Sebagai seseorang yang melakukan publikasi tulisan melalui blog, saya selalu berusaha menjaga agar kata-kata yang tulis tetap sedap serta menghindari menulis kata-kata yang kurang senonoh.
Untuk sebuah blog, hal tersebut tidak terlalu sulit dilakukan. Sayangnya, ketika menulis sebuah karya fiksi, cerita pendek, dan sebagainya. Kadang kata-kata untuk memaki, atau sesuatu yang tidak pantas adalah bumbu. Kita tidak bisa menampilkan cermin kehidupan tanpa seluruh sisi tercerminkan.
Di sinilah sensor akan sangat bermanfaat bagi penulis saya. Sensor profanity atau kesononohan sudah lama menjadi bagian dari dunia maya yang sehat.
Apabila konten kita mengandung hal-hal yang kurang layak untuk dikonsumsi publik, ada dua hal yang bisa kita lakukan, pertama membatasi dengan pernyataan bahwa konten hanyalah untuk konsumsi golongan usia tertentu – NSFW misalnya, sedemikian hingga mesin pencari mengenalinya dan tidak akan menampilkannya untuk semua pengguna di luar batasan usia.
Kedua adalah menggunakan sensor, dengan menutup sebagian atau seluruh kata yang dinilai tidak pantas. Sensor dengan plugin seperti WP Content Filter1 bisa digunakan dengan kata-kata yang kita isi sendiri, atau jika menggunakan bahasa Inggris, ada sejumlah konten kata yang dilarang oleh Google2 misalnya bisa dijadikan patokan.
Ketika saya memilih beranda untuk menulis, hal ini belum terpikirkan oleh saya. Namun belakangan ini, pertimbangan ini sudah menjadi sebuah standar yang tidak terhindarkan, dan saya sudah mencoba menerapkannya untuk @arunametta. Ini adalah komitmen bagi saya untuk menjaga internet tetap sehat tanpa mengurangi apa yang dapat saya ekspresikan dalam tulisan saya.
Perawatan paliatif sering disalahpahami sebagai layanan menjelang ajal. Padahal pedoman ASCO 2024, WHO, dan Kepmenkes 2180/2023 menekankan identifikasi dini sejak diagnosis penyakit serius. Artikel ini membahas kapan paliatif sebaiknya ditawarkan kepada pasien dan keluarga, alat penapisan seperti SPICT dan Pertanyaan Kejutan, serta penerapannya di layanan kesehatan Indonesia.
Sindrom DiGeorge (22q11.2 deletion syndrome) adalah kelainan delesi mikro kromosom tersering pada manusia, memengaruhi jantung, imunitas, kalsium darah, dan perkembangan. Diagnosis sering terlambat karena gejala menyerupai kondisi lain. Di Indonesia, skrining jantung bawaan kritis berpotensi menangkap sebagian kasus, namun konfirmasi genetik masih terbatas aksesnya.
FAO, WHO, WOAH, dan CMS meluncurkan kerangka global untuk mempercepat pengendalian flu burung melalui pendekatan One Health. Artikel ini mengulas mengapa H5N1 klad 2.3.4.4b kian mengkhawatirkan, bagaimana pengalaman Indonesia dengan 200 kasus manusia, dan langkah praktis bagi Puskesmas serta masyarakat untuk mencegah limpahan virus dari kandang ke manusia.
WHO merilis pedoman baru tentang perluasan pilihan kontrasepsi. Mifepriston kini direkomendasikan sebagai kontrasepsi darurat, pil KB kombinasi dapat diminum tanpa jeda hingga setahun, dan implan etonogestrel dapat dipakai lima tahun. Sebaliknya, ormeloksifen dan pil kuinestrol belum layak masuk program. Apa artinya bagi layanan KB dan jutaan akseptor di Indonesia kini?
WHO meluncurkan kursus daring mandiri tentang ilmu perilaku bagi praktisi kesehatan masyarakat. Artikel ini mengulas isi kursus, kerangka DDDIE, data perilaku berisiko dari SKI 2023, contoh kasus antibiotik tanpa resep, serta batas bukti nudge, agar program kesehatan di Indonesia tidak berhenti pada penyuluhan, tetapi mengubah perilaku masyarakat sehari-hari secara nyata.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan