Kemarin saya kan mendesain kartu nama sendiri dengan menggunakan Inkscape pada openSUSE. Kemudian desain tersebut, pasca diperbaiki beberapa kali, lalu dikirimkan ke @kartunama untuk dicetak. Memang beberapa kali saya mesti bulak-balik menyuntingnya, termasuk kekeliruan huruf yang untuk diingatkan oleh @andisugandi di menit-menit terakhir.
Hasilnya lumayan bagus, meski bagus itu relatif. Setidaknya mendekati harapan saya dengan bagaimana desain aslinya dan hasil cetakannya. Tapi kalau ditanya desain, ya tentu saja jauh dari bagus, apalagi oleh saya yang baru pertama kali mendesain kartu nama.
Nah, desain aslinya ada di PhotoBucket (bisa dilihat), dan ini adalah hasil cetakannya.
Kartu nama sudah selesai dicetak.
Saya sembarang saja mengambil gambar tersebut. Kartu nama atau business card mungkin akan menjadi sesuatu yang esensial untuk ke depannya.
Dan di akhir kata, setidaknya saya senang dulu belajar Linux, sekarang saya bisa membuat sendiri beberapa hal dasar yang (penting ndak sih?) bisa membuat saya puas mengerjakan sendiri. Kemandirian dan kreativitas adalah hal terbaik yang bisa didapatkan dari menggunakan open source.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
4 tanggapan
@zizydmk
Eh keren deh kartu namanya.
Kalau saya so standar kartu namanya, hanya foto dan keterangan…
Wah, bli Cahya nampaknya sudah nge-fans berat sama openSuse. Sampai pemilihan font di kartu namanya memakai font yang sama dengan logo openSuse.
Kalau background gelap yang di detail kontak itu dibuat agak transparan sedikit lagi atau abu-abu keliatannya oke, bli. Soalnya gambar bunganya udah ciamik.. 😀
Mas Andrean, kalau suka mungkin iya, masa kalau ndak suka saya jadikan sistem operasi utama di komputer :). Kalau pemilihan fonta, memang sepertinya punya openSUSE itu memiliki keterbacaan yang baik.
Saya sudah coba buat yang transparan, namun sepertinya kondisi percetakan tidak mungkin membuatnya – karena kan (ternyata) tidak seperti mencetak foto. Kalau diredupkan menjadi lebih transparan sedikit, saya khawatir tulisannya jadi kabur.
Tinggalkan Balasan