A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Dalam bahasa latin, ungkapan “si vis pacem, para bellum” bermakna “jika kamu menghendaki perdamaian, maka bersiaplah untuk berperang”. Salah satu slogan yang cukup terkenal dan dipakai serta dimodifikasi oleh banyak pihak lainnya, termasuk pada era Napoleon Bonaparte hingga ke perang dunia II.

Ungkapan tersebut menyiratkan bahwa subjek yang memiliki kekuatan lebih, dan memiliki persiapan untuk bisa berperang akan memiliki kencenderungan yang lebih sedikit diserang oleh subjek lainnya. Seperti singa di belantara Afrika, hewan mana yang cukup berani mengganggu kedamaian mereka.

Negara kita yang tidak begitu memiliki “taring” dalam angkatan bersenjata sering diganggu negara tetangga, padahal konon potensi angkatan bersenjata kita seharusnya tidaklah “selemah” saat ini. Apalagi mengingat riwayat nusantara lama dengan kerajaan-kerajaan nusantaranya yang pernah berjaya. Bukankah demikian?

Namun kali ini saya tidak hendak membahas tentang angkatan bersenjata negeri ini. Namun tentang konsep perdamaian yang sebenarnya cukup rapuh. Meski negara-negara di dunia menginginkan perdamaian, meski ada organisasi-organisasi besar hingga gerakan kecil untuk mewujudkan itu, pada faktanya konflik selalu terjadi di mana-mana di pelbagai belahan dunia.

Pun meski semuanya hanya berasal dari perbedaan kepentingan ataupun perbedaan persepsi semata. Coba perhatikan gambar sekawanan “prairie dog” berikut ini.

Prairie Dogs

Mereka – seperti kawanan hewan kecil lainnya yang rentan dimangsa oleh predator, selalu memilih untuk awas & waspada terhadap lingkungannya.

Di masyarakat juga berlaku hal serupa, dalam persaingan bisnis, dalam rebutan ranking di sekolah. Pada dasarnya kehidupan kita yang serba kompetitif dan adanya potensi pihak-pihak tertentu untuk mengeksploitasi pihak-pihak lainnya adalah mengapa kehidupan kita tak sepenuhnya damai, hanya sebuah leksikalitas perdamaian yang rapuh.

Namun tidak selamanya berarti mesti dengan jalan kekerasan, Gandhi semisalnya memiliki caranya sendiri dalam berperang untuk mewujudkan perdamaian. Beliau memulai dari perdamaian itu sendiri.

Jadi, bukankah, si vis pacem, para bellum akan tetap berlaku di dunia yang penuh dengan konflik ini?

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. Avatar julie
    julie

    sebagian hal berlaku

    sebagian lainnya tidak

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca