A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Batu empedu adalah kondisi yang terjadi ketika ada endapan keras di dalam kantong empedu, yaitu organ yang berfungsi menyimpan cairan empedu yang membantu mencerna lemak. Batu empedu bisa berukuran sangat kecil seperti pasir atau sebesar bola golf. Batu empedu bisa menyebabkan rasa nyeri hebat di perut, mual, muntah, dan kuning. Jika batu empedu menghalangi saluran empedu, bisa terjadi komplikasi serius seperti infeksi atau peradangan.

Sumber: Mayo Clinic

Penyebab utama terbentuknya batu empedu adalah ketidakseimbangan komposisi cairan empedu. Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya batu empedu, antara lain:

  • Obesitas atau kelebihan berat badan
  • Diet tinggi lemak dan rendah serat
  • Puasa atau menurunkan berat badan secara drastis
  • Diabetes mellitus
  • Penyakit hati atau saluran empedu
  • Kehamilan
  • Usia lanjut
  • Jenis kelamin perempuan
  • Riwayat keluarga dengan batu empedu
  • Penggunaan pil kontrasepsi atau terapi hormon

Untuk mencegah terjadinya batu empedu, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, antara lain:

  • Menjaga berat badan ideal dengan diet seimbang dan olahraga teratur
  • Menghindari makanan yang tinggi lemak jenuh, kolesterol, dan gula
  • Mengonsumsi makanan yang kaya serat, seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian
  • Minum air putih yang cukup setiap hari
  • Mengurangi konsumsi alkohol dan merokok
  • Berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat-obatan tertentu

Batu empedu bisa diobati dengan beberapa cara, tergantung pada ukuran, jumlah, dan lokasi batunya. Beberapa pilihan pengobatan adalah:

  • Obat-obatan untuk melarutkan batu empedu
  • Prosedur endoskopi untuk mengeluarkan batu empedu dari saluran empedu
  • Operasi untuk mengangkat kantong empedu beserta batunya

Jika Anda mengalami gejala-gejala batu empedu, segera hubungi dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat. Jangan mengabaikan atau menunda penanganan batu empedu karena bisa berakibat fatal bagi kesehatan Anda.

Artikel Baru Terbit

  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
  • Ketika Si Kecil Tiba-Tiba Sering Haus dan Berat Badannya Turun: Mengenal Diabetes Melitus Tipe 1
    Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca