Gangguan cemas adalah salah satu masalah kesehatan yang bisa jadi serius jika tidak dikelola dengan baik. Jika Anda menderita suatu gangguan cemas, Anda bisa jadi memerlukan bantuan profesional. Temui dokter anda untuk mendapatkan rujukan pada seorang ahli kesehatan jiwa.
Meski yang saya adaptasi dari “Understanding Anxiety Prevention” berikut ini bukanlah sebuah terapi untuk gangguan cemas, namun tips berikut dapat membantu mengurangi gejala-gejala cemas:
Jaga kesehatan tubuh anda dengan makan diet seimbang. Termasuk multivitamin jika And tidak sempat mengatur diet dengan baik.
Hindari alkohol, dan kurangi atau hilangkan konsumsi kopi dan gula.
Berikan diri anda waktu privat selama setidaknya 20 menit sehari. Misalnya melakukan relaksasi atau melakukan sesuatu yang membuat Anda merasa nyaman sedemikian hingga bisa mengurangi tingkat kecemasan secara menyeluruh.
Lakukan penjadwalan yang baik pada kegiatan anda, lakukan hanya yang esensial menurut Anda. Dan hindari kegiatan yang membuat Anda sulit relaks dari waktu ke waktu.
Buatlah sebuah jurnal kecemasan. Peringkatkan tingkat kecemasan anda dari 1 – 10. Catat kejadian-kejadian di mana Anda menjadi cemas, dan pikiran-pikiran apa yang datang datang & pergi sebelum, saat dan setelah cemas berlalu. Coba lacak apa-apa yang menyebabkan kecemasan anda bertambah dan berkurang.
Jika Anda mulai tersengal-sengal (hiperventilasi), maka ambillah sebuah kantong kertas, atau sejenisnya dan hembuskan napas anda ke dalam kantong kertas tersebut lalu tarik napas kembali dengan menghirup udara yang Anda hembuskan ke dalam kantong kertas tadi. Ini akan menambah jumlah karbon dioksida yang Anda hirup, yang mana bisa membantu mengurangi desakan hiperventilasi. Menghirup dari kantong kertas bisa membantu mengurangi pusing dan rasa tidak nyaman yang mungkin Anda rasakan.
Beberapa klinisi memiliki aturan “rough rule of thumb” guna mencegah gangguan cemas: cobalah menghindari pelbagai makanan atau minuman yang berwarna cokelat (misalnya daging merah, cokelat, teh, kopi, soda dan anggur merah).
Studi fase 3b terbaru di JAMA Network Open melaporkan 54% perempuan dengan ISK tanpa komplikasi merasakan gejala membaik dalam 24 jam setelah gepotidacin. Namun desain studinya satu lengan, tanpa pembanding dan tanpa penyamaran. Artikel ini membedah angka, keterbatasan, keamanan, serta relevansinya bagi praktik klinis dan pengendalian resistansi antibiotik di Indonesia.
Bahu adalah sendi paling sering mengalami dislokasi di tubuh manusia—dan salah tangani bisa berujung ketidakstabilan berulang. Artikel ini mengulas mekanisme cedera, lesi Bankart dan Hill-Sachs, protokol reduksi dan imobilisasi terkini, hingga kapan operasi seperti Bankart repair atau Latarjet diperlukan, lengkap dengan konteks layanan ortopedi di Indonesia.
Laporan Direktur Regional WHO Pasifik Barat untuk periode Juli 2025–Juni 2026 memuat bab khusus Indonesia. BPOM naik kelas sebagai WHO Listed Authority dan wabah polio dinyatakan selesai, tetapi hanya 5% penderita hipertensi yang terkendali dan cakupan campak dosis kedua masih 78%.
WHO merilis paket panduan 2026 untuk mencegah penyakit akibat panas di acara massal. Intinya: nilai risiko sejak awal, pasang pelindung berlapis seperti air minum, area pendingin, dan jalur rujukan, tentukan tingkat eskalasi sebelum acara, serta ubah pesan “minum air” menjadi arahan yang didukung layanan nyata. Relevan bagi penyelenggara di Indonesia.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
ya..karena setiap manusia biasa pasti memiliki perasaan cemas..was-was…maka dengan pengendalian diri dan membiasakan diri mengatasinya melalui sikap mental positif, tentu masalah kecemasan bisa diatasi dengan cara yang sangat sederhana sekali…. 🙂
Saya rasa setiap orang memiliki rasa cemas dalam dirinya, setidaknya suatu potensi untuk itu. Namun jika itu justru membuat gangguan pada aktivitas sehari-hari (tidak bisa dikelola secara mandiri), baru kita menyebutnya sebagai gangguan cemas :).
Tinggalkan Balasan