A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

ProWritingAid adalah perangkat lunak untuk membantu menulis dalam tata bahasa (grammar) Inggris yang baik dan benar. Yang popular adalah Grammarly, karena aplikasi ini punya keyboard gratis untuk iOS dan Android. Tapi untuk penulis naskah akademis, non-fiksi, maupun fiksi dalam bahasa Inggris, maka ProWritingAid adalah pilihannya.

ProWritingAid sendiri tidak mendukung Linux, tidak ada instalasi khusus untuk Linux. Mereka memiliki instalasi untuk Windows dan MacOS, tapi tidak untuk Linux.

Sebenarnya pengguna Linux bisa menggunakan aplikasi Language Tool, yang ikonnya khas dengan simbol LT dengan tanda air di bawahnya. Language Tool bisa digunakan pada LibreOffice terintegrasi, maupun OnlyOffice sebagai add-on. Untuk menggunakan fitur ini, hanya edisi berlangganan yang saja, sementara yang gratis tidak bisa.

Saya kebetulan memiliki lisensi ProWritingAid untuk seumur hidup. Dan ingin menggunakannya pada Linux.

ProWritingAid on openSUSE Linux

Sebenarnya sederhana.

  1. Unduh berkas instalasi .msi untuk ProWritingAid dari situs resminya.
  2. Pasang aplikasi Bottles melalui flatpak (atau sumber lainnya).
  3. Buat Bottle baru melalui, dan pilih jenisnya sebagai aplikasi. Proses ini mungkin memerlukan waktu agak lama, dan beri nama sesuai serela.
  4. Lalu jalankan berkas eksekusi dan pilih berkas setup yang sudah diunduh tadi.
  5. Saat membuka aplikasi ProWritingAid Desktop pertama kali, akan perlu verifikasi akun otomatis dengan login di peramban.
  6. ProWritingAid siap digunakan.

Dalam daftar program, akan ada tulisan ProWritingAid. Yang bisa digunakan untuk meluncurkan aplikasi.

Perlu dicatat bahwa karena sistem yang digunakan adalah sandboxed, maka hasil editing hanya bisa disimpan dalam kandar virtual. Mungkin ini kelemahannya.

Tapi jika Anda punya ketikan atau naskah panjang yang siap untuk dilakukan proof-reading, maka menyalinnya ke aplikasi ini akan memakan waktu yang lebih cepat.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca