Desember ini ada kabar gembira bagi pengguna Linux dengan Desktop KDE, karena ada fonta baru dari keluarga sans serif yang sedang dirancang untuk salah satu desktop termanis ini. Oxygen font – demikian sebutannya saat diperkenalkan di New Typhography sekitar seminggu yang lalu.
Fonta asli KDE yang lama memang agak “menusuk” mata, setidaknya itu menurut saya, namun tentunya tidak sedikit yang menyukainya. Saya sering kali harus menggunakan setelan tambahan pada dekstop KDE untuk mendapatkan fonta yang pas. Ini juga yang membuat saya lebih menyukai GNOME karena memberikan sisi yang lebih ramah, coba saja lihat distribusi Linux berbasis GNOME dengan fonta asli yang nyaman di mata – ala Ubuntu misalnya.
Namun kini tampaknya sisi tipografi telah mendapatkan kembali perhatiannya di KDE.
The basic concept for ‘Oxygen Font’ was to design a clear, legible, sans serif, that would be rendered with Freetype on Linux-based devices. The idea was to not quite follow a ‘purist’ line of sans serif typeface formula, but to allow some juxtapositioning of font forms to give familiarity but also a sense of newness. A version of the font is also under development that is aimed to be a branding typeface for the desktop.
Jadi mari kita nantikan saja desain Verno Adams ini, bagaimana dia akan tampil pada antarmuka desktop KDE masa depan.
Karena jika hanya dilihat sepintas, sepertinya pas sekali dengan plasma desktop yang selama ini menjadi andalan KDE. Maka jangan salah jika mungkin nanti pengguna GNOME-pun mencoba menerapkan fonta ini pada dekstop-nya.
Glaukoma sudut tertutup akut terjadi ketika aliran cairan mata mendadak tersumbat sehingga tekanan bola mata melonjak. Kenali gejalanya yang sering menyerupai migrain atau sakit perut, pahami penanganan darurat dan laser iridotomi, serta mengapa rujukan di hari yang sama dapat menyelamatkan penglihatan.
Gigitan anjing membawa risiko ganda — infeksi bakteri dan rabies yang hampir selalu fatal begitu bergejala. Data Kemenkes RI mencatat 185.359 kasus GHPR dan 122 kematian pada 2024. Pencucian luka 15 menit dengan sabun-air, vaksin antirabies sesuai kategori paparan, serta rujukan ke Rabies Center adalah tiga langkah penyelamat nyawa yang wajib dipahami masyarakat dan tenaga kesehatan primer.
Catatan memasang openSUSE Tumbleweed berdampingan dengan Windows 11 di Dell Latitude 3440: shrink partisi, BitLocker, GRUB2 EFI, hingga audio yang sempat senyap.
Kolangitis akut adalah infeksi saluran empedu yang terjadi ketika aliran empedu tersumbat, paling sering oleh batu. Kenali gejala demam, kuning, dan nyeri perut kanan atas, pahami kriteria diagnosis serta derajat keparahan menurut Tokyo Guidelines 2018, dan ketahui mengapa drainase empedu tepat waktu bisa menyelamatkan nyawa.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
25 tanggapan
nubitux
@iskandaria
kembali ke masalah selera :D, saya suka dgn tema Kneda-nya Chakra, dan tampilan font-nya jg lebih smooth, kalo di openSUSE saya musti utak-atik lg biar lebih smooth
@nubitux,
Mungkin Chakra yang Anda gunakan adalah versi terbaru (yang sudah menggunakan KDE 4.7). Jadi, kemungkinan sudah ada perbaikan dari sisi grafis dan juga tampilan font-nya. Sebenarnya saya tidak sedang membicarakan soal selera sih, melainkan cuma masalah penglihatan saya pada tampilan desktop KDE di Chakra versi 2011.09 dan ketika saya bandingkan dengan openSUSE 12.1 versi KDE, terutama dari sisi tampilan grafisnya (bukan soal font dan tema). Tapi mungkin penglihatan saya kurang tepat 😉
Kalau saya lihatnya malah di mana-mana sama saja, mau di openSUSE, mau di Kubuntu, ataupun Gentoo, sepertinya ndak ada yang beda dengan KDE, entahlah kalau sampai detilnya :D.
Memuat…
iskandaria
Hmm, lumayan ada perbaikan kalau melihat screenshot di atas. Btw, sejauh yang pernah saya coba, tampilan desktop KDE yang paling bagus yaitu di openSUSE 12.1 (dari sisi grafisnya). Kalau dari fonta, ya begitulah “ciri khas” KDE 🙂 Syukurlah sudah mulai ada upaya perbaikan.
Nubitux, belum sih, Chakra itu kan turunannya Arch jika tidak salah.
Memuat…
nubitux
awalnya memang turunannya Arch, tapi sekarang udah jd distro independen, sayang reponya gak ada di mirror lokal, kalo ada udah saya pake cuz bener2 KDE-oriented 😀
Tergantung sih desktop-nya, kalau KDE kan memang terkenal “berlemak”, apalagi mau pakai banyak aplikasi, kalau bandwidth lemah, siap-siap saja kena serangan jantung.
Memuat…
nubitux
bandwith menjadi salah satu alasan saya menggunakan fedora dan openSUSE, DeltaRPM memang keren 😀
Memuat…
iskandaria
@Nubitex,
Saya pernah nyobain Chakra Linux (versi 2011.09). Tapi tampilan desktop KDE di Chakra versi tersebut menurut saya tidak lebih bagus daripada yang di openSUSE 12.1
Nggak tahu kalau di Chakra versi terbaru (2011.12). Mungkin ada peningkatan kualitas grafis, soalnya versi KDE-nya sudah menggunakan versi 4.7
Memuat…
Melvin
di lihat dari screenshot, tampilannya sedikit halus dan tambah indah 😀 (hanya bisa memandang keindahannya :()
Melvin, ha ha…, KDE kan memang dari dulu selalu identik dengan Dekstop yang elegan, setelah sempat dituduh mengkhianati GNU dengan menggunakan Qt pada zaman dahulu kala.
semakin halus … semakin mantaf … saya pun semakin familier dengan menu dan tampilan KDE daripada GNOME3 hehehe 😀 … ketika LXDE dan XFCE belum bisa dikuasai, GNOME3 mengecewakan, saya lebih baik merangkul KDE walau sedikit berat untuk system saya.
Tinggalkan Balasan