Pertanyaan bagaimana mencari suasana yang nyaman, enak, atau tenang untuk menulis kadang sering terlontarkan – mungkin oleh pikiran kita sendiri – pada diri kita. Jika saya bertanya bagaimana pada diri saya, maka mungkin saya sendiri tidak bisa memberikan jawabannya.
Saya mungkin balik bertanya pada diri saya, sebenarnya suasana yang nyaman itu seperti apa? Karena beberapa orang mungkin akan menghilangkan niatnya guna mulai menulis jika tidak menemukan suasana yang nyaman. Saya rasa jika seseorang mencari suasana yang nyaman, itu mungkin karena saat ini ia merasa tidak cukup nyaman untuk menulis.
Saya tidak tahu pastinya, namun saya rasa tidak dengan menghindari suasana yang sekarang ada kita dapat menulis dengan baik, kecuali suasana itu sangat mengganggu, semisal ada live band di dekat Anda berada. Mungkin itu juga bukan suasana yang nyaman, namun suasana yang tenang.
Jika ketenangan bisa membantu Anda mulai menulis, maka temukanlah tempat yang cukup tenang. Tapi belum tentu juga tempat itu membuat anda merasa nyaman. Kadang ingat beberapa hal yang mengganjal, sehingga tidak bisa menulis dengan baik. Maka selesaikan dulu hal-hal yang mengganjal, karena itu tidak bisa terselesaikan dengan sendirinya bukan?
Beberapa orang nyaman menulis di sofa empuk, dengan meja bergaya gothic, di ruangan yang agak luas dengan berbagai tanaman hias menghijau, suhu udara diatur baik dengan AC, dan segelas kopi hangat sebagai pemicu otak. Yang lain mungkin cukup dengan duduk di gubuk kecil, beralaskan tikar, dan udara persawahan yang kental, serta jajanan pedesaan yang khas sebagai pendamping.
Anda mungkin memiliki kebiasaan yang berbeda. Namun semuanya tetap satu hal, di sana tidak ada gangguan. Jadi intinya adalah, singkirkan semua hal yang bisa mengganggu secara lege artis ketika Anda berencana untuk mulai menulis. Dan sisanya akan kembali pada diri anda sendiri.
Ambil napas panjang, hembuskan perlahan dan penuh, lalu biarkan semua mengalir dalam tulisan.
Sedikit alunan musik yang sesuai dengan kepribadian anda mungkin akan sangat membantu 🙂
Tulisan ini menggambarkan bagaimana sejarah dipengaruhi oleh kekuasaan, membentuk narasi pahlawan dan penjahat. Ia menyoroti kompleksitas moral, bahwa individu bisa berperan dalam kejahatan atau pahlawan berdasarkan konteks. Penting untuk mengakui berbagai perspektif dan menahan diri dari menyederhanakan narasi demi pemahaman yang lebih mendalam tentang kemanusiaan.
Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2026 fokus pada penyakit tidak menular dengan tema “Safe care for life!”. Penyandang penyakit kronis berisiko tinggi mengalami cedera akibat interaksi berulang dengan sistem kesehatan. Artikel ini menjelaskan pentingnya keterlibatan pasien dalam keselamatan layanan serta implementasi pesan WHO dalam konteks kesehatan Indonesia.
Diabetes melitus gestasional adalah gangguan toleransi glukosa yang muncul saat hamil, memengaruhi hingga 14% kehamilan secara global. Di Indonesia, kondisi ini sering luput terdeteksi karena keterbatasan data nasional. Skrining rutin usia 24–28 minggu, tata laksana nutrisi, dan pemantauan pascasalin jangka panjang menjadi kunci mencegah komplikasi ibu dan bayi.
WHO menerbitkan agenda riset global untuk pengobatan tradisional, komplementer, dan integratif (TCIM) dari 2025 hingga 2034, menyoroti kesenjangan antara tingkat penggunaan yang tinggi dan pendanaan riset yang rendah. Indonesia memiliki pengguna TCIM yang besar, namun belum menyusun komitmen riset formal seperti negara lain, membuka peluang baru untuk pengembangan.
Bayi baru lahir kerap menampakkan tanda yang mengkhawatirkan namun jinak — ruam berpindah, bersin, napas tak teratur — sementara tanda paling berbahaya justru nyaris tak terlihat: hipotermia, menyusu buruk, dan terlalu anteng. Artikel ini memetakan keduanya dalam tiga jalur keputusan, agar orang tua tahu kapan menunggu dan kapan berangkat.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
15 tanggapan
hazmy
artikelnya bagus mas , salam kenal semoag kita bisa jadi teman , ini link blog saya , maap masih jelek mas hehe 😀
Hazmy, terima kasih. Saya sudah baca blog Hazmy, dan sepertinya kurangnya komentar karena memang ada masalah dengan borang tanggapannya. Sepertinya ada markah yang mengalami galat sehingga orang tidak bisa meninggalkan komentar di sana, coba diperbaiki dulu :).
Nggak ada kebiasaan khusus sih, Bli. Kalo ada ide, saya biasanya langsung catet, kalo enggak, bisa lupa tuh. Kalo nunggu suasana dulu, bisa-bisa malah nggak jadi nulis, deh 🙂
hm….. keknya waktu yang tepat untuk nulis yang pas malam hari saat anak2 dan istriku sudah kelelahan dengan permaenan game nya 😆 . tapi yang paling penting juga pas koneksi lancar, jadi mood nulis juga bisa enteng. gak tahu ada ngak korelasinya ❓ mungkin karena aku saat nulis sering klik sana-sini mampir kemana2 jadi ide juga datang.
Tinggalkan Balasan