Salah satu alasan saya meninggalkan blogspot (blogger.com) selain mesin blog-nya yang berat luar biasa (bagi fakir bandwidth seperti saya) adalah sistem komentarnya yang … arggghh… (I can’t say nothing about it) sangat-sangat menyiksa
Tapi saya tidak benci blogspot, banyak narablog hebat memilih mesin blogspot untuk blog mereka. Namun ada beberapa melakukan setelan pada sistem komentar sehingga tidak lagi membuat saya uring-uringan jika mesti berkomentar.
Beberapa hal yang tidak saya sukai pada sistem/borang komentar blogspot:
Ada banyak klik, dan bukaan (loading) laman, sehingga memperbanyak sesi page reloading yang menyita kuota lebih banyak. Bandingkan dengan wordpress, Anda hanya mengisi borang dan klik submit comment atau sejenisnya, maka selesai sudah. Di blogspot kita harus mengisi borang, setelah mengajukan profile apa mau pakai blogspot atau yang lain, kemudian belum lagi CAPTCHA-nya yang nyaris meliuk tak terbaca, setelah beberapa kali klik, barulah bisa terbit.
Tidak ada default untuk mengikuti diskusi, dan sistem diskusi terkesan monoton. Tidak ada pembalasan topik, artinya tidak ada jalur diskusi yang bisa dilihat. Hal ini bisa diakali dengan menambahkan @reply pada awal balasan komentar. Tapi biasa jarang sekali dalam blog bermesin blogspot terjadi diskusi yang tertata. Jadi kita akan bertanya kalau ada notifikasi masuk, “lha ini sebenarnya komentar balasan buat siapa?” WordPress mengakali ini dengan sistem threaded comments – walau ini pun masih ada beberapa kekurangan.
Saya juga pengguna akun blogspot, jadi saya memiliki blog di blogspot. Saya mengakali kekurangan ini dengan menambahkan sistem komentar pihak ketiga di blogspot. Sebagai contohnya pada blog Catatan Kaki Cahya saya menggunakan JS-KIT tapi justru sistem ini terkesan agak advance, sehingga tidak semua orang atau pengguna bisa memahaminya. Tapi tak apalah, toh blog itu sudah tidak aktif lagi. Sedangkan untuk blog Our Short Pilgrims, saya menggunakan DISQUS yang lebih ramah dan lebih mudah digunakan. Ada juga yang menggunakan Intense Debate Comment yang kini dikembang Automatic, contohnya adalah blog Junz Notes yang beberapa waktu yang lalu saya lihat menerapkan sistem komentar ini dengan mesin blogspot.
Apa Anda memiliki blog di blogspot, lalu sistem komentar bagaimana yang Anda gunakan? Dan mengapa Anda memilih sistem itu?
Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Bingung juga Mas Cahya, awalnya belajar WP, drupal (ribet strukturnya), Joomla ( commentarnya sulit) Blogspot, kalau template lama memang rada ribet, dengan parsing XML seperti sekarang lebih mudah dibandingkan sebelumnya.
Mau yang mana ?
Tergantung kepada masing-masing user, yang sudah prefer dengan Blogspot seperti mas Is tetap akan bilang bahwa blogspot mudah.
Tapi bagi pemula, blogspot masih terasa sulit untuk kolom komentarnya. Lagipula edit template pada blogspot harus on the fly.
Saya ingat bahwa website angkatan saya tidak pernah jadi, karena kesepakatan apakah akan menggunakan mesin Drupal atau Joomla belum tercapai 😀
Drupal masih lebih enak buat nge-blog sedangkan Joomla mungkin untuk kegiatan-kegiatan terkait bisnis. Tapi baik Drupal dan Joomla kan masuk CMS, sedangkan yang lebih mengkhususkan diri sebagai mesin blog yang lain seperti Nucleus dan b2evolution malah sepertinya lumayan menarik dan bagus.
Saya tetap suka kok blogspot, kecuali mesin blog berat dan sistem komentarnya itu 😀 – salah satu contoh blog di blogspot yang saya suka adalah iPENthisBlog 😉 – walau pakai sistem komentar pihak ketiga, tetap ringan untuk dibuka.
Blog saya yang ini untung pake WP dan emang lebih keren sih daripada punya Blog saya yang Blogspot.
Lebih simple, kalo mau apa2 tinggal nambah plugins aja 😀
Mungkin itu juga jadi nilai tambah di wordpress, tapi kalau bisa melakukan hack ke themes (atau menciptakan themes sendiri) – biasanya lebih baik daripada tergantung sama plugin, karena kadang plugin tidak sehat bagi server hosting 😉
Oya, nambahin lagi dikit. Default settingan komentar blogspot yang rada ribet itu biasa terjadi pada template tertentu yang masih bersifat classic. Kalo pada template-template terbaru blogspot umumnya sudah menggunakan coding/setting area komentar di bawah posting. Tidak lagi ribet kayak dulu.
Sebenarnya yang Pak Cahya keluhkan itu terjadi karena si pemilik blog belum tau cara mensetting agar kolom komentarnya tepat berada di bawah posting dan tidak menggunakan sistem Capcha. Itu biasa terjadi pada blog-blog newbie atau mereka yang malas mengubah settingan default blogspot (yang memang agak ribet jika ingin berkomentar).
Coba Pak Cahya kunjungin kafe28.blogspot dot com saya. Di situ saya beri quick link menuju form komentar. Tinggal klik, langsung menuju isian komentar. Atau cara manual (scroll dulu ke bawah) :
di bawah area posting tinggal isi komentar pada kotak yang tersedia. Lalu klik Select Profile – Name/URL – Klik Continue/Lanjutkan – Post Comment. Selesai. Saya kira tidak ribet kok. Urutannya sudah logis, di mana pengunjung mengisi komentar dulu, baru setelah itu mengisi data pribadinya (nama dan url).
Kalo default WP malah agak kurang logis menurut bahasa Bli Dani. Karena harus isi data dulu baru isi komentar.
Kalau penggunaan form komentar pihak ketiga semacam discuss atau instante debate di blogspot malah bikin berat loading Pak 🙂
Saya rasa masih sama Mas, pertanyaan kesederhaan borang komentar (kalau pakai ilmunya Bli Dani) akan terjawab ketika berapa banyak klik yang diperlukan untuk mengirim sebuah komentar? Apa perlu lebih dari satu kali klik untuk mengajukan sebuah tanggapan dalam borang komentar?
Saya lupa apa alasannya Bli Dani dulu bilang mengapa mengisi komentar dulu sebelum mengisi identitas. Tapi saya rasa memang lebih tepat mengisi identitas dulu baru komentar – jadi dikuatkan dulu maksudnya bahwa siapa pribadi yang akan memberikan tanggapan atau dalam bahasa lainnya, kita sebagai apa akan memberi tanggapan, apa sebagai ahli IT, pengunjung biasa, ahli kesehatan atau siapa? Kemudian kita bisa menyesuaikan antara artikel dan pribadi komentator, baru bisa memberikan tanggapan yang sesuai.
Who are you when you are about to giving your voice is somehow significant even not always important. Ini dalil ilmu komunikasi yang penting, jangan khawatir dengan mengisi identitas terlebih dahulu, nanti takut tanggapan yang mau kita sampaikan akan hilang – itu mungkin berarti kita tidak membaca sebuah artikel secara serius 😉
Tapi rasanya hal ini tidak terlalu bermakna, toh dibolak-balik antara kolom identitas dan komentar tidak terlalu bermasalah bagi mereka yang serius membaca dan ingin memberikan tanggapan 🙂 – masalah ya itu kembali, seberapa sederhana sebuah sistem komentar dalam dibuat 😀
Tapi kalau aksebilitas bisa ditingkatkan saya rasa menambah sistem komentar pihak ketiga seperti DISQUS bisa dipertimbangkan, karena kalau dilihat dari kecepatan pembukaan halaman, kadang pemasangan ini bukan yang menjadi faktor utama beratnya pembukaan sebuah halaman blog 🙂
Kebanyakan tema (theme) blog wordpress sudah berisi tombol reply comment di bagian comment.php pada map (folder) tema tersebut.
Tapi beberapa tema memang tidak menyertakannya, apalagi tema-tema bergaya lama yang tidak mendukung threaded/nester comments (komentar berbalas berjenjang). Tapi bukan berarti tidak bisa ditambahkan. Pertama bisa melakukan hack ke bagian comment.php menambahkan sendiri kode/scripting untuk menciptakan tombol reply comment, ini memerlukan sedikit pengetahuan penulisan HTML (dan mungkin CSS untuk mempercantik dan menambah fungsi tombol). Paling mudah melakukan ini, jika sudah ada panduannya di bagian dukungan tema itu sendiri (biasanya di bagian halaman si pembuat tema).
Cara kedua lebih sederhana, tanpa melakukan hackcomment.php adalah dengan memanfaatkan pengaya (plugin) wordpress. Pengaya seperti @ Reply atau Spectacu.la Threaded Comments atau pun yang lain sejenis bisa digunakan untuk menambahkan tombol reply comment.
blogspot? dulu saya tinggalkan karena terlalu bebas kalau mau ganti tema. loh? maksudnya kalau mau ganti tema terkadang sama mengaturan sidebarnya gak cocok melulu, males utak atik html karena gak ngerti. hehe,
Rasanya pakai mesin wordpress juga tidak jauh beda, kalau sudah hacking html dan CSS jadi males lagi ganti tema baru, karena sudah lupa cara dapat setelan tema seperti sekarang 😀
sy termasuk alumni blogspot jg.. males make blogspot krn lambat.. apalagi komentarnya ribet bgt.. makannya setelah tau WP ya lgsng aja minggat dari pada nyusahin.. blogspot jg operasionalnya agak2 rumit apalagi sy dulu blogger baru.. huff. 😀
saya pertama kali kenalan dengan blogspot sebelum kenal yang lain, sempat posting beberapa tulisan, tapi kemudian setelah lihat wordpress kok sepertinya lebih mudah dan lebih ringan, maka saya beralih ke wordpress, salah satu alasannya karena awalnya saya masih numpang kantor untuk ngenetnya, jadi butuh yang lebih cepat
Benar Pak. Kelebihan blogspot.com dibandingkan wordpress.com saat ini hanya pada keterbukaan pada coding HTML-nya, tapi justru itu yang membuat banyak blog di blogspot jadi berat dan semrawut jika tidak ditata dengan baik 😐 – padahal kontennya banyak yang bagus sayang tidak bisa diakses karena berat dan lain hal.
Tinggalkan Balasan