Saya lupa sudah berapa lama tidak menulis di sini, tapi rasanya mungkin sudah ada lebih dari seminggu. Pasca pembekalan di Surabaya akhir bulan yang lalu, kini saya berada di Kota Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Saya akan berada di sini hingga satu tahun ke depan, masa dinas 8 bulan di RSUD Genteng dan 4 bulan sisanya di Puskesmas Sempu.
Dan memang sudah lama saya tidak menyentuh kegiatan klinisi, sehingga perlu cukup banyak beradaptasi kembali. Belum lagi karena perbedaan beberapa terminologi yang memang mesti dibiasakan mencercapnya. Namun perlahan-lahan akan terbiasa juga, setidaknya demikian harapan untuk saat ini.
Karena belum menjelajahi semua wilayah (oleh sebabnya padatnya jadwalnya dinas), saya belum mengenal seluruh wilayah dengan baik, kecuali seputaran rumah sakit.
Pemandangan persawahan pagi hari dari depan tempat tinggal selama di Genteng.
Satu tahun ini saya tinggal di salah satu kost yang lumayan banyak terdapat di sekitar RSUD Genteng. Biaya hidup di sini bisa dikatakan mirip di Jogja, walau mungkin sedikit lebih tinggi dari Jogja ataupun Kota Banyuwangi sendiri yang berjarak satu jam perjalanan ke arah Timur.
Kota ini cukup padat aktivitas, terutama jalanan yang menghubungkan Banyuwangi dan Jember. Saking padatnya, saya mesti benar-benar berhati-hati menyeberang jalan dan mengendarai kendaraan bermotor. Kecelakaan lalu lintas cukup tinggi, namun angka lain yang cukup tinggi yang layak diwaspadai adalah angka ODHA yang terus meningkat. Oleh karena tuntutan profesi, para pekerja medis memiliki risiko tertular HIV/AIDS lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum, sehingga kewaspadaan dini ditekankan di mana-mana.
Saya tidak dapat bercerita lebih banyak lagi. Seminggu belum cukup untuk melihat semua sisi daerah Genteng.
Studi fase 3b terbaru di JAMA Network Open melaporkan 54% perempuan dengan ISK tanpa komplikasi merasakan gejala membaik dalam 24 jam setelah gepotidacin. Namun desain studinya satu lengan, tanpa pembanding dan tanpa penyamaran. Artikel ini membedah angka, keterbatasan, keamanan, serta relevansinya bagi praktik klinis dan pengendalian resistansi antibiotik di Indonesia.
Bahu adalah sendi paling sering mengalami dislokasi di tubuh manusia—dan salah tangani bisa berujung ketidakstabilan berulang. Artikel ini mengulas mekanisme cedera, lesi Bankart dan Hill-Sachs, protokol reduksi dan imobilisasi terkini, hingga kapan operasi seperti Bankart repair atau Latarjet diperlukan, lengkap dengan konteks layanan ortopedi di Indonesia.
Laporan Direktur Regional WHO Pasifik Barat untuk periode Juli 2025–Juni 2026 memuat bab khusus Indonesia. BPOM naik kelas sebagai WHO Listed Authority dan wabah polio dinyatakan selesai, tetapi hanya 5% penderita hipertensi yang terkendali dan cakupan campak dosis kedua masih 78%.
WHO merilis paket panduan 2026 untuk mencegah penyakit akibat panas di acara massal. Intinya: nilai risiko sejak awal, pasang pelindung berlapis seperti air minum, area pendingin, dan jalur rujukan, tentukan tingkat eskalasi sebelum acara, serta ubah pesan “minum air” menjadi arahan yang didukung layanan nyata. Relevan bagi penyelenggara di Indonesia.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan