jalan, dan mendaki pada gundukan rumah semut, dari tempat yang paling tinggi yang ia bisa capai itu ia menjawab, “Tidakkah kau tahu bahwa kereta perang Arjuna akan lewat di tempat ini! Jika aku sampai tergilas rodanya, habislah riwayatku.”
Vyasa tertawa mendengar jawaban si laba-laba, “Tidak ada mata yang basah jika engkau mati! Dunia tidak akan kehilangan jika engkau tewas, engkau tidak akan meninggalkan kekosongan jika engkau lenyap.”
Laba-laba itu amat tersinggung mendengar kata-kata Vyasa, ia merasa terhina, dengan gemetar dalam amarah ia pun berteriak, “Demikiankah menurutmu petapa sombong! Pikirmu akankah kehilangan besar bagi dunia jika engkau mati, sementara aku sama sekali tidak dihiraukan? Aku pun mempunyai istri dan anak-anak yang aku cintai. Aku pun memiliki rumah dan persediaan makanan. Aku pun melekat pada kehidupan dengan penuh ketabahan seperti kalian. Aku pun merasa lapar, haus, sedih, bahagia, sakit dan gembira sertanya pilunya jika berpisah dengan sanak keluarga. Dunia sama berartinya dalam diriku dan bagiku, seperti halnya juga bagi manusia dan makhluk lainnya.”
Vyasa tertunduk dan pergi diam-diam, sambil menggumamkan bait “Saamaanyam ethath pasubir naraani” – bagi semua bentuk kehidupan manusia maupun hewan, hal-hal itu adalah sama.
Tetapi ia berkata pada dirinya sendiri, “Rasa ingin tahu yang mutlak akan menjadi kerinduan yang mendalam akan keindahan, kebenaran dan kebaikan, kesadaran akan adanya persatuan mendasar, seperti sewujud kebijaksanaan yang merupakan harta terindah manusia.” – Vyasa pun melanjutkan perjalanannya.
Frambusia adalah infeksi kulit kuno akibat bakteri sekerabat sifilis yang menyerang anak-anak di wilayah terpencil, namun bisa sembuh total dengan satu dosis azitromisin. Artikel ini mengulas gejala tiga tahapnya, tantangan diagnosis di lapangan, dan status terkini eliminasi frambusia di kantong-kantong endemik Indonesia timur.
Mycetoma, kromoblastomikosis, dan sporotrikosis adalah tiga infeksi jamur dalam yang masuk lewat luka kecil di kulit petani dan pekerja kebun. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis, dan tata laksananya berdasarkan panduan WHO SEARO, dilengkapi kasus nyata kromoblastomikosis dari Sumba yang menyingkap kesenjangan diagnosis di Indonesia timur.
Filariasis limfatik atau kaki gajah bukan sekadar bengkak biasa, melainkan hasil kerusakan sistem getah bening bertahun-tahun akibat cacing yang ditularkan nyamuk. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis, manajemen limfedema tujuh tahap, dan tantangan unik Indonesia sebagai satu-satunya negara dengan tiga spesies cacing filaria sekaligus.
Setiap kali rumah sakit direnovasi, debu konstruksi membawa risiko infeksi jamur yang bisa mengancam nyawa pasien imunokompromais. Artikel ini mengulas metode ICRA—dari matriks klasik hingga pembaruan ASHE ICRA 2.0—bukti ilmiah di balik aspergilosis terkait konstruksi, kedudukannya dalam regulasi Indonesia, serta praktik terbaik yang seharusnya diterapkan setiap fasilitas kesehatan.
Perpindahan ke Linux sering kali menimbulkan “kejutan budaya” bagi pengguna baru yang terbiasa dengan Windows atau macOS. Tantangan meliputi manajemen paket yang asing, ketersediaan software, masalah driver, penggunaan command line, dan pilihan distro. Adaptasi lebih mudah bagi developer, power user, dan gamer, sementara pengguna awam mungkin kesulitan. Kesiapan mental dan pemilihan distro yang tepat sangat penting untuk transisi yang baik.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
21 tanggapan
Aliaz
Islam pun mengajarkan untuk menyayangi binatang.
Dalam percakapan antara pertapa dan laba-laba diatas, mengilustrasikan bahwa kehidupan binatang selayaknya manusia, yaitu berkeluarga. Sehingga menjadi pertimbangan bagi kita sebelum membunuh atau menyakiti binatang.
Hewan dan tumbuhan bagian dari semesta yang luas, saya kira apa pun agamanya, mestilah menjaga alam ini agar lestari. Sekarang sepertinya kepedulian ini menurun sejalan dengan eksplorasi manusia terhadap alam yang menghasilkan eksploitasi berlebihan 🙁
Tinggalkan Balasan