Pertanyaan bagaimana mencari suasana yang nyaman, enak, atau tenang untuk menulis kadang sering terlontarkan – mungkin oleh pikiran kita sendiri – pada diri kita. Jika saya bertanya bagaimana pada diri saya, maka mungkin saya sendiri tidak bisa memberikan jawabannya.
Saya mungkin balik bertanya pada diri saya, sebenarnya suasana yang nyaman itu seperti apa? Karena beberapa orang mungkin akan menghilangkan niatnya guna mulai menulis jika tidak menemukan suasana yang nyaman. Saya rasa jika seseorang mencari suasana yang nyaman, itu mungkin karena saat ini ia merasa tidak cukup nyaman untuk menulis.
Saya tidak tahu pastinya, namun saya rasa tidak dengan menghindari suasana yang sekarang ada kita dapat menulis dengan baik, kecuali suasana itu sangat mengganggu, semisal ada live band di dekat Anda berada. Mungkin itu juga bukan suasana yang nyaman, namun suasana yang tenang.
Jika ketenangan bisa membantu Anda mulai menulis, maka temukanlah tempat yang cukup tenang. Tapi belum tentu juga tempat itu membuat anda merasa nyaman. Kadang ingat beberapa hal yang mengganjal, sehingga tidak bisa menulis dengan baik. Maka selesaikan dulu hal-hal yang mengganjal, karena itu tidak bisa terselesaikan dengan sendirinya bukan?
Beberapa orang nyaman menulis di sofa empuk, dengan meja bergaya gothic, di ruangan yang agak luas dengan berbagai tanaman hias menghijau, suhu udara diatur baik dengan AC, dan segelas kopi hangat sebagai pemicu otak. Yang lain mungkin cukup dengan duduk di gubuk kecil, beralaskan tikar, dan udara persawahan yang kental, serta jajanan pedesaan yang khas sebagai pendamping.
Anda mungkin memiliki kebiasaan yang berbeda. Namun semuanya tetap satu hal, di sana tidak ada gangguan. Jadi intinya adalah, singkirkan semua hal yang bisa mengganggu secara lege artis ketika Anda berencana untuk mulai menulis. Dan sisanya akan kembali pada diri anda sendiri.
Ambil napas panjang, hembuskan perlahan dan penuh, lalu biarkan semua mengalir dalam tulisan.
Sedikit alunan musik yang sesuai dengan kepribadian anda mungkin akan sangat membantu 🙂
Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
15 tanggapan
hazmy
artikelnya bagus mas , salam kenal semoag kita bisa jadi teman , ini link blog saya , maap masih jelek mas hehe 😀
Hazmy, terima kasih. Saya sudah baca blog Hazmy, dan sepertinya kurangnya komentar karena memang ada masalah dengan borang tanggapannya. Sepertinya ada markah yang mengalami galat sehingga orang tidak bisa meninggalkan komentar di sana, coba diperbaiki dulu :).
Nggak ada kebiasaan khusus sih, Bli. Kalo ada ide, saya biasanya langsung catet, kalo enggak, bisa lupa tuh. Kalo nunggu suasana dulu, bisa-bisa malah nggak jadi nulis, deh 🙂
hm….. keknya waktu yang tepat untuk nulis yang pas malam hari saat anak2 dan istriku sudah kelelahan dengan permaenan game nya 😆 . tapi yang paling penting juga pas koneksi lancar, jadi mood nulis juga bisa enteng. gak tahu ada ngak korelasinya ❓ mungkin karena aku saat nulis sering klik sana-sini mampir kemana2 jadi ide juga datang.
Tinggalkan Balasan