A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Virus Zika belakangan ini menjadi topik perbincangan yang hangat di dunia kesehatan Internasional terkait dengan ancaman pandemi yang mungkin dimunculkannya [1. Lucey DR, Gostin LO. The Emerging Zika Pandemic: Enhancing Preparedness. JAMA. Published online January 27, 2016. doi:10.1001/jama.2016.0904.]. Dan Indonesia bisa menjadi wilayah yang menjadi ancaman dari penyebaran virus Zika ini. Virus Zika atau sering disingkat sebagai ZIKV, merupakan flavivirus yang masih berhubungan dekat dengan virus-virus lain seperti Dengue, Demam Kuning (Yellow Fever), dan Ensefalitis Jepang. Mengapa bernama virus Zika? Mungkin karena pada awalnya di temukan di Hutan Zika, Uganda, Afrika. Kemudian menjadi Pandemi di wilayah Amerika Selatan [2. Anthony S. Fauci, M.D., and David M. Morens, M.D. Zika Virus in the Americas — Yet Another Arbovirus Threat. Published online January 13, 2016. DOI: 10.1056/NEJMp1600297], dan meledak kejadiannya di Brazil pada pertengahan 2015.

Penyebaran penyeakit ini melalui gigitan nyamuk spesies Aedes, nyamuk yang sama yang gemar menggigit pada siang hari dan di Indonesia terkenal menyebarkan penyakit Demam Dengue, dan Demam Chikungunya. Keberadaan sepsies nyamuk ini hampir ada di mana-mana, sehingga banyak tempat menjadi potensi penyebarannya.

Infografik virus Zika
Infografik virus Zika. Sumber: coconuts media.

Infeksi virus Zika nyaris tidak memunculkan gejala apapun, sehingga jika Anda terinfeksi virus Zika – bisa jadi tidak akan merasakan kelainan apapun. Jika pun ada, gejalanya akan mirip dengan infeksi virus lainnya seperti demam (peningkatan temperatur tubuh), ruam (bercak-bercak pada kulit), nyeri pada sendi dan otot, serta konjungtivitis (mata merah). Pada kondisi ini, tidak diperlukan pengobatan, cukup istirahat dan penuhi asupan makanan yang bergizi.

Hanya sebagian kecil penyakit yang kemudian berkembang menjadi mengkhawatirkan, seperti memunculkan gejala neurologis (terkait sistem saraf) atau seperti autoimune, bisa menyerupakai sindroma Gullain-Barre. Tapi yang paling mengkhawatirkan adalah kemungkinan hubungan antara infeksi virus Zika dan bayi yang lahir memiliki kepala kecil atau mikrosefali [3. Schuler-Faccini L, Ribeiro EM, Feitosa IM, et al. Possible Association Between Zika Virus Infection and Microcephaly — Brazil, 2015. MMWR Morb Mortal Wkly Rep 2016;65:59–62. DOI: http://dx.doi.org/10.15585/mmwr.mm6503e2%5D.

Oleh karena gejala yang mirip, dan jarang terjadi komplikasi. Deteksi awal infeksi virus Zika akan sangat sulit dilakukan. Saya sendiri belum tahu apakah di Indonesia tersedia uji cepat (rapid test) komersial untuk deteksi awal infeksi virus Zika. Ada beberapa cara yang pernah diujikan, ada yang menggunakan sampel dari saliva/ludah [4. Didier Mussoa, Claudine Rocheb, Tu-Xuan Nhana, Emilie Robina, Anita Teissierb, Van-Mai Cao-Lormeaub. Detection of Zika virus in saliva. Journal of Clinical Virology.
July 2015. DOI: http://dx.doi.org/10.1016/j.jcv.2015.04.021%5D, dan juga lewat urine [5. Ann-Claire Gourinat, Olivia O’Connor, Elodie Calvez, Cyrille Goarant, Myrielle Dupont-Rouzeyrol. Detection of Zika Virus in Urine. Emerg Infect Dis. 2015 Jan; 21(1): 84–86. doi: 10.3201/eid2101.140894].

Bagaimana mencegah infeksi virus Zika? Ini mungkin adalah pertanyaan yang paling sering diajukan masyarakat kita. Berikut adalah beberapa tips yang bisa dilkukan.

Kontrol vektor. Karena vektor atau pembawa virus Zika ini adalah nyamuk spesies aedes, maka mengontrol populasi nyamuk adalah yang bisa kita lakukan. Masyarakat kita sudah banyak mengenal mengenai teknik pengontrolan ini, misalnya dengan gerakan 3G Plus. Cara-cara mengendalikan dengue juga bisa digunakan untuk mengendalikan vektor virus Zika, termasuk pelepasan nyamuk aedes yang telah dimodifikasi. Penggunaan insektisida juga bisa dilakukan, walau kadang terpengaruh oleh musim [6. Surveillance and Control of Aedes aegypti and Aedes albopictus in the United States. CDC: http://www.cdc.gov/chikungunya/resources/vector-control.html%5D.

Komunikasi risiko. Kampanye kesehatan pada masyarakat tidak kalah pentingnya, termasuk bahaya infeksi virus Zika, penggunaan kelambu, penggunaan pengusir nyamuk, serta cara-cara lain untuk menghindari gigitan nyamuk. Termasuk cara-cara mengurangi populasi nyamuk di wilayah pemukiman penduduk. Silakan menghubungi puskesmas terdekat

Peringatan perjalanan. Pastikan Anda melihat pengumuman peringatan perjalanan (travel warning) jika berencana bepergian ke daerah yang sedang mengalami kejadian luar biasa (outbreak) infeksi virus Zika. Tanyakan pada agen perjalanan Anda mengenai setiap risiko kesehatan yang mungkin Anda hadapi di daerah atau negara tujuan.

Sedangkan untuk pengobatan pada infeksi virus Zika, jika tidak ada keluhan bermakna maka pengobatan medis tidak diperlukan. Jika terdapat keluhan bermakna, segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Berikut adalah sejumlah video penjelasan mengenai virus Zika.

Penjelasan tentang virus Zika oleh Kemenkes RI melalui Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat:

Penjelasan tentang virus Zika oleh WHO – Organisasi Kesehatan Dunia.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Rumah Baru, Wajah Baru
    Legawa.com baru saja melakukan pembaruan identitas visual dengan logo baru yang sederhana, menggambarkan matahari di atas awan. Simbol ini merepresentasikan perjalanan penulis dan esai yang dihasilkan. Desain yang bersih dan konsisten diharapkan dapat menjadikan blog ini lebih tenang dan jujur, tanpa elemen yang bersaing.
  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca