A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Suatu hari Herb berjalan-jalan ringan di pinggiran hutan tak jauh dari kota kecilnya. Tanpa sengaja ia menemukan seikat kebahagiaan tergeletak begitu saja, dan tampaknya orang yang berlalu lalang tidak terlalu peduli akannya. Herb pun lalu memungut seikat kebahagiaan ini, dan membawanya berjalan pulang ke kotanya.

Tak begitu jauh dari batas kotanya, ia menemukan Alan sedang duduk dengan wajah yang murung di antara padang luas yang dipenuhi dandelion. Herb pun datang mendekati sahabat baiknya itu.

Ini, ambilah” Herb menyerahkan setangkai kebahagiaan dari seikat yang sedang ia bawa.

Seketika Alan terperanjat dengan wajah penuh suka cita, “Kawan, terima kasih, aku senang sekali, tapi apakah tidak apa-apa aku menerima ini?

Tidak apa-apa kawanku, itu setangkai kebahagiaan untukmu, dan tenang saja, aku masih punya seikat.” Jawab Herb, seraya memberi isyarat tangan mengajak Alan kembali ke kota.

Mereka pun berjalan pulang ke kota. Alan senang sekali, dan entah bagaimana, dia berpikir sahabatnya pasti sangat beruntung sekali bisa memungut seikat kebahagiaan. Di gerbang kota, mereka bertemu dengan anak kecil yang sedang menangis, Herb kembali memberikan setangkai kebahagiaan, dan anak itupun seketika bergembira lagi.

Dan kemudian, di dekat balai kota, di depan perpustakaan kota, Herb memberikan setangkai kebahagiaan pada orang-orang yang ia temui. Pada awalnya Alan senang, namun kini ia mulai tampak khawatir. Ia menyarankan agar Herb tidak terlalu ringan tangan membagi seikat kebahagiaannya, atau tidak akan ada yang tersisa nantinya, namun Herb mengatakan pada sahabatnya bahwa mereka tak perlu mengkhawatirkan apapun.

Demikianlah berlanjut terus, hingga mereka tiba di depan pintu rumah Alan, dengan seikat kebahagiaan Herb yang sudah habis semua dibagikan pada warga kota.

Alan mulai protes lagi, “Lihatlah, apa yang kubilang, kini tidak setangkai-pun kebahagiaan tersisa untukmu.”

Ah, sahabatku, mengapa kamu begitu emosi, itu hanya setangkai dan seikat kebahagiaan, mereka tidak abadi, mereka datang dan pergi seperti musim semi ini.” Herb tersenyum pada sahabatnya.

Tapi jika kamu tidak boros membagikannya – aku tak bilang itu hal yang buruk, tapi setidaknya kamu masih memiliki kebahagiaan jika mengikuti kata-kataku.” Alan berseru, melihat betapa konyolnya sahabatnya itu.

Ha ha…, kawan, sejak kapan sebuah kebahagiaan bisa dimiliki, ia adalah bagian dari napas kehidupan. Lihatlah, aku baru saja memberikan setangkai kebahagiaan padamu di luar kota tadi, dan kini ia sudah layu dan gugur.”

Alan tersentak dan terdiam menyadari kata-kata sahabatnya.

Jangan mengejar kebahagiaan yang tak kunjung datang berkunjung ke dalam kehidupan kita, atau kamu akan murung seperti kutemukan tadi. Jangan menahan kebahagiaan yang kita miliki saat ini, atau dia akan layu dan gugur. Jangan memanggil kebahagiaan yang telah berlalu, atau kita tak akan mampu menerima kebahagiaan yang sedang datang menghampiri.”

Herb tersenyum lembut pada sahabatnya, sementara matahari sudah hendak membenamkan diri. Dia kemudian menjetikkan jarinya, “Ah, ini dia, aku menemukan seikat kebahagiaan lagi tepat di depan pintu rumahmu – tergeletak begitu saja.” Herb mengejutkan Alan ketika ia memungut seikat kebahagiaan yang selama ini tak pernah dilihat Alan. “Nah, kurasa ini diperuntukkan bagimu kawan, jika aku boleh aku hanya akan meminta setangkai agar kamu tidak memprotesku lagi.”

Alan tersenyum menerima seikat kebahagiaan dari depan pintu rumahnya, kini ia tahu mengapa selama ini ia murung. Ia memejamkan matanya sejenak, dan berterima kasih pada sahabat baiknya. Ketika ia membuka mata, sahabatnya telah lenyap dari pandangan demikian juga dengan matahari, namun ia justru menyaksikan sesuatu yang luar biasa, kerlap-kerlip seikat kebahagiaan yang betebaran dan tergeletak di mana-mana, sementara orang-orang berlalu lalang begitu saja tanpa mengacuhkannya.

Kebahagiaan dan kehidupan adalah sebuah untaian yang tak terpisahkan. Bagi mereka yang mengejar kebahagiaan, jangan kaget jika nantinya Anda tak pernah menemukannya. Bagi mereka yang menahan kebahagiaan, jangan heran jika nantinya semua itu sirna. Bagi mereka yang merindukan kebahagiaan dari masa lalu, jangan bersedih jika seandainya Anda melewatkan kebahagiaan yang datang dan pergi tanpa Anda hiraukan.

Bagi Anda yang selalu menerima setiap waktu dan sadar akan setiap saatnya, mungkin akan terkejut jika suatu ketika pintu anda terketuk dan kebahagiaan memasuki relung anda ketika membukanya. Dan ketika itu tiba, Andalah sang Kebahagiaan.

Artikel Baru Terbit

  • Mitos Kesehatan Jiwa yang Masih Dipercaya: Membedah Stigma di Balik Fakta
    Mitos seputar kesehatan jiwa—dari anggapan bahwa gangguan jiwa langka hingga stigma “gila” pada skizofrenia—masih membebani masyarakat Indonesia. Data SKI 2023 mengungkap kesenjangan akses pengobatan yang lebar dan praktik pemasungan yang bertahan. Artikel ini membedah sebelas mitos populer dengan bukti ilmiah dan konteks kebijakan kesehatan jiwa nasional.
  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

8 tanggapan

  1. Avatar Ningrum

    keren…..

  2. Avatar Ladeva

    Who is Herb and Alan?

    1. Avatar Cahya

      Hmm…, it could be me, it could be you Deva, they could be anybody.

  3. Avatar imadewira

    Kebahagiaan datang silih berganti dengan cobaan. Lalu bagaimana caranya agar tetap bisa bahagia saat menerima cobaan?

    1. Avatar Cahya

      Saya tidak tahu, tapi selama kita melekat pada sebuah konsep cobaan, saya kira kita sudah mengurangi sebagian tempat dalam kehidupan kita di mana kebahagian dapat hadir.

  4. Avatar indobrad
    indobrad

    kuncinya ada di: pay it forward 😀

  5. Avatar Melvin
    Melvin

    kurang ngerti, tapi intinya setiap orang akan merasakan kebahagiaan kan 🙂

    1. Avatar Cahya
      Cahya

      Melvin, ya bisa dikatakan seperti itu dalam sebuah sudut pandang.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca