Hampir setiap anak yang tumbuh di Bali mengenal Pan Balang Tamak, baik hanya sekadar namanya maupun juga kisahnya. Dia adalah potret kecerdikan dalam banyak sisi, dan di sisi lain adalah dianggap sebagai sebuah bentuk kebobrokan yang selalu lari dari tanggung jawab sosial (baca: adat) di lingkungan tempatnya tinggal. Dalam pola pandang masyarakatnya, ia menjadi sosok yang tidak disuka, namun kecerdikannyalah yang pada akhirnya membuat masyarakat mengalah dan memujanya.
Namun saat ini, mungkin justru semakin banyak orang yang kembali mencoba mencari kebenaran dalam filosofi Balang Tamak, terutama mereka yang merasa terhimpit dengan kata-kata “tanggung jawab sosial”.
Lukisan “Pan Balang Tamak” – salah satu yang saya temukan dengan sumber yang sulit ditelusuri balik.
Karena memang tidak bisa kita pungkiri, tidak semua orang berada dalam kondisi ekonomi dan kemapanan yang baik – dan ketika keadilan sosial tidak merata, maka setiap tambahan beban akan dicoba untuk dicari keringanannya – termasuk yang bernama tanggung jawab sosial. Saya jamak mendengar kisah keluhan mereka yang harus ikut menjalankan tanggung jawab adat, sehingga tidak jarang membuat wirausaha yang menafkahi keluarganya sendiri terbengkalai. Atau warga-warga yang dipunguti iuran atas nama adat yang begitu mencekik bagi keluarga tertentu – atau kadang bahkan menyasar pada mereka yang justru seharusnya mendapatkan dukungan ataupun santunan.
Sehingga dalam titik pandang tertentu, konsep Balang Tamak bisa menjadi juru selamat – ibaratnya Robin Hood yang hidup dalam legenda. Di sinilah problematika itu muncul, ketika ada tuntutan sosial melebihi sumber daya yang dimiliki masyarakat dalam lingkup sosial tersebut, haruskah dipenuhi yang bermakna mencekik diri sendiri, ataukah dihindari yang bermakna sanksi sosial tentunya.
Cystic fibrosis adalah kelainan genetik langka yang mengganggu transpor cairan di paru, pankreas, dan organ lain, menyebabkan infeksi paru berulang serta gangguan pencernaan. Meski jarang di Asia, kasus tetap ditemukan di Indonesia. Artikel ini membahas patofisiologi, diagnosis melalui uji keringat, serta era baru terapi CFTR modulator dan tantangan aksesnya.
Studi fase 3 UP-AA1/UP-AA2 di JAMA Dermatology menunjukkan upadacitinib—obat rematik golongan JAK inhibitor—membantu hingga 55% penderita alopesia areata berat menumbuhkan kembali minimal 80% rambut kulit kepala dalam 24 minggu. Meski menjanjikan, obat ini belum disetujui resmi untuk indikasi ini di Indonesia maupun global.
Siklotimia adalah gangguan mood kronis yang ditandai ayunan hipomania dan depresi ringan selama minimal dua tahun, sering disalahartikan sebagai kepribadian labil. Artikel ini membahas kriteria diagnostik DSM-5-TR, risiko berkembang menjadi bipolar, serta tata laksana yang menempatkan psikoterapi sebagai lini pertama sebelum farmakoterapi.
Urolithin A, senyawa yang dihasilkan dari konsumsi buah delima, menunjukkan potensi dalam mengobati gagal jantung HFpEF dengan memperbaiki relaksasi otot jantung melalui aktivasi protein PKGIα. Meskipun hasil uji pada hewan dan jaringan manusia menjanjikan, uji klinis pada pasien masih diperlukan sebelum penerapan terapi ini.
Wabah cyclosporiasis melanda ratusan warga Amerika Serikat pada musim panas 2026, disebabkan parasit mikroskopis Cyclospora cayetanensis yang mencemari sayur dan buah segar. Artikel ini mengulas biologi parasit, gejala diare “meledak-ledak”, tantangan diagnosis laboratorium, terapi TMP-SMX, hingga relevansinya bagi keamanan pangan dan kewaspadaan klinis di Indonesia.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan