Bayangkan seorang ibu berusia 68 tahun di Sragen yang punya riwayat fibrilasi atrium dan sudah lama tidak kontrol. Pagi itu ia mendadak mengeluh nyeri perut yang sangat hebat, seperti diremas. Anehnya, ketika perutnya diperiksa dokter, perut terasa relatif lunak dan nyerinya tampak jauh lebih besar daripada temuan pemeriksaan. Situasi inilah yang membuat iskemia mesenterika akut sering terlambat dikenali, padahal angka kematiannya tinggi.
Apa itu iskemia mesenterika akut?
Iskemia mesenterika akut (acute mesenteric ischemia, AMI), yang dalam klasifikasi penyakit disebut juga insufisiensi vaskular akut pada usus, adalah kelompok kondisi ketika aliran darah ke sebagian usus terputus secara mendadak. Tanpa pasokan darah, dinding usus kekurangan oksigen, meradang, lalu dapat mati (nekrosis) dan bocor ke rongga perut. Pedoman World Society of Emergency Surgery (WSES) mencatat kejadiannya memang jarang, sekitar 0,09–0,2% dari seluruh pasien bedah darurat, tetapi meningkat seiring usia, dan bila tidak ditangani angka kematiannya mendekati 50% (Bala dkk., 2022).
Mengapa aliran darah ke usus bisa terputus?
Usus mendapat darah terutama dari arteri mesenterika superior, dan sebagian dari arteri mesenterika inferior serta arteri seliaka. Gangguan pada pembuluh-pembuluh ini dapat terjadi lewat beberapa jalur, dan masing-masing punya “watak” yang berbeda.
| Jenis | Mekanisme | Pemicu atau latar belakang khas |
|---|---|---|
| Emboli arteri | Gumpalan dari jantung menyumbat arteri mesenterika superior secara mendadak | Fibrilasi atrium, katup jantung buatan, serangan jantung lama |
| Trombosis arteri | Sumbatan pada pembuluh yang sebelumnya sudah menyempit akibat aterosklerosis | Perokok, hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi; kadang ada nyeri perut sehabis makan beberapa bulan sebelumnya |
| Iskemia non-oklusif | Aliran darah turun karena tekanan darah rendah dan pembuluh usus menciut, tanpa sumbatan nyata | Syok, gagal jantung berat, sepsis, dialisis, obat penyempit pembuluh |
| Trombosis vena mesenterika | Pembekuan di vena sehingga darah tidak dapat keluar dari usus | Gangguan pembekuan darah, sirosis, keganasan, pankreatitis, peradangan perut |
Dari sisi tubuh, usus yang kekurangan darah mulai rusak dalam hitungan jam, dimulai dari lapisan dalamnya (mukosa). Kerusakan ini lalu menembus ke seluruh dinding usus, membuat bakteri dan racun masuk ke aliran darah, sehingga pasien bisa jatuh ke dalam sepsis dan syok.

Gejala yang perlu diwaspadai
Ciri klasik adalah nyeri perut mendadak yang sangat hebat dan tidak sebanding dengan temuan pemeriksaan fisik, sering disertai mual, muntah, atau diare, kadang dengan tinja bercampur darah. Pada tahap lanjut, perut menjadi tegang dan kaku, demam, denyut jantung cepat, dan tekanan darah turun, tanda bahwa dinding usus sudah rusak berat. Masalahnya, gejala awal tidak khas dan mudah disangka maag, gastroenteritis, atau kolik biasa, terutama pada lansia yang keluhannya sering samar.
Siapa yang berisiko?
Usia lanjut, fibrilasi atrium yang tidak mendapat antikoagulan, penyakit jantung dan pembuluh darah, gagal jantung, merokok, serta kondisi yang membuat darah mudah menggumpal merupakan faktor risiko utama. Di Indonesia, kelompok yang patut diwaspadai antara lain penderita fibrilasi atrium atau penyakit jantung katup yang putus obat, pasien hemodialisis di Surabaya atau Makassar yang mengalami penurunan tekanan darah berulang, dan pasien sepsis atau syok di ruang rawat intensif.
Bagaimana diagnosisnya?
Tidak ada pemeriksaan darah yang cukup andal untuk mengonfirmasi atau menyingkirkan AMI. Laktat dan D-dimer dapat meningkat, tetapi nilai normal tidak menyingkirkan penyakit ini. Pemeriksaan penentu adalah CT angiography (CTA) perut dengan kontras, yang dapat menunjukkan sumbatan pembuluh dan kerusakan dinding usus. Pedoman WSES menekankan agar CTA segera dilakukan pada pasien yang dicurigai, tanpa menunggu hasil laboratorium, dan jangan menunda hanya karena kekhawatiran terhadap fungsi ginjal (Bala dkk., 2022). Di fasilitas tanpa CT, pasien dengan kecurigaan tinggi sebaiknya dirujuk secepatnya ke rumah sakit yang memiliki CT, bedah, dan radiologi intervensi.
Tata laksana: waktu adalah usus
Penanganan berjalan paralel: resusitasi cairan dan perbaikan kondisi umum, antibiotik spektrum luas, serta pemberian antikoagulan (umumnya heparin) bila tidak ada kontraindikasi, kemudian pemulihan aliran darah. Pemulihan aliran dapat dilakukan lewat pembedahan terbuka, tindakan endovaskular (misalnya trombektomi atau pemasangan stent), atau kombinasi keduanya. Bila ada usus yang sudah mati, bagian itu harus dipotong. Pada jenis non-oklusif, fokus utama adalah memperbaiki penyebabnya, yaitu syok atau gagal jantung, dan menghindari obat penyempit pembuluh. Pedoman terbaru European Society for Vascular Surgery (ESVS) 2025 menyusun 102 rekomendasi untuk penyakit pembuluh mesenterika dan ginjal, termasuk bentuk akut, non-oklusif, dan vena (Koelemay dkk., 2025). Pendekatan multidisiplin antara bedah, radiologi intervensi, dan perawatan intensif menjadi kunci.
Pencegahan dan kapan harus ke IGD
Pencegahan berpijak pada pengendalian penyakit dasar: minum obat pengencer darah sesuai anjuran pada fibrilasi atrium, mengontrol tekanan darah, gula darah, dan kolesterol, berhenti merokok, serta tidak menghentikan obat jantung tanpa konsultasi. Keluhan nyeri perut setelah makan yang berulang disertai penurunan berat badan perlu diperiksa karena dapat menjadi tanda iskemia kronik, yang kadang berkembang menjadi akut (Terlouw dkk., 2020).
Segera ke instalasi gawat darurat bila muncul nyeri perut mendadak yang sangat hebat, terutama pada lansia atau orang dengan penyakit jantung, apalagi disertai muntah, tinja berdarah, perut kaku, lemas, atau pingsan. Jangan menunggu sampai nyerinya “reda sendiri”.
Referensi
- Bala M, Catena F, Kashuk J, dkk. Acute mesenteric ischemia: updated guidelines of the World Society of Emergency Surgery. World J Emerg Surg. 2022;17:54. doi:10.1186/s13017-022-00443-x
- Koelemay MJ, Geelkerken RH, Kärkkäinen J, dkk. ESVS 2025 Clinical Practice Guidelines on the Management of Diseases of the Mesenteric and Renal Arteries and Veins. Eur J Vasc Endovasc Surg. 2025;70(2):153–218. doi:10.1016/j.ejvs.2025.06.010
- Terlouw LG, Moelker A, Abrahamsen J, dkk. European guidelines on chronic mesenteric ischaemia. United European Gastroenterol J. 2020;8(4):371–395. doi:10.1177/2050640620916681





Tinggalkan Balasan