A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Orang-orang yang teratur berolah raga umumnya bertahan tetap muda walau usia mereka menua, dan kini ada penelitian baru pada tingkat seluler yang bisa jadi mampu menjelaskan hal ini.

Dibandingkan dengan mereka yang tidak berolah raga, para pelari elit memiliki sel-sel tubuh yang tampak jauh lebih muda jika dilihat di bawah mikroskop.

Secara lebih spesifik, para penyelidik mengukur panjang telomer –struktur DNA pada ujung-ujung kromosom yang menyerupai untaian benang. Seperti halnya penahan plastik yang berada di ujung-ujung tali sepatu yang mencegahnya dari berjumbai, demikianlah telomer melindungi melindungi kromosom yang membawa gen selama pembelahan sel.

Setiap kali sebuah sel membelah, telomer-telomer dalam kromosomnya memendek. Ketika telomer menjadi terlalu pendek, sel tidak dapat lagi membelah dan kemudian mati. Peneliti kini percaya bahwa pemendekan telomer merupakan hal kritis dalam proses penuaan, membuat orang-orang lebih rentan terhadap penyakit seperti penyakit jantung, diabetes, dan kanker.

Menurut peneliti, telomer bisa dianggap sebagai jam biologis. Jika mereka memendek melebihi dari panjang kritis, maka proses kematian sel terprogram pun dimulai.

Olah Raga dan Telomer

Penelitian yang baru dengan studi pada hewan dan manusia dirancang guna menyelidiki dan menentukan bagaimana dampak olah raga pada panjang telomer.

Pada penelitian hewan, tikus yang berlari di roda berputar untuk setidaknya dalam kurun waktu tiga minggu menunjukkan bukti terjadinya peningkatan produksi protein-protein penstabil telomer (telomere-stabilizing proteins) yang melindungi sel dari kematian. Dalam penelitian pada manusia digunakan dua kelompok secara garis besar yang terdiri dari orang-orang usia baya. Kelompok pertama adalah atlet-atlet profesional yang setidaknya lari sejauh 50 mil setiap minggunya secara teratur selama bertahun-tahun, sedangkan kelompok lainnya adalah kelompok yang sehat secara fisik namun bukan atlet dan tidak berolah raga secara rutin. Kelompok pertama ternyata memiliki telomer yang lebih panjang.

Tidak mengherankan jika para atlet memiliki detak jantung yang lebih lambat ketika berisitirahat, tekanan darah yang lebih rendah, dan juga lemak tubuh yang lebih rendah. Beberapa diantaranya bahkan memiliki telomer seperti pada orang-orang yang 10 tahun lebih muda.

Dikutip dari: Molecular Proof: Exercise keeps you young.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca