A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Saya menemukan sebuah utas unik di Twitter yang membahas tentang jejaring calo dalam mendapatkan SKP dari IDI sebagai syarat perpanjangan STR.

SKP IDI adalah Sistem Kredit Partisipasi Ikatan Dokter Indonesia, yang merupakan mekanisme untuk mengukur dan mengakui partisipasi dokter dalam kegiatan pendidikan berkelanjutan. SKP IDI bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas pelayanan dokter kepada masyarakat. Setiap dokter wajib mengikuti kegiatan pendidikan berkelanjutan yang sesuai dengan bidang keahliannya dan mengumpulkan SKP IDI sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Mengapa pendidikan berkelanjutan penting bagi dokter? Pendidikan berkelanjutan adalah proses belajar seumur hidup yang membantu dokter untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional mereka. Pendidikan berkelanjutan juga membantu dokter untuk mengikuti perkembangan ilmu kedokteran, teknologi, dan kebijakan kesehatan yang terus berubah. Dengan demikian, pendidikan berkelanjutan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, kepuasan pasien, dan hasil kesehatan. Pendidikan berkelanjutan juga merupakan salah satu syarat untuk mempertahankan lisensi praktik dokter di banyak negara.

Jadi tidak ada yang keliru dengan penerbitan SKP sebagai upaya dan bagian integral dari proses pendidikan berkelanjutan dokter.

Lalu muncullah sebuah tweet yang saya rasa aneh.

Mungkin karena saya selama menjadi dokter tidak pernah menemukan calo ini. Apakah ini seperti calo tiket, atau calo yang lain?

Mendapatkan SKP itu tidak sulit bagi Dokter. Ada buku panduan dalam bentuk elektronik yang bisa diunduh di situs resmi IDI untuk segala prosesnya. Dan dalam buku itu sudah dijelaskan dengan sederhana dan teknis, bagaimana dokter bisa mendapatkan SKP dan bagaimana mengajukan dan verifikasinya.

Jika ada kesulitan, saya kira sekretariat IDI setempat akan sangat terbuka untuk membantu sejawat dokter.

Apakah SKP mahal? SKP sebagian besar gratis. Banyak dokter berburu SKP gratis. Tapi tentu saja ada yang tidak. Mengapa ada yang tidak gratis? Hal ini sama dengan pelatihan dan sertifikasi pada profesi lainnya. Jika Anda mengundang tenaga ahli untuk mendapatkan wawasan, ilmu, dan pengalamannya, serta melakukan tukar pikiran dalam sebuah lokakarya di hotel berbintang dengan coffee breaks, lunch Dan gala dinner; tentunya tidak seorang pun yang waras berpikir bahwa semua itu bisa gratis kecuali ada sponsor yang mampu menalangi semua pembiayaan.

Ilmu itu tidak murah, pengalaman apa lagi, dan ketika pengalaman lahir kembali sebagai wawasan, maka apa yang diberikan seseorang kepada Anda menjadi tidak ternilai. Bergembiralah jika ada yang berbagi itu dengan kita, baik dengan cuma-cuma ataupun tidak.

Setiap kegiatan yang bisa menghasilkan SKP bisa diunggah buktinya ke situs keanggotaan IDI untuk diversifikasi. Saya kira kegiatan semudah ini tidak memerlukan calo sama sekali. Kalau karena ada sejawat dokter yang karena hal tertentu kurang bisa memahami teknologi web atau internet, saya kira asistensi bisa diberikan oleh sekretariat IDI, tapi calo tetap saja tidak diperlukan.

Tapi menurut laporan investigasi yang terbit di harian Kompas, percaloan ini memang terjadi. Sehingga membuat saya tidak bisa berkata-kata. Mengapa memerlukan calo untuk hal sesederhana ini?

Then again, I know we live in diverse societies, I cannot judge what people may face to make such a choice. Orang Indonesia itu paling ribet atau mungkin paling simpel? Cuma ke warung yang beda beberapa rumah saja ada yang naik motor, karena dia tidak mau berjalan kaki.

Artikel Baru Terbit

  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca