A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Dahulu, terkisahlah seorang raja yang memiliki kebiasaan mengajukan tiga buah pertanyaan pada orang-orang yang ia jumpai. Pertama ia akan menanyakan siapakah orang yang terbaik, kemudian kapankah saat yang terbaik, dan terakhir sang raja akan bertanya, apakah perbuatan yang terbaik. Sang raja begitu berhasrat untuk mendapatkan jawaban atas ketiga pertanyaannya tersebut.

Suatu ketika sang raja bepergian ke hutan-hutan dan perbukitan, melewati padang rumput yang luas. Dari kejauhan ia melihat sebuah ashram (asrama pendidikan untuk para murid dan para suci), segara dikunjunginya tempat itu agar dapat beristirahat dari lelahnya. Pada saat tiba di hadapan ashram, dilihatnya seorang sadhu (orang suci) sedang menyirami tanaman di sekeliling ashram. Sadhu tersebut dapat memahami bahwa sang raja begitu kelelahan, ia berhenti menyiram tanaman dan segera menghampiri sang raja, memberikan pada raja yang kelelahan itu buah-buahan dan air segar.

Pada saat yang bersamaan, sadhu yang lain membawa seseorang yang terluka ke ashram. Begitu sadhu yang bersama raja itu melihatnya, ia menghampiri orang yang luka itu dan memberikan dedaunan yang dapat menyembuhkan lukanya. Ia juga mengucapkan kata-kata yang manis untuk menghibur orang yang terluka itu.

Raja hendak pamit dari ashram, ia pun mengucapkan terima kasih dan mohon diri. Sadhu pun memberkati raja, namun hati sang raja masih dirisaukan oleh rasa keingintahuannya akan ketiga pertanyaannya. Ia bertanya, apakah sadhu dapat memberikannya sedikit penerangan akan keingintahuannya tersebut.

Sadhu menjawab bahwa seluruh jawaban atas pertanyaan sang raja ada pada semua rangkaian kejadian yang disaksikan raja hari itu.

Ketika raja datang, sadhu menyambutnya, ketika ada orang yang terluka sadhu menolongnya. Orang yang terbaik adalah orang yang ada di hadapan kita ketika itu, orang yang datang untuk sebuah pertolongan ketika suatu saat pada kita adalah orang yang terbaik.

Ketika hal itu hadir di hadapan kita, dan kita dapat memberikan segala yang bisa kita berikan, memberikan kehangatan dan senyuman. Itulah saat yang terbaik. Dan apa yang kita lakukan itu adalah perbuatan yang terbaik.

Adaptasi dari: Chinna Katha I.12

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

4 tanggapan

  1. Avatar wira

    saya menjadi terinspirasi untuk menulis 3 hal terbaik dalam hidup saya 🙂
    .-= wira´s last blog ..4 Langkah SEO Dasar Blog WordPress =-.

    1. Avatar Cahya

      Bli Wira,

      Mungkin menulis tentang 3 blog terbaik yang pernah dibuat 🙂

  2. Avatar Artha

    Sebuah ungkapan yang sangat amat bijak dan sederhana namun bermakna dalam
    .-= Artha´s last blog ..Trend Baru dunia Internet =-.

    1. Avatar Cahya

      Terima kasih Bli Artha

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca