Belakangan ini udara kota Jogja sering kali membuat gerah, walau hujan di sore hari…, rasanya ingin berenang lagi (he he, kaya bisa saja). Jika badanku tidak bergerak dengan baik, rasanya juga tidak bisa digunakan berpikir dengan baik. Saya rasa pikiran jadi cepat buntu dan tidak bisa berkonsentrasi dengan banyak hal.
Saya tidak pernah bisa berenang dengan baik, mungkin karena tidak serius belajar. Terakhir kali saya mencoba berenang dengan serius, saya menemukan diri saya di dasar kolam sedalam 3 meter. Atau pada kisah yang lainnya, saya nyaris di seret ombak di Pantai Lebih, saat minta tolong ke pada orang yang di pantai eh malah dikira lagi becanda dan mereka tertawa, apa boleh buat, terpaksa menguras otak dan tenaga agar bisa sampai lagi di bibir pantai.
Tapi karena satu dan lain hal berkenaan dengan masalah kesehatan yang saya miliki, maka dokter ahli orthopaedi saya hanya mengizinkan renang sebagai satu-satunya olah raga yang aman untuk kondisi ini. Tidak seperti di pedesaan dengan sungai membentang, orang bisa tinggal nyemplung, tapi di kota kolam renang yang bersih tidak-lah murah, paling tidak lumayan menguras dana juga. Tapi kalau memang niat berolah raga untuk kesehatan memang harus bergerak, kalau tidak … (duh…, perutku bertambah ndut) mungkin tidak akan pernah mencapai apa pun.
Hanya saja mencari kolam renang yang enak dan dekat adalah masalahnya sekarang, beberapa kilometer hanya untuk berenang. Ha ha…, ya ya…, kita lihat saja nanti, apa saya bisa berenang lagi.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
43 tanggapan
wigati
Jadi..renang bikin pikiran adem, badan bugar dan hati gembira. Ayo berenang lagi mas… 😀
Ga tahu juga ya Pak, rasanya airnya dingin, biasa karena sering kekanak-kanakan, begitu senangnya lihat kolam, lupa pemanasan dan peregangan dulu, langsung nyemplung saja 🙂
Wahh, mau dong ikutan renang, karena berenang slh satu olahraga favorit sy selain basket dan pingpong. Kalau di Kendari mau nyari pantai yg bagus buat renang sktr 2 jam dari kdi. Kolam renang di dlm kota, baru tahap pembangunan, adanya diluar kota kr2 1 jam dari kdi, biayax lumayan mahal.
BTW, dg kembali berenang, semoga tetap sehat selalu…
Saya sering malas juga ~ Kasihan baju renangnya. :))
Di deket UNY, kalo ga salah dari bunderan UGM, lurus terus lewat jalan yang mau ke arah Gejayan, pas di sebelah kiri jalan kan ada yang jual rak;meja;lemari kayu, lurus sedikit ada apotek, di sebelah apotek ada gang, masuk ke gang itu, lurus terus, di sebelah kanan gang ada kolam renang UNY ~
Kalau dari saya tempat nyari laut-nya bisa memakan perjalanan 2 hingga 3 jam. Keburu lelah dibandingkan sempat nyemplung-nya belum lagi perjalanan baliknya nanti 😀
We he he…, untungnya tidak meniru mode pakaian resminya renangnya Mermaid Man 😀
Oh memang ada rasanya renang untuk wanita hamil, karena lumayan aman 🙂 [He he, jangan-jangan Mbak Sheilla bentar lagi bakal rajin renang nih… *mencurigakan*]
I got osteochondroma (please ask Om Google about it) on both genu(s), so I can’t take any gravitational impacted exercises.
Eh, saya sudah dua minggu ini secara rutin renang di UNY atau di Tembi – bantul. Hayuwk belajar renang bareng.
Sekalian kopair (pengganti kopi darat, karena ketemuannya di air, hehe)
Apa UNY punya kolam renang publik Mbak? Saya pingin cari lokasi kolam renang yang paling dekat jika dituju dari perempatan Kentungan, cuma namanya anak kost pada ga hobi renang, jadinya tidak tahu harus mencari ke mana 🙁 – Ada rekomendasi?
Ini foto zaman dulu, sekarang sudah pada pisah, jadinya saya terbawa malas kalau sendiri ke kolam renang. He he, padahal alasan saja bilang ga ada yang diajak, mungkin harus diubah sedikit sifat malasnya 😀
Tinggalkan Balasan