A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sebagaimana yang saya kisahkan sebelumnya dalam “Membuat Koneksi Huawei E220 Jadi Stabil”, meski berhasil melakukan stabilisasi yang lebih lama, namun selang beberapa puluh menit, koneksi akan terputus sebab modem ter-unplug dengan sendirinya. Jika untuk berselancar di dunia maya sih saya rasa ini sangat mencukupi, tapi jika untuk mengunduh berkas dalam porsi besar dan perlu waktu lama, mungkin akan memberikan beberapa masalah.

Saya sempat berpikir untuk melepas modem ini, namun selalu saya urungkan meski kisaran harga bekas pakainya di pasaran masih berkisar $ 30 – $ 50 di pasaran, yang menjadikannya setara dengan harga modem 3G keluaran baru, apalagi karena modem lawas ini masih bisa sampai koneksi 3,5G.

Seperti barang yang melegenda, saya belum ingin melepasnya. Ya, mungkin karena dia modem 3G yang menggemaskan. Tidak ada lagi modem yang bentuknya serupa dengan si “chubby” yang satu ini. Dan konektivitasnya juga masih sangat dapat dihandalkan.

Modem USB Huawei E220 3G

Masalahnya hanya pada keisengannya yang kadang unplug sendiri. Dari penelusuran saya di forum Huawei ini, penyebabnya adalah masalah pada kabel konektivitas (USB) yang digunakan, tampaknya jika ada aliran listrik yang tidak stabil dari mesin/komputer, menyebabkan sejenis “reset” pada kondisi modem. Jika Anda tidak tahan dengan hal ini, silakan coba cara saya sebelumnya, atau membuatkan tambalan perbaikan elektrik ala yang disarankan di forum tersebut.

Koneksi menggunakan IM2 memang hanya untuk mereka yang penyabar. Tapi meski di jalur sibuk dan padat akses seperti Jalan Kaliurang, modem ini masih dapat bersaing untuk mendapatkan jaringan sehingga tidak mengganggu kenyamanan berselancar.

Tes Kecepatan IM2

Nah, memang tidak terlalu cepat sih, tapi lumayan-lah. Kalau sekadar membuka halaman jurnal, artikel dan blog, serta jejaring sosial, atau menggunggah foto ke flickr dan berbalas surel.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

17 tanggapan

  1. Avatar gadgetboi

    sekarang enggak perlu lagi kan bli *menadahkan tangan*

    1. Avatar Cahya

      He he…, kalau banyak yang minat, nanti saya lelang saja ah :D.

  2. Avatar Asop

    Aih, untunglah, modem saya Huawei E270, lancar! 🙂

  3. Avatar Andhy
    Andhy

    Beli modem memang untung-untungan juga sih. ada yang bagus dan ada yang defect

    1. Avatar Cahya

      Andhy, yah itu dia, kadang untung kadang buntung, masalah kalau sudah mau terhubung ke Internet tapi kemudian putus, biasanya tidak ada garansi untuk itu bagi para pembelinya :).

  4. Avatar Nurul Imam
    Nurul Imam

    Memang klo dari segi design lebih simple Mini yah … tapi bener besar itu menggambarkan kekokohan. saya liat di toko komputer teman saya ada model yang gede persis kayak gitu

    jangan panggil mas donk … hehehe saya masih muda lho …

  5. Avatar Nurul Imam
    Nurul Imam

    Modemnya elegant ,,, Tapi kayaknya Ada deh yang mirip kayak gitu Produksi dari ZTE

    1. Avatar Cahya

      Mas Imam, kalau dibandingkan modem-modem saat ini, ukurannya sudah lebih mini semua. Memang tidak nyaman sih kalau modem-nya besar, tapi malah terkesan lebih kokoh :D.

  6. Avatar Hendro Prayitno
    Hendro Prayitno

    Karena karat juga bisa dia unplug sendiri..

    CMIIW

    1. Avatar Cahya

      MAs Hendro, saya rasa juga bisa demikian. Tapi kalau sudah bisa tahan lebih dari sejam saja kan sebenarnya sudah lumayan buat Internetan dalam sehari :). Jadi saya tidak terlalu masalah dengan penyakitnya itu.

  7. Avatar lintasberita
    lintasberita

    pake siera lupa seri berapa tapi yang keluaran lama,lumayan kenceng mas pake telkom flash,dibandingin dengan modem huawei kalah jauh tuh huawei..salam kenal ya,seneng bisa mampir ke blog ini.

  8. Avatar indobrad

    pake IM2 juga ya? memang mesti sabar terima nasib sih kayak saya. hehe.

    eh kamu di Jogja? Bukannya orang sana banyak pake wajanbolic?!

    1. Avatar Cahya

      Saya sih utamanya pakai MOBI CDMA karena lebih kenceng daripada IM2 dan lebih stabil, tapi ada beberapa hal yang saya perlu IM2 karena sifat jaringan GSM/HSDPA-nya :). Ha ha…, saya cuma pernah dengar saja tentang wajanbolic tapi ndak pernah kepikiran sampai memanfaatnya.

  9. Avatar fandi

    itu modem jagoan mas… aku dah pakai dari 2009 sampe sekarang masih mantabs.

    kalau masalah koneksi… ya tergantung provider e.

    1. Avatar Cahya

      Fandi, bener banget 😀 – saya karena tidak tahu modem apa lagi yang sekelas (berat) dengan E220 jadinya masih belum cari pengganti :).

  10. Avatar jarwadi

    wah itu sih cepaat mas, saya pake telkomsel flash unlimited paket basic ngga sampe segitu cepetnya

    1. Avatar Cahya

      Pak Jarwadi, saya rasa sih itu untung-untungan saja kalau masalah jaringan, mungkin di sini malah telkomsel flash yang lebih kenceng :).

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca