A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Seorang penulis bisa memilih sejumlah perangkat lunak (software) yang tersedia di pasaran untuk membantu mereka menghasilkan novel yang gurih, bahkan bagi penulis pemula sekali pun.

Tentu saja yang perlu diingat bahwa, keterampilan menulis tidak bergantung pada alat semata. Alat hanya sebatas pembantu bagi seseorang yang baru belajar menulis novel, atau memang sudah menjadi novelis ternama.

Alat bisa membantu seorang penulis mengurangi ketergantungan terhadap penyunting (editor), apalagi bagi mereka yang akan memilih menerbitkan sendiri manuskripnya.

Beberapa software dalam menulis novel

Pertama-tama, yang paling sederhana adalah Anda perlu perangkat lunak untuk memproses penulisan Anda, atau lebih dikenal sebagai Word Processor. Di sini penulis bisa mengetik karyanya dengan bebas, beserta ide-idenya.

Ada banyak yang tersedia di pasaran, misalnya Microsoft Word, LibreOffice Writer, Google Documents, dan sebagainya.

Semua ada kelebihan dan kekurangannya. Misalnya saja, Microsoft Word dapat dipersenjatai dengan banyak pengaya dan fitur tambahan dari pihak ketiga; sementara itu LibreOffice Writer memiliki keterbukaan, di mana Anda tidak perlu membayar biaya lisensi; sedangkan Google Documents diketahui sebagai yang paling murah dan mumpuni dalam melakukan penulisan kolaboratif.

Kedua, Anda memerlukan perangkat lunak untuk melakukan pemeriksaan ejaan (spell checker hingga proofreader).

Penulis novel dalam bahasa Indonesia jarang memusingkan hal ini, karena novel bahasa Indonesia memiliki kekayaan sastra dan bahasa yang beragam. Tapi kadang, salah ketik bisa jadi terjadi.

Mereka yang menulis dalam bahasa Inggris, bisa memanfaatkan banyak sekali perangkat lunak di luar sana. Saya misalnya memanfaatkan ProWrittingAid, sementara itu ada juga yang memanfaatkan Grammarly atau Microsoft Editor (terikat pada Microsoft 365).

Perangkat lunak ini dapat membantu penulis dalam mendeteksi kesalahaan ejaan, kata-kata klise, kata-kata yang terlalu rumit, ketidakcocokan ejaan, paragraf yang terlalu panjang, penggunaan alternatif thesaurus, dan lain sebagainya.

Ketiga, adalah perangkat lunak untuk menganalisis konten novel Anda. Sayangnya, perangkat lunak ini hanya tersedia bagi novel-novel dalam bahasa asing, terutama dalam bahasa Inggris. Tentu saja beberapa bisa dikondisikan untuk novel berbahasa Indonesia.

Misalnya saja ada tiga yang cukup populer, yaitu Scrivener (proprietary dan berbayar), Manuskript (open source dan gratis), serta bibisco (proprietary dan tersedia lisensi gratis bagi komunitas).

Dengan software tersebut, penulis bisa melakukan analisis terhadap perkembangan alur cerita, pelibatan tokoh, konflik, latar belakang, alur waktu, target penyelesaian sebuah bab, dan sebagainya.

Terakhir, penulis juga mungkin memerlukan tempat kecil untuk sekadar corat-coret keperluan lainnya. OneNote, Evernote, dan sebagainya merupakan aplikasi yang cukup banyak dipilih.

Apakah Anda akan mulai menjadi penulis, maka ketersediaan perangkat lunak yang mumpuni bisa menjadi tangan kanan yang tak tergantikan bersama dengan kreativitas Anda.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar Utari ninghadiyati

    Masih belum.menulis novel tapi berharap suatu hari bisa terwujud. Terima kasih mbak untuk informasinya.

    1. Avatar Cahya

      Siap, ditunggu kehadiran karyanya di kancah sastra nasional Mbak 😊

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca