Diperbarui 30 September 2026
Rina (21), mahasiswa keperawatan di Makassar, punya kebiasaan yang tak terlihat orang lain. Sebelum ujian tulis, ia mengelap telapak tangan ke rok berkali-kali. Kertas jawaban melembek, pulpen licin, dan jabat tangan dengan dosen penguji terasa seperti ujian tersendiri. Teman-temannya mengira ia hanya gugup. Padahal tangannya basah juga saat ia santai menonton drama di kos. (Ilustrasi fiktif.)
Kisah seperti ini sangat lazim. Telapak tangan yang berkeringat berlebihan bukan sekadar kegugupan, dan kondisi ini punya nama, pola, serta pilihan terapi yang jelas.
Apa itu hiperhidrosis palmaris?
Hiperhidrosis adalah produksi keringat yang melebihi kebutuhan pengaturan suhu tubuh. Diagnosisnya ditegakkan ketika keringat berlebih itu menimbulkan gangguan emosional, fisik, atau sosial dan menurunkan kualitas hidup (Nawrocki & Cha, 2019a). Bila terjadi di telapak tangan, kondisi ini disebut hiperhidrosis palmaris.
Para ahli membedakan dua kelompok besar:
- Hiperhidrosis primer (fokal): tidak ada penyakit penyebab. Pada tinjauan Nawrocki dan Cha (2019a), sekitar 93% kasus hiperhidrosis adalah primer, dan lebih dari 90% di antaranya berpola fokal dan bilateral (aksila, telapak tangan, telapak kaki, wajah).
- Hiperhidrosis sekunder: dipicu penyakit atau obat, dan biasanya berpola menyeluruh atau tidak simetris (Nawrocki & Cha, 2019a).
Seberapa sering terjadi?
Angka prevalensi sangat bervariasi antarpenelitian karena perbedaan metode dan tingkat pengenalan penyakit (Shayesteh, 2026). Di Amerika Serikat, perkiraannya minimal 4,8% penduduk (Nawrocki & Cha, 2019a).
Untuk Indonesia, saya tidak menemukan data nasional. Salah satu penelitian yang ada adalah survei daring terhadap 502 mahasiswa kedokteran di Jakarta. Sebanyak 77 orang (15,33%) memenuhi kriteria hiperhidrosis primer, dan telapak tangan adalah lokasi terbanyak (47 dari 77 orang) (Soetedjo et al., 2022). Angka ini berasal dari kelompok muda, sebagian besar perempuan, dan tidak mewakili populasi umum.
Mengapa telapak tangan bisa terus basah?
Kelenjar keringat ekrin di telapak tangan sebenarnya normal. Yang diduga bermasalah adalah “perintahnya”: pada hiperhidrosis primer terdapat gangguan regulasi sistem saraf otonom, yaitu kelenjar yang normal terus dirangsang secara berlebihan lewat jalur simpatis (Nawrocki & Cha, 2019a). Tinjauan terbaru menambahkan bahwa perubahan molekuler pada kelenjar ekrin mungkin merupakan adaptasi sekunder terhadap rangsangan kolinergik yang berkepanjangan, dan variasi genetik pada reseptor dapat menjelaskan perbedaan beratnya keluhan antarindividu (Shayesteh, 2026).
Stres dan cemas dapat memperburuk keringat, tetapi bukan penyebab tunggal. Pada survei mahasiswa di Jakarta, 72,7% responden mengaku keringatnya memburuk dalam situasi tertekan, sedangkan keringat berhenti saat tidur dilaporkan oleh 42,6% (Soetedjo et al., 2022).
Primer atau sekunder? Petunjuk dari cerita pasien
Menurut kriteria konsensus (Hornberger et al., 2004), hiperhidrosis primer fokal ditandai keringat berlebih yang terlihat dan berlangsung minimal enam bulan tanpa sebab jelas, disertai sedikitnya dua ciri berikut:
- muncul di kedua sisi dan relatif simetris;
- mengganggu aktivitas sehari-hari;
- terjadi sedikitnya satu episode per minggu;
- mulai sebelum usia 25 tahun;
- ada riwayat keluarga;
- berhenti saat tidur.
| Petunjuk | Cenderung primer | Cenderung sekunder |
|---|---|---|
| Usia mulai | Anak–remaja–dewasa muda (<25 tahun) | Sering muncul pada usia dewasa |
| Sebaran | Fokal, kiri-kanan simetris | Menyeluruh atau tidak simetris |
| Saat tidur | Umumnya berhenti | Dapat tetap berkeringat (keringat malam) |
| Gejala lain | Tidak ada | Demam, berat badan turun, berdebar, dan sebagainya |
| Riwayat obat/penyakit | Tidak ada | Ada (mis. gangguan tiroid, infeksi, obat tertentu) |
Bila hiperhidrosis mulai pada usia lebih lanjut, disertai keringat malam, penurunan berat badan, demam, atau berdebar, jangan dianggap “bawaan”. Kondisi semacam ini perlu dicari penyebab sekundernya (Nawrocki & Cha, 2019a).
Mengukur keparahan: skala HDSS
Dokter sering memakai Hyperhidrosis Disease Severity Scale (HDSS), sebuah pertanyaan tunggal dengan empat pilihan jawaban. Skor 3–4 dikategorikan berat (Soetedjo et al., 2022).
| Skor | Gambaran | Kategori |
|---|---|---|
| 1 | Keringat tidak terasa dan tidak mengganggu aktivitas | Ringan |
| 2 | Keringat dapat ditoleransi, kadang mengganggu aktivitas | Sedang |
| 3 | Keringat sulit ditoleransi, sering mengganggu aktivitas | Berat |
| 4 | Keringat tidak tertahankan, selalu mengganggu aktivitas | Sangat berat |
Dampak yang sering diremehkan
Beban terbesar sering bukan pada tangannya, tetapi pada psikologis dan aktivitas harian. Pada survei mahasiswa di Jakarta, kualitas hidup terganggu pada 82,4% responden dengan hiperhidrosis berat–sangat berat, dibanding 33,3% pada yang ringan–sedang (Soetedjo et al., 2022).
Sebuah meta-analisis 2026 dari 18 studi (47.053 partisipan) menemukan prevalensi gejala depresi gabungan 18,0% (IK 95% 14,3%–22,0%) pada penderita hiperhidrosis primer. Angka ini lebih tinggi daripada perkiraan 4,4% untuk gangguan depresi mayor pada populasi umum, meski keduanya memakai definisi berbeda sehingga tidak dapat dibandingkan langsung, dan heterogenitas antarstudi sangat besar (Wang et al., 2026). Pesannya: keluhan ini layak dianggap serius dan tidak perlu “ditahan sendiri”.
Tangga penanganan
Tinjauan komprehensif menyusun terapi secara bertahap, dari yang paling sederhana ke yang paling invasif. Antiperspiran menjadi lini pertama, iontoforesis menjadi terapi utama untuk telapak tangan dan kaki, toksin botulinum menjadi opsi yang aman dan efektif untuk keringat fokal, obat oral dicadangkan bagi kasus yang tidak membaik, dan simpatektomi adalah pilihan terakhir (Nawrocki & Cha, 2019b).
Membandingkan pilihan terapi
| Pilihan | Yang diketahui dari bukti terbaru | Keterbatasan |
|---|---|---|
| Antiperspiran aluminium klorida | Lini pertama untuk hiperhidrosis fokal (Nawrocki & Cha, 2019b) | Dapat mengiritasi kulit; efek sering tidak cukup pada kasus berat |
| Iontoforesis | Efikasi sedang dengan efek samping minimal (Moniati et al., 2025) | Perlu sesi berulang untuk mempertahankan hasil |
| Toksin botulinum | Ulasan sistematis 19 studi: efek toksin A rata-rata 4,9–9,5 bulan (toksin B 3,8–4,6 bulan); kepuasan 65–100% namun menurun seiring waktu (Eze et al., 2026) | Efek sementara, perlu suntikan ulang; protokol belum baku |
| Oksibutinin oral | Meredakan keluhan pada 60%–97% pasien dalam ulasan sistematis (Moniati et al., 2025) | Efek samping antikolinergik sering (mis. mulut kering) |
| Simpatektomi toraks endoskopik | Angka penghentian keringat tertinggi (Moniati et al., 2025) | Keringat kompensasi. Meta-analisis 11 studi (3.090 pasien) menunjukkan pendekatan yang menghindari ganglion T2 menurunkan kejadiannya (OR 0,38 secara keseluruhan; OR 0,43 untuk yang berat) (Delgado et al., 2026) |
Beberapa catatan yang perlu diketahui:
- Gel antikolinergik topikal baru seperti sofpironium disetujui FDA pada Juni 2024, tetapi untuk hiperhidrosis aksila pada usia 9 tahun ke atas (MDedge, 2024). Meta-analisis 2026 juga hanya menilai ketiak dan menemukan manfaat nyata disertai efek samping antikolinergik seperti mulut kering (Kim et al., 2026). Kegunaannya untuk telapak tangan belum terbukti.
- Radiofrekuensi perkutan dengan panduan CT sedang diteliti. Satu uji acak 2026 pada 110 sisi tangan menemukan bahwa titik target di tepi lateral kepala iga keempat memberi hasil lebih baik pada 6–12 bulan daripada tepi atas (Wu et al., 2026). Ini studi satu pusat dan belum menjadi standar.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah makanan pedas atau berminyak perlu dihindari? Dalam sumber yang saya rujuk, saya tidak menemukan bukti kuat bahwa makanan tertentu menyebabkan hiperhidrosis palmaris primer. Bila Anda merasa ada pemicu pribadi, catat dan diskusikan dengan dokter.
Bagaimana memakai antiperspiran untuk telapak tangan? Praktik yang lazim dianjurkan adalah mengoleskannya pada kulit yang benar-benar kering menjelang tidur dan membilasnya pagi hari, lalu mengurangi frekuensi setelah keluhan terkendali. Ini panduan praktik, bukan hasil studi tersendiri. Bila kulit perih atau merah, hentikan dan konsultasikan.
Apakah bisa hilang sendiri? Saya tidak menemukan data yang meyakinkan tentang perjalanan alami penyakit ini pada rujukan yang saya baca, sehingga tidak ada janji yang bisa saya berikan.
Kapan sebaiknya ke dokter?
- Keringat berlebih mengganggu sekolah, pekerjaan, atau pergaulan.
- Tidak membaik dengan antiperspiran.
- Muncul pertama kali pada usia dewasa, atau disertai keringat malam, demam, berat badan turun, atau jantung berdebar.
- Anda merasa cemas, murung, atau menarik diri karena kondisi ini.
Pemeriksaan awal dapat dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas atau klinik). Tindakan lanjutan umumnya melalui rujukan ke dokter spesialis kulit dan kelamin atau bedah toraks, tergantung pilihan terapi. Cakupan pembiayaan JKN untuk tindakan tertentu berbeda-beda dan belum saya verifikasi, jadi tanyakan langsung pada fasilitas kesehatan.
Catatan Transparansi
- Data Indonesia terbatas. Satu-satunya data lokal yang saya temukan adalah survei daring purposif pada mahasiswa kedokteran di Jakarta (Soetedjo et al., 2022), yang tidak mewakili populasi umum. Abstrak artikel tersebut menyebut telapak tangan 66,1%, sedangkan bagian hasil menyebut 47 dari 77 responden (61,0%). Saya memakai angka dari bagian hasil.
- Klaim yang dihapus. Angka risiko turunan 28% dan 45% pada versi 2023 tidak dapat saya verifikasi pada sumber ilmiah, sehingga dihapus.
- Obat topikal baru yang disebut di atas terbukti untuk aksila, bukan telapak tangan. Ketersediaan dan status izin edar di Indonesia belum saya verifikasi.
- Ulasan 2026 dan tingkat bukti. Beberapa ulasan sistematis (Eze et al., 2026; Moniati et al., 2025) bersifat naratif dan bergantung pada studi kecil dengan tindak lanjut pendek. Untuk Shayesteh (2026), Kim et al. (2026), dan sebagian sumber lain, saya membaca abstraknya.
- Anjuran pemakaian antiperspiran bersumber dari praktik klinis lazim, bukan dari studi khusus yang dirujuk. Saya tidak menemukan pedoman nasional Indonesia khusus hiperhidrosis pada penelusuran saya.
- Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Referensi
Delgado, L. M., D’Ambrosio, P. D., da Nobrega Oliveira, R. E. N., Mortman, K., Caldonazo, T., Passos, F. S., Martins, M. A. B., Sreepathi, D., Pimienta-Ibarra, A.-S., Fernandes, P. M.-P., Wolosker, N., & Campos, J. R. M. (2026). T2-sparing vs T2-including sympathectomy for hyperhidrosis: A meta-analysis on compensatory sweating. Journal of Cardiothoracic Surgery, 21(1). https://doi.org/10.1186/s13019-026-04464-4
Eze, C., Munoz-Lara, S., Whyte, T., & Jafferany, M. (2026). Sustained efficacy of botulinum toxin in primary palmar hyperhidrosis: A systematic review of duration, quality of life, and satisfaction. Frontiers in Medicine, 13, 1795512. https://doi.org/10.3389/fmed.2026.1795512
Hornberger, J., Grimes, K., Naumann, M., Glaser, D. A., Lowe, N. J., Naver, H., Ahn, S., & Stolman, L. P. (2004). Recognition, diagnosis, and treatment of primary focal hyperhidrosis. Journal of the American Academy of Dermatology, 51(2), 274–286. https://doi.org/10.1016/j.jaad.2003.12.029
Kim, J., Han, N., Koo, H., Kim, Y., Hwang, E. J., Kim, M.-S., Staatz, C. E., & Baek, I.-H. (2026). Efficacy and safety of topical anticholinergics in the treatment of primary axillary hyperhidrosis: A systematic review and meta-analysis. Clinical Drug Investigation, 46(6), 583–594. https://doi.org/10.1007/s40261-026-01550-2
MDedge. (2024, Juni). FDA approves topical anticholinergic for axillary hyperhidrosis. https://mdedge.com/content/fda-approves-topical-anticholinergic-axillary-hyperhidrosis
Moniati, F., Vassiliou, M., Costa, C., Chatzimatthaiou, C., & Chatzimatthaiou, M. (2025). Efficacy and safety of treatments for primary palmar hyperhidrosis: A systematic review assessing patient-centric outcomes. Dermatology Research and Practice, 2025, 8867838. https://doi.org/10.1155/drp/8867838
Nawrocki, S., & Cha, J. (2019a). The etiology, diagnosis, and management of hyperhidrosis: A comprehensive review: Etiology and clinical work-up. Journal of the American Academy of Dermatology, 81(3), 657–666. https://doi.org/10.1016/j.jaad.2018.12.071
Nawrocki, S., & Cha, J. (2019b). The etiology, diagnosis, and management of hyperhidrosis: A comprehensive review: Therapeutic options. Journal of the American Academy of Dermatology, 81(3), 669–680. https://doi.org/10.1016/j.jaad.2018.11.066
Shayesteh, A. (2026). Primary hyperhidrosis: A review of epidemiology, pathophysiology and management. Acta Dermato-Venereologica, 106. https://doi.org/10.2340/actadv.v106.adv-2026-0770
Soetedjo, C. P., Wijaya, L., Regina, R., & Astiarani, Y. (2022). Association between severity and locations of primary hyperhidrosis and quality of life among medical students. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia, 13(1), 11–17. https://doi.org/10.20885/JKKI.Vol13.Iss1.art4
Wang, X., Xie, L., Wang, S., Meng, S., & Huang, Y. (2026). The prevalence of depression among patients with primary hyperhidrosis: A systematic review and meta-analysis. BMC Psychology. https://doi.org/10.1186/s40359-026-05109-w
Wu, Y., Xing, Q., Huang, H., Tian, S., He, F., Wang, Y., & Chen, G. (2026). Efficacy and safety of rib-guided percutaneous thoracic sympathetic radiofrequency thermocoagulation at two different targets for primary palmar hyperhidrosis: A randomized controlled trial. Annals of Medicine, 58(1), 2717461. https://doi.org/10.1080/07853890.2026.2717461





Tinggalkan Balasan