Kisah ini mengenai seseorang yang kecanduan madat (napza). Ia tidak mampu menghentikan kebiasaannya ini, seakan-akan ia berada dalam suatu kondisi yang membuatnya tidak sadar dan kehilangan kendalikan atas segala tindak tanduknya. Ia memang begitu tertarik dengan berbagai cara guna menghilangkan kecanduannya ini, namun tampaknya belum satu pun dari cara-cara itu yang berhasil.
Suatu ketika datanglah seorang suci (Sadhu) ke daerah tempat tinggalnya. Orang-orang sekitar berkumpul guna mendengarkan apa yang disampaikan oleh Sadhu tersebut. Sang Sadhu memberikan berbagai nasihat bagi mereka yang meminta, dan menghibur mereka yang bersedih atas kesulitan-kesulitan yang dihadapinya, dan berbicara di hadapan orang banyak. Orang malang dengan kecanduan itu pun datang padanya dan meminta petunjuk.
Sadhu berkata padanya, jika ia terus-menerus kecanduan maka kesehatannya akan semakin buruk, dan karena itu ia harus berhenti dari semua itu. Sadhu bertanya padanya, berapa banyak madat/candu yang ia gunakan setiap harinya. Dan diperlihatkankah madat dalam gumpalan yang biasa ia habiskan setiap hari. Sadhu lalu mengambil sejumlah kapur tulis yang sama berat dengan gumpalan itu. Pencandu itu diberi tahu bahwa ia boleh terus mengonsumsi madat setiap harinya namun tidak boleh menghabiskan lebih banyak madat dari pada berat kapur yang diberikan Sadhu padanya.
Orang yang kecanduan itu langsung senang, karena ia masih boleh mengonsumsi madatnya. Namun Sang Sadhu kemudian mengingatkan bahwa setiap hari dia harus menulis Om (aksara suci untuk nama Tuhan) sebanyak 3 kali di tembok atau papan dengan kapur tulis yang diberikan padanya.
Si pencandu pulang dan melakukan apa yang disarankan oleh Sadhu, demikianlah semakin hari kapur itu semakin mengecil karena digunakan terus, dan akibatnya madat yang dikonsumsi si pencandu pun semakin hari semakin sedikit . Pada akhirnya dia terbebas sama sekali dari madat.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Bagaimana kalo dibuatkan cerita tentang ‘berhenti merokok ? setiap hari musti nambah satu bungkus rokok yang harus dihabiskan. lama-lama ? hehehe…
.-= PanDe Baik´s last blog ..Absensi Rekan SMA lewat FaceBook =-.
Kalau cerita itu sudah ada Bli, sepertinya saya pernah baca di sebuah tabloid modern beberapa tahun yang lalu. Tentang seorang bintang iklan rokok yang populer di negeri barat sana.
Ketika diceritakan ia sudah berhenti morokok, karena harus terbaring di ranjang dengan alas es dengan belasan suntikan anestesi setiap hari untuk menghilangkan rasa sakit yang dideritanya. Kadang ngeri juga mendengar cerita seperti itu.
.-= Cahya´s last blog ..Ketagihan Obat Anti Nyeri? (Penyalahgunaan Narkotika) =-.
Tinggalkan Balasan