A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Masih ingat tulisan saya tentang memesan tiket Lion Air via ATM? Saya beberapa hari yang lalu mencoba memesan tiket maskapai besar dalam negeri – Garuda Indonesia via e-booking juga, berkali-kali gagal karena mengalami galat sistem. Rencana saya serupa, yaitu memesan tiket Garuda Indonesia secara daring (online), dan kemudian membayarnya via ATM. Apalagi karena saya lihat waktu itu, untuk hari yang saya inginkan, harga tiket Garuda Indonesia lebih murah dibandingkan dengan tiket Lion Air.

Saat saya berhasil melalukan inisiasi salah satu hari untuk pemesanan tiket, saya tidak melihat ada pilihan untuk membayar via ATM. Semua pilihan e-booking menggunakan fasilitas pembayaran via kartu kredit yang tentunya saya tidak memilikinya.

Kemudian saya terpaksa melaju kendaraan sejauh 30 km untuk mendapatkan tiket Garuda Indonesia dari official ticketing office-nya. Dan saya jadi kaget sekali, bahwa harga tiket di sana menjadi dua kali harga tiket yang ditawarkan di Internet untuk penerbangan yang sama. Singkat cerita, kita tidak bisa mendapatkan best price melalui pembelian luring hanya via e-booking saja.

Pasca kejadian ini, saya menghubungi pihak Garuda Indonesia secara tertulis via surat elektronik. Dan ternyata pihak Garuda Indonesia memang membenarkan bahwa e-booking hanya bisa dilakukan dengan kartu kredit.

Jawaban dari pihak Garuda Indonesia tentang e-booking

Kebijakan pihak Garuda Indonesia ini akan jadi pertimbangan bagi saya jika ingin memesan tiket pesawat secara daring, maka sebaiknya saya memilih maskapai Lion Air saja, meski untuk harga terendah tampak sedikit lebih mahal, namun setidaknya akan tetap terjangkau dan mudah didapatkan di ATM di mana saja dengan kartu debit/ATM. Kecuali Garuda Indonesia mengubah kebijakan ini di masa depan, mungkin saya juga akan mengubah pertimbangan saya.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

6 tanggapan

  1. Avatar alief

    iya bli, sampai sejauh ini yang saya tahu maskapai penerbangan yang menerima pembayaran melalui atm/internet banking baru lion air. dan berhubung aku tinggal di hutan, ya maskapai ini yang selalu menjadi pilihan kalau memesan tiket secara online

    1. Avatar Cahya

      Lha, buat apa dong mesin ATM banyak sekali pilihan pembayaran penerbangannya :D. Tapi sepertinya sih begitu saja ya :).

      1. Avatar alief

        buat hiasan kali bli… 😛

        oh ya, ternyata batavia juga bisa lewat atm bli, setidaknya dengan bank mandiri. tapi yang aku heran dari pihak bank mandirinya, baik melalui atm atau internet banking mencantumkan GI, sebagai salah satu maskapai penerbangan yang pembayaran tiketnya bisa melalui mereka.

        bai the way bus way, ini mau ke jogja apa ke bali bli?

      2. Avatar Cahya

        Saya sekarang sedang di Jogja, minggu depan baru balik ke Bali ke sebentar, paling pakai bus saja :D. Ya itulah anehnya, ibaratnya ada iklan tapi produk tidak ditemukan di pasaran :).

  2. Avatar Nandini

    mau Garuda mau Lion yang penting bisa bolak balik Bali Jogja 😆

    1. Avatar Cahya

      Pakai bus saja kalau begitu ;).

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca