Bayangkan seseorang terjatuh dari sepeda, mengalami patah pergelangan tangan yang sederhana. Tulangnya sembuh dalam hitungan minggu, tetapi nyeri justru semakin hebat, menjalar, terasa seperti terbakar, dan tidak hilang meski tulangnya sudah pulih sempurna. Lengannya membengkak, warna kulitnya berubah kemerahan lalu kebiruan, berkeringat sendiri meski tidak kepanasan, dan bahkan hembusan angin pun terasa menyiksa. Kondisi inilah yang dialami oleh penderita Complex Regional Pain Syndrome (CRPS)—sebuah gangguan nyeri kronik yang masih sering disalahpahami, terlambat didiagnosis, dan menjadi salah satu kondisi yang paling menantang dalam dunia kedokteran nyeri modern.
Bukan Sekadar Nyeri Biasa
CRPS adalah istilah yang menggambarkan sekelompok kondisi nyeri neuropatik kronik di mana rasa nyeri jauh lebih berat dan berlangsung lebih lama dari yang seharusnya diharapkan berdasarkan kerusakan jaringan yang memicunya. Kondisi ini disertai perubahan otonom seperti gangguan keringat dan kelainan vasomotor, perubahan motorik seperti kelemahan dan distonia, serta perubahan trofik seperti atrofi kulit atau tulang, kerontokan rambut, dan kontraktur sendi—yang membedakannya dari nyeri neuropatik konvensional seperti neuropati diabetik.
CRPS dibagi menjadi dua subtipe. CRPS Tipe I, yang dahulu dikenal sebagai reflex sympathetic dystrophy (RSD), terjadi tanpa disertai cedera saraf perifer yang dapat diidentifikasi. Sementara CRPS Tipe II, yang dahulu disebut causalgia, dikaitkan dengan lesi saraf perifer yang terkonfirmasi. Meski dibedakan berdasarkan ada atau tidaknya cedera saraf, keduanya memiliki gambaran klinis yang sangat serupa dan tatalaksana yang pada dasarnya sama.
CRPS adalah gangguan multisistem yang dipicu oleh trauma seperti operasi atau fraktur. Ia bermanifestasi sebagai nyeri berat yang terlokalisasi pada satu ekstremitas, tetapi sering kali berlangsung jauh melampaui periode pemulihan yang normal. Penderita dapat mengalami gangguan berkeringat, regulasi suhu, dan mobilitas. Perempuan terkena secara tidak proporsional, dengan prevalensi hingga empat kali lebih banyak dibandingkan laki-laki.
Mekanisme yang Rumit: Kenapa Nyeri Bisa “Memberontak”?
Selama bertahun-tahun, patofisiologi CRPS menjadi teka-teki bagi para ilmuwan. Penelitian mutakhir kini mulai membuka tabir kompleksitas tersebut. Patofisiologi CRPS belum sepenuhnya dipahami, tetapi sensitisasi nosiseptor perifer dan sensitisasi sentral serta pelepasan neuropeptida seperti substance P dan calcitonin gene-related peptide (CGRP) berperan dalam mempertahankan nyeri dan peradangan. Sistem saraf simpatis terlibat lebih besar pada CRPS dibandingkan sindrom nyeri neuropatik lainnya.
Patofisiologi CRPS bersifat multifaktorial, mencakup perubahan anatomis dan fungsional baik di level perifer—seperti inflamasi neurogenik dan disfungsi vasomotor—maupun di level sentral, yaitu maladaptive plasticity atau neuroplastisitas yang berjalan menyimpang. Model hewan juga mendukung keterlibatan proses autoimun dalam CRPS.
Secara keseluruhan, CRPS melibatkan kombinasi inflamasi yang dimediasi imun, perubahan otak, sensitisasi sentral, faktor psikologis, faktor genetik, dan disfungsi vasomotor. Semua faktor ini saling memengaruhi melalui sistem otonom, kontrol motorik, sensorik, keterbatasan fisik, serta faktor psikososial.
Inilah mengapa CRPS tidak bisa dipahami hanya dari satu sudut pandang—ia adalah penyakit yang muncul dari kegagalan sistem regulasi tubuh secara menyeluruh.
Bagaimana Mengenali CRPS? Kriteria Budapest sebagai Panduan Klinis
Tidak ada satu pemeriksaan tunggal yang dapat memastikan diagnosis CRPS secara definitif. Diagnosis CRPS ditegakkan berdasarkan kriteria klinis seperti Budapest Criteria, meskipun terdapat keterbatasan pada kasus pediatri dan presentasi klinis yang tidak khas. Pemeriksaan penunjang—termasuk laboratorium, studi elektrofisiologi, uji fungsi sensorik dan otonom, serta pencitraan lanjutan—memberikan bukti pendukung, namun bukan bukti yang definitif.
Budapest Criteria menekankan nyeri yang tidak sebanding dengan kejadian pencetusnya dan mensyaratkan adanya gejala yang dilaporkan pasien serta tanda yang teramati secara klinis di empat domain: sensorik, vasomotor, sudomotor, serta motorik/trofik.
Secara praktis, dokter harus mencari:
- Domain sensorik: alodinia (nyeri akibat stimulus yang normalnya tidak nyeri) dan hiperalgesia
- Domain vasomotor: asimetri suhu kulit, perubahan warna kulit (kemerahan, kebiruan, atau pucat)
- Domain sudomotor/edema: pembengkakan atau perbedaan produksi keringat antara kedua sisi
- Domain motorik/trofik: penurunan rentang gerak, tremor, distonia, perubahan pertumbuhan rambut dan kuku, atau atrofi kulit
Beberapa studi menunjukkan bahwa diagnosis dan intervensi yang lebih awal dapat menghasilkan prognosis yang lebih baik dan berpotensi mencegah disabilitas serta penurunan kualitas hidup. Diagnosis yang akurat sangat penting mengingat CRPS memiliki terapi spesifik yang berbeda dari nyeri kronik jenis lain.

Prognosis: Tidak Selalu Suram
Kabar baiknya, pandangan lama yang menganggap CRPS sebagai kondisi seumur hidup yang tidak bisa disembuhkan kini mulai ditantang. Tinjauan terbaru menemukan bahwa kemungkinan pemulihan cukup besar bagi sebagian besar penderita CRPS, dan kemungkinan ini lebih besar dengan diagnosis dan penanganan yang lebih awal. Hingga 80% pasien berpotensi mengalami pemulihan dalam 18 bulan pertama setelah diagnosis.
CRPS kronik—yang umumnya didefinisikan sebagai gejala yang menetap lebih dari 12 bulan—ditandai oleh perubahan neurobiologis dan struktural yang bersifat ireversibel. Kondisi ini seringkali disertai ansietas, depresi, dan gejala post-traumatic stress, sehingga penanganan komorbiditas psikologis menjadi bagian esensial dari perawatan komprehensif.
Tatalaksana: Pendekatan Multidisiplin adalah Kunci
Tatalaksana CRPS membutuhkan pendekatan multidisiplin, dengan fokus pada rencana terapi yang dipersonalisasi dan penanganan faktor psikologis. Pedoman terkini menekankan pentingnya diagnosis dini, intervensi yang tepat waktu, serta rencana terapi yang disesuaikan dengan individu.
Rehabilitasi fisik menjadi tulang punggung tatalaksana. Terapi fisik, termasuk graded motor imagery (GMI) dan mirror therapy, bersifat esensial untuk mempertahankan fungsi dan mencegah komplikasi pada CRPS. GMI bekerja dengan “melatih ulang” peta sensorimotorik otak secara bertahap melalui visualisasi gerakan sebelum gerakan fisik dilakukan—sebuah strategi yang mengatasi masalah dari akarnya di sistem saraf pusat.
Terapi farmakologis ditujukan untuk mengelola komponen nyeri neuropatik dan inflamasi. Agen yang digunakan antara lain gabapentinoid, kortikosteroid, dan bifosfonat. Pada kasus yang refrakter, modalitas intervensi seperti stimulasi korda spinalis (spinal cord stimulation/SCS) dan stimulasi ganglion radiks dorsal (dorsal root ganglion stimulation/DRG-S) memberikan pilihan yang menjanjikan, meski efikasinya masih bervariasi antar individu.
Intervensi psikologis seperti terapi kognitif-perilaku (cognitive behavioral therapy/CBT) juga tidak bisa diabaikan. Nyeri kronik yang berat secara alami mempengaruhi kesehatan mental, dan keduanya saling memperkuat dalam siklus yang melemahkan.
Untuk pasien yang tidak merespons terapi konservatif, teknik intervensi seperti blok saraf simpatis atau neuromodulasi melalui stimulasi korda spinalis atau ganglion radiks dorsal dapat memberikan pereda nyeri yang substansial dan perbaikan fungsional yang bermakna.
Tantangan yang Belum Selesai
CRPS masih menyimpan banyak pekerjaan rumah bagi komunitas medis. Pemahaman yang lebih baik tentang mekanisme patofisiologi CRPS telah mendorong klasifikasinya sebagai gangguan nyeri primer kronik, dan subtipenya terus diperbarui. Prosedur diagnostik juga terus diklarifikasi. Namun demikian, tidak ada biomarker objektif yang sudah tervalidasi untuk diagnosis rutin, dan masih banyak pasien yang harus menjalani bertahun-tahun sebelum mendapat diagnosis yang tepat.
Di Indonesia, tantangan ini berlipat ganda: kesadaran klinis tentang CRPS masih terbatas, fasilitas untuk stimulasi korda spinalis belum merata, dan tidak jarang pasien CRPS justru dicap “berlebihan” atau bahkan mengalami gangguan psikiatri semata—padahal nyeri yang mereka rasakan berakar pada perubahan nyata di sistem saraf mereka.
Memahami CRPS bukan hanya tentang menambah pengetahuan diagnostik. Ini tentang memulihkan kepercayaan pasien bahwa nyeri yang mereka rasakan nyata adanya—dan bahwa dengan pendekatan yang tepat, pemulihan adalah tujuan yang bisa dicapai.
Daftar Referensi
Alshehri, F. S. (2023). The complex regional pain syndrome: Diagnosis and management strategies. Neurosciences Journal, 28(4), 211–219. https://doi.org/10.17712/nsj.2023.4.20230034
Ferraro, M. C., O’Connell, N. E., Sommer, C., Goebel, A., Bultitude, J. H., Cashin, A. G., Moseley, G. L., & McAuley, J. H. (2024). Complex regional pain syndrome: Advances in epidemiology, pathophysiology, diagnosis, and treatment. The Lancet Neurology, 23(5), 522–533. https://doi.org/10.1016/S1474-4422(24)00076-0
Harden, R. N., McCabe, C. S., Goebel, A., Massey, M., Suvar, T., Grieve, S., & Bruehl, S. (2022). Complex regional pain syndrome: Practical diagnostic and treatment guidelines, 5th edition. Pain Medicine, 23(Suppl. 1), S1–S53. https://doi.org/10.1093/pm/pnac046
Mesaroli, G., Hundert, A., Birnie, K. A., Campbell, F., & Stinson, J. (2021). Screening and diagnostic tools for complex regional pain syndrome: A systematic review. Pain, 162(3), 543–554. https://doi.org/10.1097/j.pain.0000000000002099
Pessôa, B. L., Netto, J. G. M., Adolphsson, L., Longo, L., Hauwanga, W. N., & McBenedict, B. (2024). Complex regional pain syndrome: Diagnosis, pathophysiology, and treatment approaches. Cureus, 16(12), e76324. https://doi.org/10.7759/cureus.76324
Pichler, C., Gruber-Rathammer, P., Radner, H., & Duftner, C. (2025). Diagnostic criteria and technical evaluation of complex regional pain syndrome: A narrative review. Diagnostics, 15(17), 2281. https://doi.org/10.3390/diagnostics15172281
van der Spek, D. P. C., Dirckx, M., Mangnus, T. J. P., Cohen, S. P., & Huygen, F. J. P. M. (2025). Complex regional pain syndrome. Pain Practice, 25(1), e13413. https://doi.org/10.1111/papr.13413

Tinggalkan komentar