Adakah di sini sebuah jalan di mana kita dapat mengakhiri konflik dan penderitaan tanpa menghancurkan kecerdasan yang kreatif dan keutuhan yang sempurna? Dapatkah bisa hadir kehidupan yang nir pilihan, itu dia, dapatkah di sini ada sebuah aksi tanpa keinginan penyangkalan atau agresif?
Dapatkah hadir tindakan yang begitu spontan dan semuanya itu bebas dari konflik yang saling bertentangan? Dapatkah hadir sebuah hidup akan kesempurnaan tanpa proses yang menghancurkan dari disiplin, penyangkalan, ketakutan, dan keputusasaan?
Apakah keadaan pemahaman yang mendalam ini dapat dimungkinkan? Saya bertanya-tanya, berapa banyak dari Anda semua yang amat sadar akan konflik ini dalam medan perang batin.
Sebuah kehidupan sempurna, sebuah kehidupan dalam tindakan tanpa pemilihan, sebuah kehidupan yang bebas dari proses-proses menghancurkan dari penghilangan dan penggantian, adalah sesuatu yang mungkin.
Bagaimana kondisi ini direalisasikan? Sistem-sistem serta metode-metode tidak dapat menghasilkan tingkat kebahagiaan batin ini. Kondisi kehidupan nir pilihan ini haruslah hadir secara alami, secara sendirinya, ia tidak dapat ditemukan. Ia tidak untuk dipahami atau direalisasikan pun dicapai melalui sebentuk disiplin, melalui sebuah sistem.
Orang dapat mengondisikan batin melalui latihan, disiplin dan paksaan, namun kondisi seperti itu tidak dapat menghidupkan pikiran ataupun membangkitkan kecerdasan yang mendalam. Sebuah batin yang terlatih seperti itu merupakan sebuah tanah yang gersang.
Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
5 tanggapan
Fadhly
Kunjungan di pagi hari mas… 😀
Sudah lama rasanya saya tidak berkunjung ke blog mas ini…hehee
alam mikrokosmis di dalam diri memang ibarat medan kuruksetra, tempat berbagai problems silih berganti harus diselesaikan, sebagai bekal pembenahan diri menuju kesempurnaan.
Itulah kesempurnaan hidup yang melewati indahnya perbukitan, lembah, tebing, ombak. Dan ternyata kesemuanya itu terasa nikmat setelah berhasil melewatinya bukan kenikmatan untuk diam ditempat..
bangun pagi krn dipeluk2 gita, sarapan sama2 ga pake berantem, jalan ke sekolah (gita) sambil ketawa2, ngantor bisa kerja ga milisan dan chatting, pulang jemput gita denger cerita dia dapat wow words, nemenin belajar ga pake berantem, makan malam sama2 ga pake argumen, baca buku sama2 sambil ketawa2, dan tidur sambil boleh meluk dan cium gemes2.
dan, jauh di sana ada hati yang akhirnya mau mencintai *amin*
juga, punya sahabat yang selalu ngasih semangat biar lewat blog dan facebook dan email dan sms
Saya tidak mau berfikir rumit mas, apapun istilahnya dan apa saja yang harus saya tabrak, pada akhirnya saya cuma mencoba membuat hidup ini lebih baik. Kesempurnaan? terlalu tinggi.
Tinggalkan Balasan