Selama ini saya mencoba menulis di Arunametta dengan bahasa Indonesia, dan kesulitan yang paling saya alami selain waktu ternyata bukanlah ide, namun kosa kata. Menempuh beberapa tahun kuliah di mana hampir kebanyakan sumber dan bahan berbahasa asing, saya mengalami penumpulan dalam berbasa Indonesia. Bahkan dengan sembunyi-sembunyi belajar dari para maestro bahasa seperti @ivanlanin, saya masih menemukan bahwa saya memiliki banyak kekurangan yang tidak mungkin diselindungi.
Oleh karena itu, saya iseng saat ini mencoba untuk menulis dalam bahasa Inggris. Bukankah bahasa Inggris jauh lebih sulit dibandingkan menggunakan bahasa Indonesia? Untuk beberapa hal, saya akui itu, namun ada kemudahan yang saya rasakan.
Salah satu sepuhan saya dalam bahasa Inggris, novel “Eiwa”.
Saya boleh bilang, kemampuan berbahasa saya tidaklah baik, oke, jauh dari baik, apalagi sempurna. Baik itu untuk bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Sering melakukan tipo (salah tik) adalah salah satu habitus yang sulit dihilangkan.
Ketika kedua bahasa saya tidak memiliki kemampuan yang bisa dibanggakan, maka pilihan saya adalah menggunakan alat bantu.
Era teknologi berkembang dengan pesat, alat bantu begitu dekat dengan kita. Misalnya media translation (penerjemahan), media proof-reading (ketepatan ejaan dan tata bahasa), hingga media pembelajaran bahasa sastra dan ungkapan sastra.
Ketika saya mulai menulis dalam bahasa Inggris, saya menemukannya jauh lebih mudah dibandingkan dengan menulis dalam bahasa Indonesia. Saya mungkin harus belajar lagi lebih banyak istilah dan kosa kata, namun bantuan yang saya bisa akses jauh lebih banyak dibandingkan dengan saya menggunakan bahasa Indonesia.
Misalnya saya menggunakan Microsoft Word, maka bantuan ejaan yang saya dapatkan cukup kaku, bahkan kadang memberikan kesulitan lebih ketika menggunakan sambungan dan sebagainya. Sementara pemeriksa ejaan bahasa Inggris lebih matang dalam hal ini.
Akses terhadap karya sastra berbahasa Inggris yang bisa didapatkan dengan bebas dan berkualitas sebagai referensi jauh lebih banyak dibandingkan karya sastra lokal. Ini sangat membantu bagi saya. Atau mungkin saya yang kurang pengalaman dalam menemukan mereka?
Sehingga pada akhirnya, saya asyik menceburkan diri dalam menulis kali ini dengan tantangan yang baru.
Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Hai Cahya, lama saya tidak berkunjung ke blog kamu, ternyata saya ketinggalan banyak hal.
Selamat ya untuk situs Arunametta, hebat 🙂 Dan terima kasih untuk artikel ini yang memperkenalkan saya pada Ivan Lanin. Saya juga sedang mengalami penumpulan berbahasa Indonesia :(.
Halo Mbak Ester, lama tidak bertegur sapa. Saya juga belum bisa ke mana-mana, maksudnya mengunjungi halaman teman-teman blogger yang lain.
Terima kasih, Arunametta adalah salah satu pergulatan saya berusaha memperbaiki kelemahan dalam berbahasa.
Yup, walau tidak kenal secara langsung, Mas Ivan Lanin adalah salah satu suar bahasa Indonesia yang paling menarik di dunia maya menurut saya.
Tinggalkan Balasan