A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pada tanggal 9 Oktober 2025, dunia memperingati World Sight Day atau Hari Penglihatan Sedunia—sebuah gerakan global yang menyerukan pentingnya kesehatan mata dan akses layanan penglihatan yang adil dan terjangkau bagi semua orang.

Tahun ini, kampanye mengusung tema:
#LoveYourEyes
Sebuah ajakan untuk mencintai, menjaga, dan memperjuangkan hak atas penglihatan yang sehat.

🌍 Mengapa Hari Ini Penting?

Lebih dari 1 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan yang bisa dicegah atau diobati, namun belum mendapatkan layanan yang mereka butuhkan. Gangguan penglihatan tidak hanya berdampak pada kualitas hidup, tapi juga pada pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi sosial.

Di Indonesia, masalah seperti rabun jauh, katarak, dan glaukoma masih menjadi tantangan besar, terutama di daerah terpencil yang minim akses layanan mata.

🔍 Fokus Kampanye 2025

Organisasi Internasional untuk Pencegahan Kebutaan (IAPB) mendorong aksi nyata melalui:

  • 👓 Pemeriksaan mata rutin di tempat kerja dan sekolah
  • 🧒 Edukasi kesehatan mata untuk anak-anak dan keluarga
  • 🏛️ Advokasi kebijakan di tingkat pemerintahan dan komunitas
  • 📸 Kompetisi foto dan cerita inspiratif tentang pengalaman menjaga penglihatan

💡 Apa yang Bisa Kita Lakukan?

  • 🧠 Edukasi: Bagikan informasi tentang pentingnya pemeriksaan mata rutin.
  • 📱 Kampanye digital: Gunakan tagar #LoveYourEyes untuk menyebarkan pesan.
  • 🏥 Aksi nyata: Ikut serta dalam pemeriksaan mata gratis atau donasi kacamata.
  • 🗣️ Cerita: Bagikan pengalaman pribadi atau kisah orang terdekat tentang perjuangan menjaga penglihatan.

💖 Mata Adalah Jendela Dunia

Hari Penglihatan Sedunia bukan hanya tentang melihat—tetapi tentang dilihat. Tentang memastikan bahwa setiap orang, tanpa memandang usia, lokasi, atau status ekonomi, memiliki hak yang sama untuk melihat dunia dengan jelas.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. Avatar asrohmandar69

    Kok Oktober lagi yah? 🙏🤗

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca