Dalam bahasa latin, ungkapan “si vis pacem, para bellum” bermakna “jika kamu menghendaki perdamaian, maka bersiaplah untuk berperang”. Salah satu slogan yang cukup terkenal dan dipakai serta dimodifikasi oleh banyak pihak lainnya, termasuk pada era Napoleon Bonaparte hingga ke perang dunia II.
Ungkapan tersebut menyiratkan bahwa subjek yang memiliki kekuatan lebih, dan memiliki persiapan untuk bisa berperang akan memiliki kencenderungan yang lebih sedikit diserang oleh subjek lainnya. Seperti singa di belantara Afrika, hewan mana yang cukup berani mengganggu kedamaian mereka.
Negara kita yang tidak begitu memiliki “taring” dalam angkatan bersenjata sering diganggu negara tetangga, padahal konon potensi angkatan bersenjata kita seharusnya tidaklah “selemah” saat ini. Apalagi mengingat riwayat nusantara lama dengan kerajaan-kerajaan nusantaranya yang pernah berjaya. Bukankah demikian?
Namun kali ini saya tidak hendak membahas tentang angkatan bersenjata negeri ini. Namun tentang konsep perdamaian yang sebenarnya cukup rapuh. Meski negara-negara di dunia menginginkan perdamaian, meski ada organisasi-organisasi besar hingga gerakan kecil untuk mewujudkan itu, pada faktanya konflik selalu terjadi di mana-mana di pelbagai belahan dunia.
Pun meski semuanya hanya berasal dari perbedaan kepentingan ataupun perbedaan persepsi semata. Coba perhatikan gambar sekawanan “prairie dog” berikut ini.
Mereka – seperti kawanan hewan kecil lainnya yang rentan dimangsa oleh predator, selalu memilih untuk awas & waspada terhadap lingkungannya.
Di masyarakat juga berlaku hal serupa, dalam persaingan bisnis, dalam rebutan ranking di sekolah. Pada dasarnya kehidupan kita yang serba kompetitif dan adanya potensi pihak-pihak tertentu untuk mengeksploitasi pihak-pihak lainnya adalah mengapa kehidupan kita tak sepenuhnya damai, hanya sebuah leksikalitas perdamaian yang rapuh.
Namun tidak selamanya berarti mesti dengan jalan kekerasan, Gandhi semisalnya memiliki caranya sendiri dalam berperang untuk mewujudkan perdamaian. Beliau memulai dari perdamaian itu sendiri.
Jadi, bukankah, si vis pacem, para bellum akan tetap berlaku di dunia yang penuh dengan konflik ini?
Wabah cyclosporiasis melanda ratusan warga Amerika Serikat pada musim panas 2026, disebabkan parasit mikroskopis Cyclospora cayetanensis yang mencemari sayur dan buah segar. Artikel ini mengulas biologi parasit, gejala diare “meledak-ledak”, tantangan diagnosis laboratorium, terapi TMP-SMX, hingga relevansinya bagi keamanan pangan dan kewaspadaan klinis di Indonesia.
Studi kohort Finlandia menemukan bahwa peminum kopi rutin memiliki lemak viseral lebih rendah dan massa otot lebih tinggi meskipun indeks massa tubuh serupa dibanding peminum kopi jarang. Pada pria, konsumsi kopi juga terkait dengan profil testosteron dan SHBG yang lebih baik, namun studi ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.
Faktor pria berkontribusi pada sekitar separuh kasus infertilitas pasangan, namun sering luput dari pemeriksaan awal. Artikel ini mengulas standar analisis sperma terbaru WHO edisi keenam serta bukti terkini mengenai pengaruh rokok, alkohol, berat badan, paparan panas, dan konsumsi gula terhadap kualitas dan integritas DNA sperma.
Muntah hebat yang datang berulang lalu hilang seolah tak pernah terjadi—inilah wajah cyclic vomiting syndrome, gangguan interaksi otak-usus yang sering disalahpahami sebagai gastroenteritis biasa. Artikel ini mengulas patofisiologi, kriteria diagnosis Rome IV, pembaruan pedoman NASPGHAN 2025, serta tata laksana berbasis bukti terkini bagi klinisi di layanan primer maupun rujukan.
Besok, 27 Agustus 2026, Jakarta akan menggadakan unjuk rasa besar oleh berbagai aliansi. Tuntutan termasuk pengesahan RUU Perampasan Aset dan hukuman mati bagi koruptor. Polda Metro Jaya telah menyiapkan pengamanan. Aksi ini dapat mempengaruhi IHSG dan rupiah, dengan proyeksi pergerakan cenderung sideways dalam beberapa hari ke depan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan