Di antara 10 distro terpopuler, mungkin Fedora 15 yang akan dirilis dalam kurang dari 3 minggu dari sekarang adalah distribusi Linux yang pertama kali memasang langsung Gnome 3 (Gnome Sheel Desktop) secara default ke sistemnya. Bukan isu lagi, Fedora 15 adalah incaran banyak pengguna Linux, terutama para pengguna Ubuntu yang kecewa bahwa rilis seri 11.04 justru memilih memasang Unity Shell Desktop yang dinilai terlalu buggy.
Fedora bukan-lah Linux baru, sebagai salah satu top ten distribution, ada beberapa alasan mengapa Fedora digemari. Jika Ubuntu digemari karena jadwal rilis yang tetap, mudah digunakan pemula, kaya dokumentasi serta komunitas yang luas; maka Fedora memiliki kelebihan yaitu inovasi yang luar biasa, fitur keamanan yang hebat, dukungan paket yang sangat luas, melekat kuat pada filosofi “free software“.
Bagaimanapun juga Fedora lahir sebagai versi komunitas dari Red Hat Enterprise Linux (RHEL), dan kini akan menggunakan versi Gnome 3 yang terbaru. Banyak yang bersedia menunggu beberapa waktu lagi sampai rilis stabilnya, tapi beberapa sudah mencicipi versi betanya.
Bagi yang ingin mencoba bagaimana Gnome 3 dengan stabil, saya sarankan menunggu rilis Fedora 15 pada akhir bulan ini. Dan bagi yang ingin mengintip bagaimana tampilan Gnome Shell pada Fedora 15, silakan membaca salah satu artikel di komunitas Fedora Indonesia yang berjudul “Desktop Fedora 15 yang Indah dengan GNOME Shell”
Filariasis limfatik atau kaki gajah bukan sekadar bengkak biasa, melainkan hasil kerusakan sistem getah bening bertahun-tahun akibat cacing yang ditularkan nyamuk. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis, manajemen limfedema tujuh tahap, dan tantangan unik Indonesia sebagai satu-satunya negara dengan tiga spesies cacing filaria sekaligus.
Setiap kali rumah sakit direnovasi, debu konstruksi membawa risiko infeksi jamur yang bisa mengancam nyawa pasien imunokompromais. Artikel ini mengulas metode ICRA—dari matriks klasik hingga pembaruan ASHE ICRA 2.0—bukti ilmiah di balik aspergilosis terkait konstruksi, kedudukannya dalam regulasi Indonesia, serta praktik terbaik yang seharusnya diterapkan setiap fasilitas kesehatan.
Perpindahan ke Linux sering kali menimbulkan “kejutan budaya” bagi pengguna baru yang terbiasa dengan Windows atau macOS. Tantangan meliputi manajemen paket yang asing, ketersediaan software, masalah driver, penggunaan command line, dan pilihan distro. Adaptasi lebih mudah bagi developer, power user, dan gamer, sementara pengguna awam mungkin kesulitan. Kesiapan mental dan pemilihan distro yang tepat sangat penting untuk transisi yang baik.
Keluhan pasien bukan ancaman, melainkan peluang mutu. Artikel ini mengulas asal-usul kerangka L.E.A.S.T dan L.A.T.T.E dari ilmu manajemen jasa, bukti bahwa pelatihan komunikasi saja tak cukup mengatasi hambatan sistemik dan burnout staf, serta bagaimana hak mengadu pasien dalam UU 17/2023 perlu diimbangi sistem pendukung di faskes Indonesia.
Tidak ada pasal tunggal yang mewajibkan pentest bagi rumah sakit di Indonesia — tetapi UU PDP, kategorisasi risiko sistem elektronik, status Infrastruktur Informasi Vital, dan ekspektasi akreditasi bersama-sama menciptakan kewajiban de facto yang sulit dihindari. Artikel ini memetakan empat jalur regulasi tersebut dan memberi rekomendasi realistis sesuai skala fasilitas.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
13 tanggapan
Padly
@Bli Cahya.
Tengkyu informasinya Bli, mungkin kapan2 aku coba. Sementara ini sepertinya sudah cukup nyaman dgn Natty Narwhal, kan dia juga sudah support netbook.
Beberapa hari yang lalu, aku sudah download file iso Fedora 14 -kalau ga salah-. Tapi setelah aku test drive di netbook koq agak terasa berat, akhirnya balik ke Ubuntu.;(
mas cahya ini bersemangat dengan tiap inovasi teknologi, hehehe
Saya pertama kali mengenal Red Hat versi 5.2 kalau tidak salah. Dulu saya belajar membuat web server sederhana … terakhir mencoba Red Hat 9 sebelum menemukan ubuntu serba praktis cepat saji
Pak Jarwadi, ha ha…, saya hanya sekadar memeriahkan saja, kampanye peranti lunak bersumber kode terbuka saya rasa adalah tantang tersendiri bagi masa depan dunia IT negeri ini :). Yah, Ubuntu bisa dibilang seperti restoran siap saji :D.
Pengen juga sih nyobain Fedora 15. Modal nekat aja buat pembelajaran. Kalo nggak gitu ya nggak bakalan dapet ilmu dan pengalaman 😉 Oya, kalo mau install nantinya (di laptop saya udah ada Ubuntu dan Win XP), berarti harus bikin partisi baru lagi ya mas? Nanti pas booting tetep ada pilihannya kan mau masuk ke mana?
Mas Is, saya tidak tahu bagaimana setelan GRUB pada Fedora, kalau pas saya sandingkan (fedora 14 dan openSUSE 11.3) dulu tidak ada masalah, tapi jika dengan Natty saat ini entahlah. Yah, selalu prinsipnya persiapkan yang terburuk jika mau mencoba bermain dengan boot loader.
Tinggalkan Balasan