Katanya, meja kerja mencerminkan kepribadian pemiliknya. Sayangnya, meja kerja saya mungkin mencerminkan kondisi pikiran yang jauh dari tenang. Kondisi pandemi mengubah banyak hal, dan lebih banyak dari yang diduga, karena perburukan serta merta bisa diperkirakan dengan melibat pilihan masyarakat dalam menghadapinya.
Ada banyak hal yang saya kerjakan saat ini, hanya saja bukan itu yang ingin saya utarakan.
Pagi ini, meja kerja lama saya diambil alih istri, dan diberikan ganti meja lainnya. Lebih pendek, tapi lebih lebar. Mungkin sindiran untuk perut saya yang bertambah lebar 😂.
Meja kerja saya selalu penuh seperti itu. Ini pun sudah termasuk lebih rapi. Biasanya ada banyak tumpukan kertas bekas hingga bungkus susu UHT atau gelas kopi. Bedanya dengan masa kuliah, sudah tidak ada tumpukan buku lagi.
Era nirkertas membuat perubahan besar, di mana buku dan catatan tersimpan dalam bentuk elektronik. Apalagi saat ini, rujukan kepustakaan beralih dari era buku menuju era karya ilmiah. Sehingga kadang menjadi lelucon bahwa di era paperless pelajar malah berburu paper.
Saya terbiasa bekerja dengan monitor ganda (dulu), dan juga dengan sejumlah layar (sekarang). Kadang itu pun bisa jadi terasa tidak cukup. Untungnya, ketidakcukupan itu hanya perasaan, bukan kondisi yang mendesak untuk dicukupkan.
Meja kerja dicukupkan seadanya, buat saya saat ini, yang penting bisa dipakai kerja. Kalau meja kerjanya keenakan, I could gain weight faster than I could gain brain.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan