A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Mari kucoba untuk kuhitung-hitung kembali…, Hamm…, nampaknya sudah lebih dari satu tahun aku tidak kembali ke rumah…. Entahlah, pendidikanku sudah lebih dari lima tahun membuatku sangat jarang berada di rumah dan halaman yang menjadi tempatku bermain semenjak kecil. Dan itu waktu yang cukup untuk membuat baik interior maupun eksterior suatu tempat tinggal untuk berubah, sayangnya bukan hal-hal yang besar namun kecil ini yang akan menyentuh dalam setiap jejak kenangan yang membawa sebuah pikiran dan ingatan dengan segala keterbatasannya, untuk dalam sebuah kata yang dibuat oleh segenap kekurangan si manusia, akan apa yang kita sebut “rumah”.

Bentuknya mungkin berubah, perasaan yang menyertainya mungkin juga ikut berubah, namun manusia memiliki sebuah sudut lemah yang teramat kuat, yang dikenal sebagai “ikatan”, bak seuntai benang tipis yang akan bergetar ketika ujungnya tersentuh. Getaran ini mungkin begitu familiar, namun di sisi lain juga begitu asing, ia mungkin bagian dari ingatan yang tak kentara atau ia bukan dari apa yang dapat kita persepsikan. Namun jelas, bagi mereka yang juga pernah mengalaminya sehingga begitu saja menempatkan mereka ke dalam kata sederhana seperti de’javu, hmm…, sayangnya kata-kata apa pun itu, hanya akan menenggelamkan getaran ini.

Bukan rerumputan atau pepohonan yang menghijau, bukan lapukan dari langit-langit atau tembok yang tua, bukan oleh buramnya kaca-kaca jendela yang terhiasi oleh banyak goresan kecil, seperti aku mungkin engkau tak dapat memandang detail ini satu per satu, namun seketika…, ya, seketika, saat itu jua, ketika semua indera bereaksi menangkap getaran kecil ini, seolah sang jiwa sedikit tersentak, dan barulah si perhatian mulai diberikan pada detail-detail …, walau hanya dalam pandangan, sentuhan atau pun pengecapan, pembauan…. dan engkau akan tersenyum…, karena yang manis ini bukan madu kehidupan, yang merdu ini bukan kidung keagungan, yang lembut ini bukan terpaan kemesraan, ia sungguh bukan apa-apa dalam kesederhanaan, namun ialah segalanya.

Dan kini …, aku kembali ke rumahku…, setidaknya itulah dalam kenangku.

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Gula Darah Anak Terjun Bebas: Panduan Penanganan Hipoglikemia Pediatrik Sesuai Pedoman Terbaru
    Hipoglikemia pada anak adalah kondisi darurat yang membutuhkan penanganan cepat. Anak sadar harus diberikan glukosa oral 0,3 g/kg, sedangkan anak tidak sadar membutuhkan dekstrosa 10% intravena 2 mL/kg atau glukagon. Pengambilan sampel kritis sebelum terapi penting untuk identifikasi penyebab hipoglikemia secara tepat.
  • Diabetes: Membongkar Mitos yang Masih Dipercaya di Indonesia
    Sebelas mitos seputar diabetes—dari anggapan gula sebagai penyebab langsung hingga klaim obat herbal penyembuh instan—dibedah dengan bukti ilmiah dan data terbaru. Prevalensi diabetes Indonesia mencapai 11,7% (SKI 2023), namun mayoritas penyandang belum terdiagnosis. BPOM memperingatkan bahaya produk herbal ilegal yang mengklaim menyembuhkan “kencing manis”.
  • Bukan Sekadar Ramah di Loket: Memahami Patient-Centered Care sebagai Sistem Kerja
    Patient-centered care kerap disalahpahami sebagai keramahan petugas atau kelengkapan berkas akreditasi. Artikel ini menelusuri definisi, bukti ilmiah terbaru, dan payung regulasi Indonesia — UU 17/2023, STARKES KMK 1596/2024, serta indikator nasional mutu — lalu menawarkan langkah praktis tiga lapis bagi klinisi, kepala unit, dan manajemen fasilitas kesehatan.
  • Hari Keberapa Demamnya? Cara Membaca Pemeriksaan Penunjang Dengue, DBD, dan Sindrom Syok Dengue Secara Tepat
    Diagnosis dengue bergantung pada hari demam. NS1 dan RT-PCR berguna pada hari 1–7, serologi IgM setelah hari ke-7. Di Indonesia, sensitivitas NS1 RDT hanya 73–80%, sehingga hasil negatif tidak menyingkirkan dengue. Kombinasi NS1+IgM meningkatkan sensitivitas. Pemantauan hematokrit dan trombosit serial tetap penentu utama keselamatan pasien.
  • Membaca Demam yang Tak Kunjung Turun: Peta Lengkap Pemeriksaan Penunjang Demam Tifoid
    Diagnosis demam tifoid bertumpu pada pemeriksaan yang lambat namun akurat, atau cepat namun meleset. Artikel ini membedah kultur darah, kultur sumsum tulang, Widal, Tubex, Typhidot, dan PCR — sensitivitas, spesifisitas, teknik pengambilan sampel, serta cara membacanya bersama probabilitas pra-uji agar antibiotik tidak diberikan sia-sia.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. Avatar amir
    amir

    mana oleh2nya?apa siap di laparotomi?

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca