Diperbarui: 12 Oktober 2026. Artikel ini pertama kali ditulis pada 2009 sebagai telaah singkat; isinya kini disusun ulang dengan data dan pedoman terbaru.

Setetes darah, satu kaset, dan dua garis
Bayangkan sebuah Puskesmas di pedalaman Kabupaten Mimika, Papua Tengah (ilustrasi fiktif). Seorang petani datang dengan demam menggigil tiga hari. Petugas laboratorium sedang bertugas ke kampung, dan mikroskop menunggu tenaga yang terlatih. Dengan setetes darah dari ujung jari dan sebuah kaset kecil, perawat memperoleh jawaban dalam kurang lebih seperempat jam. Itulah daya tarik rapid diagnostic test (RDT) malaria, yang dahulu sering disebut tes kromatografi atau ICT (immunochromatographic test).
Pertanyaan yang saya kaji pada 2009 masih relevan: seberapa tepat tes ini, dan kapan hasilnya boleh dipercaya? Malaria masih besar bebannya. Menurut lembar fakta WHO, ada sekitar 282 juta kasus dan 610.000 kematian di dunia pada 2024. Di Indonesia, Kemenkes melaporkan 412 dari 514 kabupaten/kota sudah bersertifikat bebas malaria, tetapi kasus nasional 2025 tercatat 706.297 (naik dari 543.965 pada 2024) dan sekitar 95% berada di wilayah Papua. Kemenkes menilai kenaikan itu sebagian besar mencerminkan penemuan kasus aktif dan pelaporan digital (SISMAL) yang lebih baik.
Jalur diagnosis malaria
WHO menganjurkan setiap kasus suspek malaria dikonfirmasi dengan pemeriksaan parasit, baik mikroskopis maupun RDT, sebelum pengobatan. Pasien yang hasil tesnya negatif perlu dicari penyebab demam lainnya. Aturan nasional sejalan: Permenkes 22 Tahun 2022 tentang Penanggulangan Malaria mewajibkan penemuan kasus dengan pemeriksaan laboratorium dan pengobatan berdasarkan pemeriksaan darah. Status regulasi ini perlu dicek berkala karena kerangka penanggulangan penyakit terus diperbarui.
| Metode | Kelebihan | Keterbatasan |
|---|---|---|
| Sediaan darah tebal dan tipis (mikroskopis) | Baku emas lapangan; menghitung kepadatan parasit dan mengenali spesies serta stadium | Butuh mikroskopis terlatih, alat, listrik, dan waktu; mutu bervariasi antarlaboratorium |
| RDT imunokromatografi | Cepat, tanpa listrik, mudah dilatih; cocok untuk kader, Puskesmas terpencil, dan IGD | Tidak menghitung parasit; positif bisa bertahan setelah sembuh; ada risiko negatif palsu |
| PCR/NAAT | Mendeteksi infeksi kepadatan sangat rendah; memastikan spesies | Mahal, butuh laboratorium rujukan |
Cara kerja RDT
RDT mendeteksi antigen parasit dalam darah, lalu menampilkannya sebagai garis berwarna pada strip. Ada tiga target antigen yang lazim:
| Antigen | Spesifik untuk | Catatan |
|---|---|---|
| Histidine-rich protein 2 (HRP2) | P. falciparum saja | Protein larut air dari stadium aseksual dan gametosit; dapat tetap terdeteksi beberapa minggu setelah parasit hilang |
| Parasite lactate dehydrogenase (pLDH) | Ada versi pan-Plasmodium dan versi khusus P. vivax | Enzim glikolitik yang hanya dihasilkan parasit hidup, sehingga lebih baik untuk memantau respons terapi |
| Aldolase | Semua spesies (pan-malaria) | Umumnya kurang sensitif dibanding HRP2 untuk P. falciparum |
Seberapa akurat?
Kriteria teknis WHO-USAID pada konsultasi 1999 menetapkan RDT harus setidaknya seakurat mikroskopis teknisi lapangan, dengan sensitivitas keseluruhan di atas 95% (mendekati 100% pada kepadatan di atas 100 parasit aseksual per mikroliter) dan spesifisitas minimal 90%. Sensitivitas dianggap yang paling kritis karena negatif palsu berarti penyakit yang berpotensi fatal tidak diobati.
Bukti yang lebih mutakhir cukup menenangkan. Review sistematik Cochrane oleh Abba dan kawan-kawan (2011) menyimpulkan RDT berbasis HRP2 untuk P. falciparum tanpa komplikasi memiliki sensitivitas gabungan 95,0% dan spesifisitas gabungan 95,2%. Beberapa studi dari dalam negeri pada era awal penggunaan RDT juga menunjukkan hasil yang baik, misalnya sensitivitas 100% dengan spesifisitas 96,7% pada studi Ima Arum dan kawan-kawan (2005), serta sensitivitas 97% dengan spesifisitas 100% pada studi Agustini dan Widayanti. Namun angka pada studi lama sangat bervariasi antarmerek, kondisi lapangan, dan pembanding yang dipakai (mikroskopis atau PCR), sehingga tidak boleh dibandingkan begitu saja satu dengan yang lain.
Batasan yang perlu diwaspadai
- Kepadatan parasit rendah. Pada parasitemia sangat rendah, RDT dapat negatif. Bila klinis sangat kuat, ulangi pemeriksaan atau rujuk untuk mikroskopis/PCR.
- Positif yang menetap. Antigen HRP2 bisa bertahan setelah parasit mati, sehingga RDT tidak cocok untuk menilai kesembuhan.
- Delesi gen pfhrp2/3. Parasit yang kehilangan gen HRP2/HRP3 tidak menghasilkan protein target, sehingga lolos dari RDT berbasis HRP2. WHO mencatat parasit semacam ini di 42 negara endemis pada 2024, dengan prevalensi di atas 15% di Brasil, Djibouti, Eritrea, Etiopia, Nikaragua, dan Peru. Pemodelan di Nature Medicine (Watson dkk., 2025) memperkirakan delesi dapat menyebar di Afrika Timur bila RDT berbasis HRP2 tetap menjadi andalan; ambang WHO untuk mengganti jenis RDT adalah ketika sekitar 5% infeksi bermakna klinis terlewat karena delesi. Data delesi dari Indonesia tidak tercakup dalam sumber yang saya telaah, jadi surveilans tetap penting.
- Kualitas produk dan penyimpanan. Panas dan kelembapan merusak kaset. Indonesia sedang memperkuat pengujian lot RDT di laboratorium rujukan nasional agar mutu bisa diverifikasi secara mandiri (Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, 2022).
Menggunakan RDT dengan bijak
RDT sangat berguna untuk penemuan kasus aktif oleh juru malaria desa, diagnosis di IGD pada dugaan malaria berat, dan fasilitas tanpa mikroskopis. Tetapi tes ini pelengkap, bukan pengganti penilaian klinis dan mikroskopis yang bermutu. Pedoman praktisnya: gunakan RDT yang terjamin mutu, ikuti petunjuk pabrik, baca hasil pada waktu yang tepat, catat hasil, dan pertahankan jaminan mutu mikroskopis di fasilitas rujukan. Pertimbangkan juga efektivitas biaya sebelum memilih metode di suatu lokasi. Untuk dosis dan regimen obat, rujuk selalu pedoman nasional dan pembaruan pedoman WHO 2026.
Bacaan terkait di blog ini: Malaria di 2025 dan Mencegah Malaria ketika Bepergian.
Rujukan
- WHO. Malaria fact sheet (data World Malaria Report 2025)
- WHO Global Malaria Programme. Diagnosis
- Abba K dkk. Rapid diagnostic tests for diagnosing uncomplicated P. falciparum malaria in endemic countries. Cochrane 2011
- Watson OJ dkk. Global risk of selection and spread of P. falciparum hrp2 and hrp3 gene deletions. Nat Med 2025;31(10):3372-9
- Kemenkes RI. Hari Malaria Sedunia 2026: capaian eliminasi malaria
- Permenkes No. 22 Tahun 2022 tentang Penanggulangan Malaria
- WHO. New Perspectives: Malaria Diagnosis (1999); Ima Arum L dkk. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory 2006;12(3):118-22 (sumber asli artikel 2009).




Tinggalkan Balasan