A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Siang itu di sebuah sungai kecil di pinggiran Sragen, seorang anak terpeleset dari bantaran dan tenggelam di air yang tampak tenang. Dalam hitungan detik, suasana berubah dari riang menjadi panik. Orang-orang berlarian, namun banyak yang justru ragu—apa yang harus dilakukan terlebih dahulu? Menariknya ke darat? Menekan dadanya? Memanggil ambulans?

Skenario semacam ini bukan kejadian langka. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mencatat bahwa tenggelam adalah penyebab kematian akibat cedera tidak disengaja terbesar ketiga di dunia, menyumbang 7% dari seluruh kematian terkait cedera, dengan estimasi 236.000 kematian setiap tahunnya. Kabar baiknya, angka kematian akibat tenggelam secara global telah menurun 38% sejak tahun 2000, dari 6,1 menjadi 3,8 per 100.000 populasi—namun penurunan ini tidak merata, dan sembilan dari sepuluh kematian akibat tenggelam masih terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah, termasuk Indonesia. Lebih memprihatinkan, hampir separuh kematian akibat tenggelam terjadi pada usia di bawah 29 tahun, dan seperempatnya pada anak di bawah usia 5 tahun.

Memahami langkah pertolongan pertama yang tepat—dan secepat mungkin—dapat menjadi penentu antara nyawa yang terselamatkan dan tragedi yang tak terhindarkan.

Apa yang Sebenarnya Terjadi Saat Seseorang Tenggelam?

Secara medis, drowning atau tenggelam didefinisikan sebagai proses gangguan pernapasan akibat submersi (tenggelam sepenuhnya) atau imersi (sebagian tubuh terendam) dalam cairan. Proses ini dapat berakhir dengan tiga kemungkinan hasil: kematian, morbiditas (cedera atau gangguan fungsi), atau tanpa morbiditas sama sekali jika korban segera tertolong.

Yang penting dipahami, mekanisme kematian pada tenggelam berbeda dari henti jantung akibat penyakit jantung. Pada tenggelam, tubuh mengalami kekurangan oksigen (hypoxia) terlebih dahulu akibat air masuk ke saluran napas atau terjadi laryngospasm (kejang pita suara), baru kemudian jantung berhenti berdetak sebagai akibat dari kekurangan oksigen tersebut—bukan sebaliknya. Inilah sebabnya mengapa urutan pertolongan pada korban tenggelam memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan henti jantung biasa.

Rantai Keselamatan Tenggelam (Drowning Chain of Survival)

Pembaruan terbaru dari American Heart Association (AHA) bersama American Academy of Pediatrics (AAP) tahun 2024—yang disusun berdasarkan kajian sistematis dari International Liaison Committee on Resuscitation (ILCOR)—memperkenalkan konsep Rantai Keselamatan Tenggelam. Konsep ini terdiri dari lima mata rantai yang saling terkait:

  1. Pencegahan — mencegah kejadian tenggelam sebelum terjadi
  2. Pengenalan — mengenali tanda bahaya secepat mungkin
  3. Penyelamatan yang aman — mengevakuasi korban tanpa membahayakan penyelamat
  4. Ventilasi dan resusitasi jantung paru (RJP) — memberikan napas bantuan dan kompresi dada
  5. Penanganan lanjutan — perawatan medis pasca-resusitasi

Pembaruan ini memuat 11 rekomendasi—dua di antaranya merupakan pembaruan dari pedoman sebelumnya, sembilan lainnya sepenuhnya baru, dan untuk pertama kalinya seluruh pedoman khusus tenggelam dikumpulkan dalam satu bab khusus, alih-alih tersebar di berbagai bagian terpisah.

Langkah-Langkah Pertolongan Pertama yang Tepat

1. Pastikan Keselamatan Diri Sendiri Terlebih Dahulu

Sebelum bertindak, penyelamat harus menilai apakah aman untuk masuk ke air. Banyak kasus tenggelam ganda terjadi karena penolong yang tidak terlatih ikut tenggelam saat berusaha menyelamatkan korban. Jika tidak yakin mampu berenang menuju korban dengan aman, gunakan alat bantu seperti tali, galah, pelampung, atau benda apung lain, dan segera minta bantuan orang lain serta hubungi layanan gawat darurat (118/119 atau nomor darurat setempat).

2. Evakuasi Korban ke Tempat Aman

Setelah korban berhasil dijangkau, segera bawa ke daratan atau permukaan yang stabil. Bagi penolong yang tidak terlatih, fokus utama adalah mengeluarkan korban dari air secepat mungkin sebelum memulai pertolongan lainnya.

Namun, bagi penolong yang terlatih (misalnya tenaga kesehatan, lifeguard, atau yang memiliki sertifikasi pertolongan pertama), pembaruan 2024 secara eksplisit mendukung pemberian napas bantuan di dalam air, karena ventilasi dini dapat mencegah perburukan dari henti napas menjadi henti jantung.

3. Nilai Respons dan Pernapasan Korban

Segera setelah korban berada di tempat aman:

  • Periksa kesadaran dengan memanggil dan merangsang korban
  • Periksa pernapasan dengan melihat gerakan dada, mendengarkan suara napas, dan merasakan hembusan napas (maksimal 10 detik)
  • Jika korban tidak bernapas normal atau tidak responsif, segera mulai resusitasi

4. Berikan Ventilasi Lebih Dahulu (untuk Penolong Terlatih)

Inilah perbedaan utama pertolongan pada tenggelam dibanding henti jantung akibat penyebab lain. Karena mekanisme dasarnya adalah kekurangan oksigen, ILCOR merekomendasikan urutan ventilasi terlebih dahulu, berbeda dari urutan kompresi-jalan napas-napas (Compression-Airway-Breathing) yang biasa diajarkan untuk henti jantung primer pada umumnya. Tujuh tinjauan sistematis yang menjadi dasar pembaruan ini mencakup topik seperti perbandingan resusitasi di dalam air versus ditunda, pemberian oksigen pasca-tenggelam, serta urutan kompresi dada-jalan napas-napas dibandingkan jalan napas-napas-kompresi dada.

Cara memberikan napas bantuan:

  • Buka jalan napas dengan teknik head tilt-chin lift (mendongakkan kepala dan mengangkat dagu)
  • Berikan dua kali napas bantuan, masing-masing berlangsung sekitar satu detik, cukup hingga dada terlihat naik
  • Jika dada tidak naik, periksa kembali posisi jalan napas dan ulangi

5. Lanjutkan dengan Kompresi Dada Jika Tidak Ada Tanda Sirkulasi

Jika setelah pemberian napas bantuan korban tetap tidak menunjukkan tanda kehidupan (tidak bernapas, tidak bergerak, tidak respons), lanjutkan dengan kompresi dada:

  • Posisikan tumit telapak tangan di tengah dada, antara kedua puting susu
  • Lakukan kompresi dengan kedalaman sekitar 5–6 cm pada dewasa, dengan kecepatan 100–120 kali per menit
  • Berikan kombinasi 30 kompresi dan 2 napas bantuan secara bergantian

Penting dicatat bahwa bagi penolong yang tidak terlatih atau tidak mampu memberikan napas bantuan, ILCOR menegaskan kompresi dada saja tetap lebih baik daripada tidak melakukan RJP sama sekali, meskipun bagi penolong terlatih, pemberian napas bantuan tetap diutamakan karena sifat hipoksik dari henti jantung akibat tenggelam.

6. Gunakan AED (Automated External Defibrillator) Jika Tersedia

Jika ditemukan alat AED di lokasi, segera gunakan begitu korban dikeluarkan dari air dan tubuhnya dikeringkan dari air yang membasahi dada. Pembaruan ILCOR turut mengevaluasi urutan penggunaan AED versus RJP terlebih dahulu pada henti jantung akibat tenggelam, serta implementasi akses publik terhadap defibrilator. Ikuti instruksi suara/visual pada alat tersebut.

7. Berikan Oksigen Tambahan Bila Tersedia dan Memungkinkan

Bagi penolong dengan akses ke peralatan medis (misalnya tenaga kesehatan atau tim gawat darurat), pemberian oksigen tambahan setelah kejadian tenggelam turut menjadi bagian dari rekomendasi yang dievaluasi dalam pembaruan ini, mengingat hipoksia merupakan inti permasalahan pada kondisi ini.

8. Segera Rujuk ke Fasilitas Kesehatan—Bahkan Jika Korban Terlihat Baik

Ini adalah poin yang sering diabaikan masyarakat: korban tenggelam yang tampak sadar dan bernapas normal setelah dievakuasi tetap harus dibawa ke fasilitas kesehatan untuk observasi. Air yang masuk ke paru-paru—meski dalam jumlah kecil—dapat memicu reaksi inflamasi yang baru muncul beberapa jam kemudian, dikenal sebagai secondary drowning atau edema paru lambat. Observasi medis minimal 4–8 jam pascakejadian sangat direkomendasikan, terutama pada anak-anak.

Hal-Hal yang Sebaiknya Dihindari

  • Jangan mengocok perut korban untuk mengeluarkan air—tindakan ini dapat menyebabkan korban muntah dan justru meningkatkan risiko aspirasi (masuknya muntahan ke saluran napas), serta membuang waktu berharga yang seharusnya digunakan untuk ventilasi
  • Jangan menunda RJP untuk mencari fasilitas evakuasi yang “ideal”—mulai pertolongan begitu korban berada di permukaan stabil yang aman
  • Jangan abaikan korban yang “terlihat baik-baik saja”—observasi medis tetap penting untuk mendeteksi komplikasi lanjutan

Pencegahan: Investasi Jangka Panjang yang Lebih Murah daripada Pengobatan

WHO menegaskan bahwa pertolongan pertama hanyalah lapisan terakhir dari pertahanan terhadap tenggelam. Pencegahan tetap menjadi strategi paling efektif. Laporan terbaru WHO memperkirakan bahwa peningkatan investasi pada program penitipan anak (day-care) serta pengajaran keterampilan dasar berenang dan keselamatan air dapat mencegah 774.000 kematian anak akibat tenggelam hingga tahun 2050, dengan potensi penghematan lebih dari 400 miliar dolar AS—sembilan kali lipat dari biaya investasinya. Sayangnya, secara global 86% negara masih belum memiliki regulasi pemagaran kolam renang, sebuah intervensi sederhana namun terbukti efektif mencegah tenggelam pada anak.

Bagi konteks Indonesia—negara dengan ribuan sungai, danau, dan garis pantai yang panjang, serta budaya bermain air sejak usia dini—edukasi keselamatan air kepada anak dan pengawasan orang tua yang konsisten tetap menjadi pilar pencegahan yang tidak tergantikan oleh teknologi maupun fasilitas kesehatan secanggih apa pun.

Penutup

Tenggelam adalah kondisi yang berkembang dalam hitungan menit, namun dampaknya dapat berlangsung seumur hidup—atau berakhir dengan kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Pemahaman tentang urutan pertolongan yang tepat, terutama prioritas pada ventilasi dini bagi penolong terlatih, dapat menjadi pembeda antara korban yang pulih sempurna dan yang mengalami kerusakan neurologis permanen. Edukasi pertolongan pertama tenggelam—baik bagi tenaga kesehatan, guru, maupun masyarakat umum di sekitar perairan—merupakan investasi kesehatan masyarakat yang sederhana namun terbukti menyelamatkan nyawa.


Daftar Pustaka

American Heart Association, & American Academy of Pediatrics. (2024). 2024 American Heart Association and American Academy of Pediatrics focused update on special circumstances: Resuscitation following drowning—An update to the American Heart Association guidelines for cardiopulmonary resuscitation and emergency cardiovascular care. Circulation. https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000001274

International Liaison Committee on Resuscitation. (2024). 2024 ILCOR consensus on science with treatment recommendations. ILCOR. https://ilcor.org/news/ilcor-consensus-on-science-with-treatment-recommendations

World Health Organization. (2024a). Drowning [Fact sheet]. WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/drowning

World Health Organization. (2024b). Global status report on drowning prevention 2024. WHO. https://www.who.int/publications/i/item/9789240103962

World Health Organization. (2024c, Desember 13). Drowning deaths decline globally but the most vulnerable remain at risk [Siaran pers]. WHO. https://www.who.int/news/item/13-12-2024-drowning-deaths-decline-globally-but-the-most-vulnerable-remain-at-risk

Artikel Baru Terbit

  • Dunia dalam Diam: Memahami Ketulian dari Bilik Bersalin hingga Usia Senja
    Gangguan pendengaran menyunyikan dunia lebih dari 430 juta orang secara global, dan tak luput dari Indonesia. Dari skrining bayi baru lahir hingga kaitannya dengan risiko demensia pada lansia, artikel ini mengupas mengapa ketulian bukan sekadar “kurang dengar”—melainkan persoalan kesehatan masyarakat yang sebagian besar dapat dicegah dan ditangani sejak dini.
  • Ketombe: Ketika Kulit Kepala Bercerita Lebih dari Sekadar Gatal
    Ketombe bukan sekadar masalah kosmetik—ia hasil interaksi kompleks antara jamur Malassezia, produksi sebum, dan sawar kulit kepala yang terganggu. Di Indonesia, iklim tropis dan kelembapan tinggi membuat prevalensinya lebih besar dibanding banyak negara lain. Kenali kapan cukup diatasi sendiri, dan kapan perlu ke dokter.
  • CMV, Virus yang Bersembunyi di Balik “Flu Biasa” Kehamilan
    CMV, virus herpes yang menginfeksi mayoritas populasi tanpa gejala berarti, menjadi penyebab utama gangguan pendengaran kongenital non-genetik di dunia. Artikel ini mengulas epidemiologi CMV di Indonesia, tantangan skrining dan diagnosis, peran valasiklovir dan valgansiklovir, serta kegagalan vaksin mRNA Moderna 2025 yang mengguncang harapan pencegahan CMV kongenital global.
  • Mitos Medis: Menua Itu Pasti, tapi Merana Bukan Keharusan
    Menua itu pasti, tapi banyak “kebenaran umum” tentangnya ternyata mitos—dari olahraga yang katanya sia-sia hingga demensia yang dianggap tak terhindarkan. Artikel ini membedah tujuh mitos penuaan berdasarkan bukti ilmiah terbaru, sekaligus mengulas realitas populasi lansia Indonesia yang kian menua namun berpotensi tetap sehat dan produktif.
  • Tak Ada Level Aman Minum Alkohol: Yang Diungkap Tiga Studi Terbaru tentang Kanker, Otak, dan Risiko Kematian Dini
    Tiga studi terbaru 2026 menegaskan: tak ada batas aman minum alkohol. Dua gelas sehari menaikkan risiko kanker kolorektal 91%, konsumsi rendah tetap menurunkan aliran darah otak, dan satu gelas sehari berkontribusi pada kematian dini akibat kanker serta sirosis. Simak bukti lengkapnya dan artinya bagi kesehatan masyarakat Indonesia.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca