A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Dulu ada seekor anjing liar yang suka datang ke rumah. Mungkin karena waktu itu kami masih memelihara anjing sendiri. Anjing liar itu diberi nama “Asing”, dan hampir rata-rata penduduk di sini memang memanggilnya demikian.

Biasanya dia datang di saat jam-jam kami memberi makan pada anjing peliharaan kami. Sehingga ia lumayan jinak, walau bukan berarti peliharaan. Kadang ia bisa pergi beberapa hari, dan muncul lagi selama beberapa hari. Bisa dibilang dalam bahasa para mangaka, Asing adalah sosok “Rounin”.

Ia mungkin sudah menjadi bagian dari lingkungan, dan di antara anjing-anjing di lingkungan, maka sosok “Rounin” si Asing paling disegani, sehingga anjing-anjing lain enggan mencari masalah dengannya. Hal ini seringakali membuatku nyaman jika berjalan-jalan dengan Xie Lee (baca: Cili) – anjing perliharaanku, karena sering kali ancaman anjing liar atau pun rumahan yang tidak ramah bisa diminalisir sejak Asing ikut jalan-jalan juga.

Baru-baru ini aku mendengar kabar, sudah seminggu lebih Asing tidak menampakkan diri di lingkungan kami. Ya, diduga dia menjadi korban penembakan. Lha, kok penembakan sih? Ya, jelas saja, belakangan isu penyakit rabies lumayan santer di wilayah kami, jadi daripada harus mengeluarkan biaya lebih untuk memvaksinasi anjing liar, juga berarti meningkatkan risiko tergigit saat berusaha menangkap dan memvaksin, mungkin lebih baik anjing-anjing itu dibunuh saja langsung.

Ah…, kadang aku berpikir, kita manusia dapat melakukan apa saja untuk kelangsungan hidup kita. Walau itu berarti mengorbankan yang lain. Tapi sering kali kita menutup mata dan telinga akan kenyataan ini disekitar kita.

Well, jika Asing memang sudah tidak ada lagi. Maka biarlah demikian adanya. Rasanya, hidupnya sebagai “Rounin” juga sudah cukup menderita.

Terkirim dari telepon Nokia E71 | http://www.legawa.com

Artikel Baru Terbit

  • Mitos Kesehatan Jiwa yang Masih Dipercaya: Membedah Stigma di Balik Fakta
    Mitos seputar kesehatan jiwa—dari anggapan bahwa gangguan jiwa langka hingga stigma “gila” pada skizofrenia—masih membebani masyarakat Indonesia. Data SKI 2023 mengungkap kesenjangan akses pengobatan yang lebar dan praktik pemasungan yang bertahan. Artikel ini membedah sebelas mitos populer dengan bukti ilmiah dan konteks kebijakan kesehatan jiwa nasional.
  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca