A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Siang ini saya membaca artikel yang cukup menarik, bahwa reptil termasuk juga amfibi seperti kura-kura, kadal, dan katak bisa membawa kuman berbahaya yang bernama Salmonella. Jadi jika ada anak-anak di rumah kita, maka memelihara reptil bisa jadi bukan pilihan aman bagi kesehatan mereka.

Baik di luar negeri maupun di Indonesia, reptil dan amfibi adalah hewan yang tidak terlalu jarang dipelihara. Ada orang yang suka memelihara iguana, tokek, katak, ular, bahkan juga bunglon karena hewan ini cukup pendiam namun warnanya sangat menarik. Saya pun waktu kecil setelah memiliki akuarium, ingin juga membuat terrarium dengan reptil di dalamnya, seperti pada film animasi Rango.

Permasalahannya adalah reptil dan amfibi kerap membawa serta kuman yang cukup berbahaya bagi kesehatan manusia, yaitu Salmonella. Mungkin kebanyakan orang berpikir bahwa infeksi Salmonella biasanya datang dari makanan yang terkontaminasi, namun kuman ini juga bisa datang melalui orang yang berinteraksi langsung dengan hewan, termasuk reptil dan amfibi. Demikian halnya, kontak dengan lingkungan reptil atau amfibi, seperti air akuarium ataupun tumbuhan di dalam terrarium.

Contoh terrarium dengan kura-kura (image source: exo-terra.com)

Infeksi Salmonella dapat menyebabkan sakit dengan diare, mual-muntah, demam, kadang dengan kram perut. Kadang karena seriusnya penyakit yang disebabkan, penderita harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Anak-anak, manula dan mereka yang daya tahan tubuhnya bermasalah/kurang biasanya lebih rentan dengan bentuk infeksi yang serius dari Salmonella. Jika parah, maka Salmonelladapat menyebar dari usus ke peredaran darah dan kemudian ke bagian tubuh lainnya serta dapat menyebabkan kematian kecuali penderita mendapatkan pertolongan dengan antibiotik.

Risiko cukup besar ada pada anak-anak, karena anak-anak daya tahan (sistem kekebalan tubuhnya) sedang berkembang, sementara anak-anak juga memiliki kecenderungan untuk menyentuh sesuatu langsung dengan tangan dan memasukkan tangan/jari atau sesuatu ke dalam mulutnya. Anda tidak akan bisa membayangkan anak anda mungkin mencoba mengecup atau mencicipi iguana peliharaan anda. Maka dari itu disarankan, bagi keluarga yang memiliki balita di rumahnya, sebaiknya menghindari memelihara hewan reptil atau amfibi.

Hewan reptil dan amfibi bisa jadi memiliki kuman Salmonella pada tubuh mereka, meskipun mereka tampak bersih dan sehat. Dan kuman juga bisa menempel pada kandang, dinding kaca akurium atau terrarium, air lingkungan hidup, dan tempat-tempat lain di mana mereka hidup. Setiap benda yang disentuh reptil bisa dipertimbangkan terkontaminasi Salmonella, sebagaimana juga jika Anda menyentuh mereka. Inilah penting bagi setiap orang untuk selalu mencuci tangannya dengan bersih pasca menyentuh hewan, dan membersihkan kandang mereka secara berkala.

Berikut adalah beberapa tips untuk mengurangi risiko infeksi Salmonella dari reptil atau amfibian.

  • Cuci tangan anda segera setelah menyentuh hewan-hewan ini, gunakan sabun dan air mengalir, jika tidak tersedia, setidaknya hand sanitizer akan membantu. Demikian juga tempat yang mereka sentuh di sekitar rumah anda, yang mungkin akan menjadi kontak dengan orang, misalnya tidak sengaja ada tokek yang jadi di perabotan makan anda.
  • Orang dewasa harus selalu mengawasi anak-anak mencuci tangannya, karena kadang mereka tidak mencucinya dengan baik.
  • Jangan biarkan anak balita menyentuh hewan reptil dan amfibi, atau apapun yang berada di areal hidup hewan itu, termasuk air akuarium/terrarium.
  • Jangan bawa masuk ke dalam rumah hewan reptil dan amfibi jika di rumah ada anak balita atau orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah (termasuk orang yang sedang sakit).
  • Jangan memelihara reptil atau amfibi di tempat penitipan anak, taman kanak-kanak, dan lokasi lain di mana anak balita berkumpul dan beraktivitas.
  • Jangan menyentuh mulut anda atau orang lain pasca menyentuh reptil atau amfibi, hindari makan dan minum di sekitar hewan ini.
  • Jangan biarkan reptil dan amfibi berkeliaran bebas di dalam rumah di mana makanan dan minuman disimpan, disiapkan ataupun dihidangkan, seperti misalnya dapur.
  • Bersihkan kadang, akuarium dan terrarium mereka secara berkala di luar rumah dengan hati-hati, gunakan sarung tangan sekali pakai saat membersihkan. Jika membuang air akuarium atau terrarium, pastikan anda tidak membuangnya secara sembarangan, anggap sebagai limbah penuh kuman, sehingga jangan juga digunakan untuk menyiram tanaman pangan di kebun anda.
  • Jangan mandikan atau bersihkan hewan-hewan ini di bak pencucian dapur, jika anda menggunakan kamar mandi, pastikan kamar mandi segera dibersihkan setelah itu – gunakan disinfektan untuk mematikan kuman-kuman secara menyeluruh.
  • Cuci segera pakaian/sandang yang disentuh oleh reptil atau amfibi.
  • Gunakan sabun atau disinfektan untuk membersihkan setiap permukaan yang disentuh oleh reptil.

Saya sendiri lebih suka membiarkan mereka di alam bebas, jadi tidak perlu repot dengan semua itu. Namun sepertinya karena kamar saya agak berantakan, jadi sekaligus banyak reptil (baca: cicak) yang suka tinggal di sini. Saya sih tidak keberatan, karena adanya belasan cicak di sini, jadi saya tidak begitu perlu khawatir dengan nyamuk yang banyak atau laba-laba yang membuat sarang di langit-langit kamar, mereka membersihkannya semua. Dan setelah itu mereka bebas berjalan-jalan ke manapun, saya tidak suka hewan yang mesti diam di satu tempat atau kandang. Lagi pula Undang-Undang RI no. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya tidak akan membenarkan penangkapan hewan dan merusak ekosistemnya jika hanya untuk kesenangan, saya rasa begitu, maklum membaca semua isinya.

Artikel Baru Terbit

  • Siklotimia: Ketika “Naik-Turun Suasana Hati” Bukan Sekadar Karakter
    Siklotimia adalah gangguan mood kronis yang ditandai ayunan hipomania dan depresi ringan selama minimal dua tahun, sering disalahartikan sebagai kepribadian labil. Artikel ini membahas kriteria diagnostik DSM-5-TR, risiko berkembang menjadi bipolar, serta tata laksana yang menempatkan psikoterapi sebagai lini pertama sebelum farmakoterapi.
  • Buah Delima dan Jantung yang Kaku: Mengenal Urolithin A, Harapan Baru untuk Gagal Jantung HFpEF
    Urolithin A, senyawa yang dihasilkan dari konsumsi buah delima, menunjukkan potensi dalam mengobati gagal jantung HFpEF dengan memperbaiki relaksasi otot jantung melalui aktivasi protein PKGIα. Meskipun hasil uji pada hewan dan jaringan manusia menjanjikan, uji klinis pada pasien masih diperlukan sebelum penerapan terapi ini.
  • Cyclospora: Parasit Mikroskopis yang Mengintai di Balik Sayuran dan Buah Segar
    Wabah cyclosporiasis melanda ratusan warga Amerika Serikat pada musim panas 2026, disebabkan parasit mikroskopis Cyclospora cayetanensis yang mencemari sayur dan buah segar. Artikel ini mengulas biologi parasit, gejala diare “meledak-ledak”, tantangan diagnosis laboratorium, terapi TMP-SMX, hingga relevansinya bagi keamanan pangan dan kewaspadaan klinis di Indonesia.
  • Ngopi Pagi di Sragen, Otot Lebih Padat: Apa Kata Riset Terbaru soal Kopi dan Komposisi Tubuh?
    Studi kohort Finlandia menemukan bahwa peminum kopi rutin memiliki lemak viseral lebih rendah dan massa otot lebih tinggi meskipun indeks massa tubuh serupa dibanding peminum kopi jarang. Pada pria, konsumsi kopi juga terkait dengan profil testosteron dan SHBG yang lebih baik, namun studi ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.
  • Faktor Kesuburan Pria: Sisi yang Sering Terlewat dalam Pencarian Momongan
    Faktor pria berkontribusi pada sekitar separuh kasus infertilitas pasangan, namun sering luput dari pemeriksaan awal. Artikel ini mengulas standar analisis sperma terbaru WHO edisi keenam serta bukti terkini mengenai pengaruh rokok, alkohol, berat badan, paparan panas, dan konsumsi gula terhadap kualitas dan integritas DNA sperma.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

8 tanggapan

  1. Avatar Catastrova Prima

    haduh, untung kura-kura sudah dipindah di belakang rumah, jd muridku tidak bisa lagi bermain dengan mereka :))

    1. Avatar Cahya

      Prima, jangan-jangan dipindah agar tidak kamu jadikan sup atau sate :D.

  2. Avatar Asop

    Hehe, padahal katanya reptil itu binatang yang mudah dipelihara ya… 🙂

    1. Avatar Cahya

      He he…, maksudnya mudah bukan berarti murah lho Mas, yah katanya ular cuma perlu makan seminggu atau dua minggu sekali. Asal tidak dilepas di kandang ayam tetangga saja :D.

  3. Avatar gadgetboi

    kirain saya salmonella hanya terdapat di ikan salmon hehehe 😀

    1. Avatar Cahya

      Ha ha…, ikan salmon bisa saja sih ada kumannya juga, tapi apa ada ya di Indonesia :D.

  4. Avatar jarwadi

    wah, disekitar rumah saya, di kebun, ada banyak kadal, kodok, dll

    bahaya nih

    1. Avatar Cahya

      Nah, kalau itu sih biasa Pak, kita kan negara tropis kaya akan plasma nutfah, yang penting jaga kebersihan dan kehigienisan saja :).

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca