Bayangkan seorang pasien datang ke poliklinik dengan keluhan berat badan yang terus bertambah meski sudah mengurangi porsi makan, wajah yang makin “bulat” dari bulan ke bulan, kulit yang mudah lebam dan muncul garis-garis keunguan di perut, serta tekanan darah dan gula darah yang sulit dikontrol walau sudah minum obat secara teratur. Kombinasi gejala semacam ini sering luput dari kecurigaan awal karena masing-masing tanda—obesitas, hipertensi, atau gangguan toleransi glukosa—terlalu umum dan mudah dikaitkan dengan gaya hidup. Padahal, di balik kumpulan gejala tersebut bisa tersembunyi satu kondisi endokrin yang disebut sindrom Cushing.
Apa Itu Sindrom Cushing?
Sindrom Cushing adalah kumpulan gejala klinis yang timbul akibat paparan kortisol berlebih dalam jangka panjang, baik yang berasal dari produksi berlebihan oleh tubuh sendiri (endogen) maupun akibat penggunaan obat golongan glukokortikoid dari luar (eksogen). Kortisol sendiri adalah hormon steroid yang diproduksi oleh kelenjar adrenal dan berperan penting dalam metabolisme energi, respons terhadap stres, serta pengaturan sistem imun. Jika produksinya berlebihan dan berlangsung lama, hampir seluruh sistem organ tubuh akan terdampak.

Penyebab sindrom Cushing terbagi menjadi dua kelompok besar:
- Eksogen — paling sering terjadi akibat penggunaan kortikosteroid jangka panjang untuk berbagai kondisi seperti asma, penyakit autoimun, atau pasca transplantasi organ. Ini adalah penyebab tersering yang dijumpai di praktik klinis sehari-hari.
- Endogen — disebabkan oleh produksi kortisol berlebih dari dalam tubuh, yang dapat berupa:
- Cushing’s disease (penyakit Cushing): tumor hipofisis yang menghasilkan hormon adrenocorticotropic (ACTH) secara berlebihan—penyebab tersering sindrom Cushing endogen.
- Tumor adrenal yang memproduksi kortisol secara mandiri.
- Produksi ACTH ektopik dari tumor di luar hipofisis, misalnya pada kanker paru tipe tertentu.
Mengapa Sering Terlambat Dikenali?
Salah satu tantangan terbesar dalam diagnosis sindrom Cushing adalah perjalanan klinisnya yang insidious—berkembang perlahan dan progresif—sehingga sering terlewat selama bertahun-tahun sebelum akhirnya terdiagnosis. Diagnosis sindrom Cushing kerap tertunda selama bertahun-tahun, sebagian karena kurangnya kewaspadaan terhadap proses penyakit yang berjalan diam-diam dan progresif, serta kompleksitas pemeriksaan penunjangnya.
Hal ini diperburuk oleh fakta bahwa gejala-gejala klasik seperti obesitas sentral, wajah bulat (moon face), penumpukan lemak di area punggung atas (buffalo hump), striae keunguan, mudah memar, kelemahan otot proksimal, hipertensi, dan gangguan toleransi glukosa juga lazim dijumpai pada kondisi metabolik umum seperti sindrom metabolik atau obesitas biasa. Tidak ada satu pun gejala yang bersifat patognomonik—artinya tidak ada tanda tunggal yang pasti menunjukkan sindrom Cushing tanpa konfirmasi laboratorium. Kemungkinan adanya sindrom Cushing dapat dicurigai dari gejala dan tanda tertentu pada pasien, namun tidak satu pun di antaranya bersifat patognomonik, dan banyak yang tidak spesifik, seperti obesitas, hipertensi, gangguan menstruasi, dan intoleransi glukosa—sehingga diagnosis harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan biokimia.
Menariknya, riset terbaru juga menyoroti adanya kesenjangan antara apa yang dirasakan pasien dan apa yang dinilai oleh klinisi. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Endocrine pada tahun 2024 menemukan adanya diagnostic dilemma—diskrepansi antara manifestasi yang dilaporkan pasien sendiri dengan hasil penilaian dokter, yang dapat memperpanjang proses diagnosis (Motomura et al., 2024).
Tiga Langkah Menegakkan Diagnosis
Pendekatan diagnosis sindrom Cushing secara klasik mengikuti tiga tahap berurutan. Diagnosis sindrom Cushing melibatkan tiga langkah: mencurigainya berdasarkan gejala dan tanda pasien, mendokumentasikan adanya hiperkortisolisme, dan menentukan penyebabnya.
Tahap pertama adalah kecurigaan klinis, yang sebaiknya muncul terutama pada pasien dengan kombinasi gejala yang progresif dan memiliki nilai diskriminatif tinggi—misalnya striae keunguan lebar, kelemahan otot proksimal, atau gambaran wajah pletorik yang khas—dan bukan sekadar gejala tunggal yang umum dijumpai di populasi.
Tahap kedua adalah konfirmasi biokimia adanya hiperkortisolisme. Pedoman dari Endocrine Society merekomendasikan penggunaan salah satu dari empat tes berikut sebagai uji awal: pengukuran kortisol urin 24 jam, kortisol saliva malam hari, tes supresi deksametason dosis rendah semalam (1 mg), atau tes supresi deksametason 2 hari (2 mg). Jika hasil tes awal abnormal, pasien dianjurkan dirujuk ke dokter spesialis endokrin untuk menjalani tes konfirmasi kedua. Pasien dengan hasil tes kedua yang konkordan abnormal perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan penyebab sindrom Cushing, sementara pasien dengan hasil yang konkordan normal tidak memerlukan evaluasi lanjutan.
Tahap ketiga adalah penentuan etiologi atau sumber kelebihan kortisol, yang umumnya memerlukan pengukuran kadar ACTH plasma, pencitraan (MRI hipofisis atau CT adrenal), dan pada kasus tertentu, prosedur invasif seperti bilateral inferior petrosal sinus sampling (BIPSS) untuk membedakan sumber ACTH hipofisis dari sumber ektopik.
Dampak Jika Dibiarkan
Sindrom Cushing bukan sekadar masalah kosmetik atau metabolik ringan. Sindrom Cushing endogen yang tidak ditangani menyebabkan morbiditas multisistem yang signifikan serta peningkatan mortalitas. Komplikasi yang dapat timbul antara lain penyakit kardiovaskular akibat hipertensi dan dislipidemia kronis, diabetes melitus tipe 2, osteoporosis dengan risiko fraktur, gangguan psikiatri seperti depresi dan ansietas, peningkatan risiko infeksi akibat efek imunosupresif kortisol, serta gangguan kesuburan dan menstruasi pada perempuan.
Pada pasien dengan Cushing’s disease, kualitas hidup jangka panjang terbukti lebih buruk dibandingkan pasien dengan sindrom Cushing akibat penyebab adrenal, sehingga pendekatan tata laksana perlu disesuaikan secara individual (Gadelha et al., 2023; Fleseriu et al., 2023).
Prinsip Tata Laksana
Tata laksana definitif sindrom Cushing endogen bertujuan menghilangkan sumber kelebihan kortisol, yang umumnya melalui pembedahan—reseksi tumor hipofisis transsfenoidal pada Cushing’s disease, atau adrenalektomi pada kasus tumor adrenal. Bila pembedahan tidak memungkinkan, tidak tuntas, atau pasien menolak operasi, terapi medikamentosa dengan obat-obatan yang menghambat sintesis atau kerja kortisol dapat menjadi pilihan, di samping radioterapi pada kasus tertentu.
Hal yang tidak kalah penting adalah penatalaksanaan komorbiditas yang menyertai. Pedoman konsensus terbaru menegaskan bahwa strategi pengelolaan Cushing’s disease harus mempertimbangkan bagaimana komorbiditas dan komplikasi yang menyertainya dapat memengaruhi kesehatan dan kualitas hidup pasien, dan dalam banyak kasus komorbiditas tersebut perlu ditangani bersamaan dengan—atau bahkan sebelum—terapi spesifik untuk mengembalikan kadar kortisol normal. Artinya, mengontrol gula darah, tekanan darah, dan kesehatan tulang pasien tetap menjadi prioritas paralel, bukan menunggu kortisol terkontrol terlebih dahulu.
Mengapa Klinisi—Termasuk Dokter Layanan Primer—Perlu Waspada
Bagi tenaga kesehatan di layanan primer maupun fasilitas kesehatan tingkat lanjut di Indonesia, kewaspadaan terhadap sindrom Cushing penting ditingkatkan, terutama pada pasien dengan obesitas yang tidak lazim (misalnya dengan ekstremitas relatif kurus namun batang tubuh membesar), hipertensi dan diabetes yang sulit dikontrol pada usia muda, atau pasien yang sedang/pernah menggunakan kortikosteroid jangka panjang tanpa pengawasan ketat. Anamnesis riwayat pengobatan—termasuk penggunaan obat topikal, suntikan, atau jamu yang mengandung steroid—menjadi langkah skrining sederhana namun krusial sebelum melangkah ke pemeriksaan biokimia yang lebih kompleks dan mahal.
Rujukan ke dokter spesialis endokrin sedini mungkin setelah kecurigaan klinis yang kuat dan hasil skrining awal yang abnormal akan membantu mempercepat diagnosis dan mencegah komplikasi jangka panjang yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien secara signifikan.
Daftar Pustaka
Fleseriu, M., Auchus, R., Bancos, I., Ben-Shlomo, A., Bertherat, J., Biermasz, N. R., … & Melmed, S. (2021). Consensus on diagnosis and management of Cushing’s disease: A guideline update. The Lancet Diabetes & Endocrinology, 9(12), 847–875. https://doi.org/10.1016/S2213-8587(21)00235-7
Fleseriu, M., Varlamov, E. V., Hinojosa-Amaya, J. M., Langlois, F., & Melmed, S. (2023). An individualized approach to the management of Cushing disease. Nature Reviews Endocrinology, 19(10), 581–599. https://doi.org/10.1038/s41574-023-00868-5
Gadelha, M., Gatto, F., Wildemberg, L. E., & Fleseriu, M. (2023). Cushing’s syndrome. The Lancet, 402(10418), 2237–2252. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(23)01961-X
Langlois, F. (2024). Editorial: Insights in Cushing’s syndrome and disease, volume II. Frontiers in Endocrinology, 15, 1500755. https://doi.org/10.3389/fendo.2024.1500755
Motomura, Y., Urai, S., Bando, H., Yamamoto, M., Suzuki, M., Yamamoto, N., … (2024). Diagnostic dilemma in Cushing’s syndrome: Discrepancy between patient-reported and physician-assessed manifestations. Endocrine, 86, 417–427. https://doi.org/10.1007/s12020-024-03867-x
Nieman, L. K., Biller, B. M. K., Findling, J. W., Newell-Price, J., Savage, M. O., Stewart, P. M., & Montori, V. M. (2008). The diagnosis of Cushing’s syndrome: An Endocrine Society clinical practice guideline. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, 93(5), 1526–1540. https://doi.org/10.1210/jc.2008-0125





Tinggalkan Balasan