A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Suatu ketika Yaksha (mahluk setengah dewa) mencegat dan menghentikan Pandawa bersaudara ketika hendak minum air dari sebuah danau. Satu per satu para Pandava yang datang bergiliran mendapatkan pertanyaan dari Yaksha, dan karena tidak mampu menjawab dengan tepat, maka satu per satu mereka mati.

Datanglah Dharmaraja yang paling sulung di antara kelima Pandawa terakhir kali. Dan ia dapat menjawab pertanyaan Yaksha dengan amat baik. Maka Yaksha berkata padanya, “Baiklah, engkau dapat menghidupkan kembali salah satu dari keempat saudaramu yang terbaring di sini dan membawanya serta bersamamu.”

Dharmaraja menghadapi pilihan yang sulit, pun demikian dia tidak memerlukan waktu yang lama untuk memilih. Ternyata ia tidak meminta agar Bhima atau Arjuna dihidupkan kembali, walau mereka adalah tangan kanan dan tangan kiri baginya. Ia memilih Nakula, dan hal ini tentu membuat Yaksha bertanya mengapa.

Dharmaraja menyampaikan, “Aku, Bhima dan Arjuna adalah Putra Kunti – ibuku, sedangkan Nakula dan Sahadewa adalah Putra Madri – ibuku yang lainnya. Jika ibuku memiliki aku yang masih hidup, maka aku ingin ibu Madri juga memiliki salah satu putranya tetap hidup, dan karena itulah kupilih salah satu putranya.”

Yaksha yang kagum dan bercampur gembira mendengar jawaban ini menghidupkan kembali semuanya. Dan Pandawa pun meneruskan perjalannya kembali.

Kisah ini terdapat dalam Yaksha Prashna, juga dikenal sebagai Dharma Baka Upakhyan – kisah-kisah tentang kerangka kebijaksanaan. Yaksha Prashna muncul pada bagian Wana Parwa pada kisah Mahabharata, ketika Pandawa menjalani pengasingan selama 12 tahun di hutan.

Kisah ini dapat dibaca di “Yudhistira meets Yaksha” – kredit gambar berasal dari situs tersebut.

Adaptasi dari Chinna Katha III hal. 52.

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Diabetes Mengancam Penglihatan: Mengenal Retinopati Diabetik
    Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
  • Ketika Diabetes Menjadi Kegawatdaruratan: Mengenal Ketoasidosis Diabetik
    Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
  • Bukan Sekadar Pikun: Menyimak Pedoman Nasional Tata Laksana Demensia 2026
    Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia 2026 memberikan panduan untuk penanganan demensia di Indonesia. Dengan jumlah penderita yang diproyeksi meningkat, pedoman ini mencakup diagnosis, penanganan, dan strategi pencegahan. Kaya akan rekomendasi medis, hal ini penting untuk memastikan perawatan yang efektif bagi pasien demensia.
  • Satu Kali Kejang, Lalu Apa? Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Epilepsi Dewasa 2026
    Kejang pertama pada orang dewasa tidak otomatis berarti epilepsi, tetapi tidak boleh diabaikan. Artikel ini merangkum Pedoman Nasional Pelayanan Klinis epilepsi dewasa 2026: cara membedakan kejang dari pingsan, pertolongan pertama yang benar, peran pemeriksaan penunjang, prinsip terapi, hingga tantangan stigma dan akses obat di Indonesia. Untuk awam dan tenaga kesehatan.
  • Sang Peniru Ulung yang Bisa Diobati: Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Sifilis
    Indonesia kini memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sifilis (KMK 291/2026). Artikel ini merangkum stadium penyakit, alur tes serologi, terapi penisilin, tindak lanjut, penanganan pasangan, serta perlindungan ibu hamil dan bayi, disertai catatan kritis agar fasilitas kesehatan, dari Puskesmas hingga rumah sakit rujukan, siap menerapkannya dengan aman dan konsisten.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

5 tanggapan

  1. Avatar aldy
    aldy

    Pralambang keadilan kembali ditunjukan oleh Dharmaraja. Tetapi dari Pandawa, saya menyukai tokoh Arjuna. Tokoh ini mengingatkan saya tokoh besar negeri ini, jika marah dia tidak mencak-mencak seperti Bhima, tetapi malah tersenyum.

  2. Avatar Cahya

    Mas Pushandaka,

    Saya juga suka Bhima, karena dia polos dan selalu mengikuti kata hatinya mesti kadang sembrono. Bhima adalah cerminan kepatutan, jika orang tidak mampu menjadi sebijak Dharmaraja, sangat baik ia bisa mencerminkan seorang Bhima.

  3. Avatar orange float

    suka sekali baca cerita seperti ini 😀

  4. Avatar Agung Pushandaka
    Agung Pushandaka

    Saya sebagai penggemar Bima, kadang-kadang iri melihat kenapa Yudhistira bisa berbuat searif itu dan disayangi para dewa. Tapi, hal itu ndak mengurangi kebanggaan saya terhadap karakter Bima. 🙂

  5. Avatar Dresti_yasa2000
    Dresti_yasa2000

    SALAM KENAL BLI….KAPAN-KAPAN KALAU PULANG KE BALI CALL SAYA YA…

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca