A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pneumonia adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, atau parasit. Pneumonia dapat menyebabkan gejala seperti batuk, demam, sesak napas, nyeri dada, dan menggigil. Pneumonia dapat menyerang siapa saja, tetapi lebih berisiko bagi anak-anak, orang tua, dan orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah.

Salah satu cara untuk mencegah pneumonia adalah dengan melakukan vaksinasi. Vaksinasi adalah pemberian vaksin yang mengandung antigen (bagian dari kuman penyakit) yang dapat merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi. Antibodi ini akan melindungi tubuh dari serangan kuman penyakit yang sama di masa depan.

Photo by CDC on Pexels.com

Ada beberapa jenis vaksin yang dapat mencegah pneumonia, antara lain:

  • Vaksin pneumokokus (PCV). Vaksin ini melindungi dari 13 jenis bakteri pneumokokus yang paling sering menyebabkan pneumonia, meningitis, dan sepsis. Vaksin ini diberikan kepada anak-anak usia 2 bulan hingga 5 tahun dan orang dewasa usia 65 tahun ke atas.
  • Vaksin influenza (flu). Vaksin ini melindungi dari virus influenza yang dapat menyebabkan flu dan komplikasinya, termasuk pneumonia. Vaksin ini diberikan setiap tahun kepada semua orang usia 6 bulan ke atas.
  • Vaksin Hib (Haemophilus influenzae tipe b). Vaksin ini melindungi dari bakteri Hib yang dapat menyebabkan pneumonia, meningitis, dan infeksi lainnya. Vaksin ini diberikan kepada anak-anak usia 2 bulan hingga 5 tahun.
  • Vaksin pertusis (batuk rejan). Vaksin ini melindungi dari bakteri pertusis yang dapat menyebabkan batuk rejan dan komplikasinya, termasuk pneumonia. Vaksin ini diberikan sebagai bagian dari vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus) kepada anak-anak usia 2 bulan hingga 6 tahun.

Vaksinasi pneumonia adalah salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan paru-paru dan mencegah penyakit serius. Untuk mendapatkan manfaat optimal dari vaksinasi, sebaiknya konsultasikan dengan dokter mengenai jadwal dan dosis vaksin yang sesuai dengan kondisi Anda. Selain itu, jaga juga pola hidup sehat dengan tidak merokok, menghindari polusi udara, menjaga kebersihan tangan dan pernapasan, serta mengonsumsi makanan bergizi.

Artikel Baru Terbit

  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
  • Ketika Si Kecil Tiba-Tiba Sering Haus dan Berat Badannya Turun: Mengenal Diabetes Melitus Tipe 1
    Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca