A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Saya melihat sebuah video promosi di YouTube yang menginformasikan Jolicloud 2 akan segera tiba. Saya sudah berharap lama versi mereka ditingkatkan, karena sebagai pengguna saya merasa Jolicloud banyak tertinggal di belakang di sisi usabilitas dibandingkan sistem operasi populer lainnya ala Ubuntu atau Android, dan kini Chromebook juga sudah mulai merambah dunia Cloud OS.

Sebagai sistem operasi yang mengusung komputasi awan, dan bisa dijalankan di pelbagai komputer tua, Jolicloud masih merupakan favorit saya saat ini (mungkin alasan klasik karena tidak bisa mencicipi Chrome OS). Saya sebenarnya ingin menggunakan Jolicloud di mana-mana, karena ini satu-satu sistem operasi terbuka yang bisa ditempatkan di mana-mana, alasan sederhana bukan? Seperti pengguna produk Apple yang memilik Mac OS di komputer dan iOS di ponsel, maka Jolicloud bisa menggunakan metode serupa dengan menerapkan Joli OS di komputer, dan mungkin Jolidrive dalam bentuk tertentu di ponsel atau tablet.

Cukup satu kali masuk untuk semua layanan web yang ada, bersifat pribadi, dan diakses mudah di mana saja. Mungkin slogan mereka cukup pas kali ini dengan menyebut Jolicloud – A place to call home.

Hanya saja belum ada kabar kapan sistem operasi generasi kedua mereka ini muncul. Jangan sampai terlalu lama seperti yang terjadi pada Luna dari Elementary OS, meskipun indah, tapi terlalu lama sekali – membuat yang menunggu menjadi jenuh.

Kalau melihat sekilas video di atas, ada kemungkinan Jolicloud 2 memiliki fitur seperti iGoogle (yang sayangnya sudah akan ditutup). Bisa jadi pengguna iGoogle memperoleh rumah baru mereka di Jolicloud 2 ini. Namun juga sepertinya lebih cenderung ke dalam gaya layar sentuh, apakah ini bermakna Jolicloud akan hadir kembali di Android?

Saya punya banyak pertanyaan, tapi tentunya tidak akan bisa terjawab dengan cepat, hanya November ini adalah janji peluncurannya.

https://www.youtube.com/watch?v=BcMfT7glme0

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar gadgetboi

    A place to call Home …. if you have enough bandwidth 😀 … Cloud OS not for me LOL

    1. Avatar Cahya

      Hari gini masih khawatir lebar pita? Minta sama mekominfo dong :p

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca