A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Jumlah penderita thalassemia di dalam negeri tidaklah sedikit, saat ini hal yang paling umum yang dapat dilakukan dunia media untuk membantu orang-orang dengan thalassemia adalah melakukan transfusi darah berulang ketika tubuh kehilangan darah melalui perombakan darah yang rusak secara berlebihan. Namun prosedur seperti ini dan akibat kondisi thalassemia itu sendiri berdampak tubuh seseorang akan berlebihan atau terbebani oleh kadar zat besi yang tinggi.

Dalam 1 liter darah terdapat kurang lebih 500 mg zat besi (Fe), dan tubuh dalam kondisi normal setiap harinya akan kehilangan besi kurang lebih 1 mg. Oleh karenanya jika seseorang mendapatkan transfusi dalam secara terus menerus tanpa disertai adanya pendarahan yang kronis maka zat besi bersama darah transfusi akan tertimbun dalam tubuh dan mengakibatkan hemosiderosis transfusional (HT).

Penimbunan zat besi pada organ-organ tubuh menyebabkan terganggunya fungsi organ yang bersangkutan. HT umumnya terjadi pada pasien yang mengalami transfusi kronis seperti pada pasien anemia aplastik, anemia hemolitik dan Thalassemia.

Untuk mengurangi kemungkinan HT maka dapat diusahakan pemberian transfusi seminimal mungkin atau eritrosit yang ditransfusikan terpilih yang masih muda (neocyte) untuk memperpanjang usia eritrosit. Dapat juga digunakan medikasi membantu meningkatkan ekskresi besi melalui urine (Iron Chelation Therapy) dengan Desferrioxamine (Desferal) dosis 20-40 mg/KgBB per sub-kutan. Penderita Thalassemia sering kali kekurangan vitamin C sehingga pemberian 100 mg/hari akan membantu memperbaiki efek chelation, namun perlu dipertimbangkan bahwa vitamin C akan menambah reabsorpsi zat besi sehingga pemberian harus benar-benar dengan pertimbangan konsultan kesehatan/gizi yang ahli.

Selama periode transfusi konsumsi zat besi pada pasien Thalassemia juga dikurangi guna mengurangi kemungkinan HT. Jika kemungkinan besar terjadi penumpukan zat besi pada pasien, maka pasien dapat menjalan protokol diet bagi pasien dengan hemochromatosis dan anemia yang telah dimodifikasi. Pada pasien pemberian protein hewani tetap dapat diberikan, misal dengan pemberian ikan laut harus dimasak dengan baik sebelum dikonsumsi (tidak mentah atau setengah matang). Tidak juga disarankan untuk pemberian vitamin C buatan, kecuali yang berasal dari sumber natural. Konsumsi teh setelah makan juga dapat membantu menghambat penyerapan zat besi, karena tannin di dalamnya berperan sebagai inhibitor, namun ini bukanlah sebuah terapi pengganti diet. Pengambilan darah secara reguler untuk mengurangi penumpukan besi tidak merupakan terapi yang disarankan. Baik diet zat besi maupun penggunaan terapi iron chelating agents, pasien sebaiknya dipantau kadar besi serumnya secara berkala.

Pengurangan rekurensi transfusi pada pasien thalassemia juga dapat dilakukan guna menghambat terjadinya HT. Splenectomi pada merupakan pilihan pada pasien thalassemia dengan hiperplasia splenomegali. Penelitian pada anak dengan SCA (Ahmed, 2006), menunjukkan bahwa dengan manajemen pre-operasi yang baik, splenektomi tidak hanya aman, namun juga bermanfaat dalam mengurangi frekuensi transfusi pada pasien, serta menghilangkan ketidaknyamanan dan tekanan mekanis akibat pembesaran limpa. Sebuah studi perbandingan antara splenektomi parsial (SP) dan splenektomi total (ST) pada pasien ?–thalassemia menunjukkan bahwa pada kedua tindakan dapat menurunkan keperluan transfusi pada pasien hingga tiga kali lipat jumlah sebelum operasi. 3 tahun pasca operasi 22,7% pada SP dan 13,3% pada ST memerlukan kembali jumlah transfusi yang sama seperti sebelum operasi, dan menjadi 27,3% pada SP dan 18,3% pada ST setelah 5 tahun. Dari 143 kasus yang diikuti selama periode 1991-1999, 2 pasien SP dan 6 pasien ST menunjukkan tanda-tanda sepsis yang kemungkinan besar adalah dampak splenektomi, (Bahador, et all 1999). Beberapa pendapat lain menyatakan perlu pemberian imunisasi pre-operasi oleh karena adanya resiko sepsis pasca operasi (overwhelming post-splenectomy infection), namun beberapa pendapat lainnya menyatakan pemberian imunisasi tidak bermakna.

Simpulan:

Pada pasien thalassemia yang menjalani transfusi berulang memiliki kemungkinan risiko untuk mengalami hemosiderosis transfusional yang dapat mengakibatkan gangguan multi organ. Tatalaksana untuk risiko ini adalah meningkatkan ekskresi zat besi dengan terapi iron chelating agents (e.g. deferoxamine, deferiprone, deferasirox), mengurangi asupan zat besi dengan diet zat besi sesuai dengan kebutuhan (dipantau dengan pengukuran kadar besi serum secara berkala). Splenektomi dapat dilakukan dengan indikasi mengurangi frekuensi transfusi, sehingga menurunkan risiko hemosiderosis transfusional. Namun perlu diperhatikan bahwa risiko terjadinya sepsis meningkat pada pasien pasca splenektomi.

Daftar Pustaka:

Bahador, Ali., et all. 1999. A Comparative Study of Partial vs Total Splenectomy in Thalassemia Major Patients. Journal of Indian Association Pediatric Surgery – July/September 2007 – Vol. 12 – Issue 3. Aviable at URL: http://www.jiaps.com.

Wolff, James A., et all. 1960. Effect of Splenectomy on Thalassemia. Pediatric® Official Journal of The American Academy of Pediatrics 1960;26;674-678. Aviable at URL: http://www.pediatrics.org.

Muljono, Budi. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Sub Hematologi – Sub Hipersplenisme. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Hal. 681.

Al-Salem, Ahmed H. 2006. Indications and Complications of Splenectomy in Children with Sickle Cell Disease. Journal of Pediatric Surgery – November, Volume 41, Issue 11, Pages 1909-1915. Aviable at URL: http://www.jpedsurg.org.

Artikel: Hemochromatosis and Anemia Diet. 2002. Iron Overload Disease Assn. Inc. Aviable at: URL: http://www.ironoverload.org/Diet.html.

Artikel: Hemosiderosis and Iron Overload. 2007. Morefocus Group Inc. Aviable at URL: http://www.about-blood-disorders.com/articles/iron-disorders/hemosiderosis.php.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca