Sebagai salah satu vendor antivirus terbesar dengan lebih dari 100 juta pengguna di seluruh dunia, avast pun sering menjadi target keusilan para pelaku kriminal di dunia maya. Avast menyediakan antivirus berkualitas tinggi yang bisa diunduh gratis dari server mereka atau beberapa server lain seperti download.com dan filehippo.com. Ya, avast! Free Antivirus disediakan secara gratis tanpa biaya.
Produk berbayar dari avast! adalah Professional Antivirus (seperti yang saya gunakan) dan Internet Security (AIS). Namun bagaimana jika produk-produk ini bisa diunduh secara cuma-cuma, dipasang tanpa biaya, mengapa kita mesti membatasi pada produk gratisnya?
Itu mungkin pemikiran kebanyakan orang. Tapi apa benar demikian? Berikut adalah apa yang disampaikan salah satu staf avast saat menemukan produk AIS aspal di beberapa situs unduhan yang menawarkan AIS secara cuma-cuma.
Last week when I was checking files submitted as false positive alerts, l was looking to verify accurate, 100% detections. There were a few files named AIS (Avast Internet suite) from megaupload and uploading.com servers. Bad guys take our product, add an Alureon rootkit file (typically under the name codec.exe) and make new setup file with Nullsoft installer.
Rupanya, ada yang mengambil berkas instalasi AIS, dan pihak ini membongkar berkas tersebut dan menambahkan Alureon rookit lalu memaketkannya kembali dalam berkas instalasi dengan menggunakan Nullsoft installer, berkas ini kemudian diunggah ke berbagai situs seperti megaupload.com.
Jika ada yang tergiur dengan AIS gratis, tentunya mereka akan mengunduh berkas ini tanpa menyadari bahwa paket berbahaya sedang mengintai komputer mereka bersamaan dengan hadiah gratisan itu.
Avast yang asli (atau antivirus lain yang terkini) tentu bisa mengenali paket berbahaya ini. Jadi sebaiknya tidak usah coba-coba deh dengan tawaran antivirus berbayar yang bisa diunduh gratis tanpa syarat. Jika memang mau gratis, ya gunakan saja versi gratis dari berbagai antivirus, tidak hanya avast yang menyediakan versi AV gratis.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
35 tanggapan
wigati
iya, dulu sempet sembrono install&schedule avast palsu, sehari kemudian minta reboot windowsnya 🙁
Saya bukan pengguna AVG juga bukan pengguna Smadav. AVG adalah AV yang bagus, begitu pula dengan Smadav. Dulu saya tidak memilih AVG karena review dari AV-comparative selalu memperlihatkan AVG selangkah di belakang AV besar lain seperti Avira, Avast, Kaspersky, BitDefender, bahkan Symantec/Norton kini sudah mengalahkan AVG, tentu dari segi presisi perlindungan dari serangan virus. Dan versi gratis AVG menurut saya pribadi terlalu “pelit”, banyak fitur pro-nya yang tidak disertakan.
Tapi pengguna AVG lokal, dari yang saya amati. Mendapatkan kenyamanan dan rasa aman dengan menambah satu lagi AV lain, semisalnya AV lokal Smadav atau PCMAV. Ya, itu sih sah-sah saja. Secara teori seharusnya pengamanan lebih baik (soalnya saya belum pernah mengaplikasikannya langsung). Tapi secara teori juga, dua aplikasi AV berjalan bersamaan akan membebani sistem dan mampu menurunkan performa komputer, serta rawan menimbulkan konflik.
Sehingga dari pada konfigurasi menggunakan AV ganda atau lebih, seringkali disarankan menggunakan security suite: antivirus, antispyware/malware lainnya, firewall, antispam (opt). Biasanya paket security suite tidak ada yang gratis, tapi kita bisa membangun konfigurasinya dengan cara:
Antivirus (Avast/AVG/AVIRA/BitDefender/MSE/Cloud) + AntiSpyware (Malwarebytes/SAS/SP/Spybot) + Firewall (OnlieArmor/Oupost/Comodo)
Yang saya cetak tebal adalah konfigurasi yang saya terapkan, semuanya bisa didapatkan secara gratis (freeware) dengan hasil pertahanan bisa sebaik sebuah security suite berbayar.
Sekali lagi bukan masalah apa antivirus-nya, lokal maupun luar, namun bagaimana kita menggunakannya.
Makasih buat tambahan infonya. Memang sepertinya jarang ada yang memberikan review buat AV lokal 🙁
Tapi kalau AV (yang dalam ini produk serius), mestinya dilakukan review oleh ahli-ahli di bidangnya. Hanya sedikit badan independen yang memberikan review AV secara profesional tanpa dibayar oleh vendor-vendor AV.
Jadi pertanyaannya ketika kita menemukan sebuah halaman web yang me-review AV adalah, siapa dia dan apa keahliannya dalam melakukan review, apa metode yang diterapkan, bagaimana pengujiannya, sampel apa yang digunakan, mesin-mesin apa yang dilibatkan. Seberapa keakuratan analisanya, bagaimana teknik perbandingannya. Nah, hal-hal yang justru esensial ini malah saya belum temukan di situs yang p0et rujuk 😀
Karenanya saya masih mengandalkan AV-comparatives.org atau VB comparatives test yang saya tahu benar independensinya untuk menilai dan memantau bagaimana perkembangan berbagai AV terkini. Dari data statistik yang teratur setiap beberapa bulan yang mereka sajikanlah salah satu alasan saya bisa memilih produk AV. Dari data-data itu saya melihat mana yang cocok (atau kalau boleh meminjam istilah sreg di atas) bagi saya 😉
Jadi saya berharap, ketika saya memilih produk AV, bukan karena sekadar saya suka. Namun memang demikianlah rekomendasi dari berbagai ahli di bidangnya. Komunitas yang besar adalah salah satu bagian yang bagus dari avast. Seperti Ubuntu yang didukung oleh komunitas besar, demikian juga avast didukung oleh banyak ahli keamanan di seluruh dunia – walau mereka bukan bagian dari ALWIL (perusahaan yang membangun avast), tapi mereka adalah bagian dari komunitas yang bersedia menyisihkan waktu untuk membantu memberikan keamanan bagi banyak pengguna komputer di dunia 🙂
Kalau saya sudah 5 tahun menggunakan avast sebagai AV tunggal di komputer-komputer saya yang berbasis Windows atau pun Linux. Jadi saya sudah terbiasa dengan avast, sehingga selama 3-4 tahun belakangan ini, komputer saya terbebas dari masalah virus. Itulah mengapa avast masuk ke dalam salah satu program rekomendasi saya 😉
Tinggalkan Balasan