A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Seberapa sering kita pergi ke pertokoan untuk berbelanja atau sekadar memandang etalase? Kita akan memilih satu barang dan membandingkan dengan penawaran lainnya. Demikian juga dalam dunia kesehatan, orang sering belanja kesehatan yang nilainya kecil.
Yang membuat menarik adalah ada orang-orang yang memang pergi dari satu dokter ke dokter lain dalam satu hari yang sama, hanya karena dia merasa belum sembuh setelah beberapa jam pasca menelan obat dari dokter pertama. Mengapa menarik? Karena tentunya kegiatan belanja dokter ini menandakan ada ketidakberesan dalam sistem kesehatan kita, dan biasanya masalah komunikasi antara dokter dan pasien.
Dokter mungkin lupa bilang bahwa setelah minum obat, demam mungkin bertambah tinggi. Sehingga pasien tidak khawatir pengobatan gagal akan segera mencari pertolongan dokter lain.
Atau pasien mungkin tidak puas dengan pelayanan dokter yang pertama, sehingga kembali mencari pendapat dokter lainnya.
Malangnya, jika pasien ini bertemu dengan dokter yang memiliki pendapat berbeda dari dokter pertama tentang kondisi sakitnya. Pasien ini bisa lari lagi ke dokter ketiga. Dan demikian lah alur ini terus bisa berlanjut.
Proses ini tentu saja tidak tanpa biaya, walau pemeriksaan dan pengobatan gratis karena pelbagai asuransi, pasien masih harus mengeluarkan uang untuk transportasi. Bahkan mungkin masih ada pengeluaran untuk hal lainnya. Oleh karenanya sering disebut sebagai belanja dokter.
Era jaminan kesehatan nasional saat ini, peran dokter keluarga semakin tampak. Orang bisa senang memanfaatkan kartu asuransi untuk berobat ke dokter keluarganya. Jika dia masih belum membaik, bisa kembali ke dokter yang sama untuk berkonsultasi – dan pada akhirnya mengurangi praktik belanja dokter. Dan ujung-ujungnya adalah mengurangi beban biaya kesehatan secara nasional. Hebat bukan?
Hanya saja tentu saja ini tidak sesederhana tulisan pendek saya. Ada banyak masalah di lapangan. Dan ada memang orang yang senang belanja dokter, mungkin itu adalah hobinya, jadi biarkan saja.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar iuef

    🙂 lucu …
    Belanja dokter…

    1. Avatar Cahya

      Mungkin nanti ada belanja pengacara dan lainnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca