Dari celoteh @andisugandi & @ivanlanin saya menemukan situs Tanja Bahasa Indonesia yang unik yang dibuat oleh Mas Ivan Lanin. Saya sendiri pada awalnya bertanya-tanya, apa “tanja” itu, oh rupanya kependekan dari “tanya jawab” yang dicoba dipadankan dengan istilah FAQ dalam bahasa Inggris.
Di sini kita bisa bertanya seputar masalah bahasa Indonesia yang mungkin sering bingung bagaimana penulisannya pun pelafalannya. Namun tentu saja sebelum bertanya, cari dulu di situs itu apakah sudah ada pertanyaan serupa, sehingga tidak muncul pertanyaan yang ganda. Siapa tahu pertanyaan itu juga sudah terjawab. Dan demikian pula sebaliknya, Anda dapat membantu menjawab pertanyaan di sini.
Melalui tulisan ini saya mengajak pembaca yang budiman, serta narablog sekalian untuk ikut serta mengembangkan dan memperkaya situs tersebut.
Mungkin kita perlu sedikit prihatin pada penggunaan bahasa Indonesia saat ini yang semakin tumpang tindih dengan penggunaan kata-kata asing, yang sering kali justru membingungkan banyak kalangan jelata. Termasuk saya sendiri yang tidak begitu fasih berbahasa negeri sendiri.
Silakan juga mengajak sahabat dan rekan Anda yang memiliki kepedulian pada bahasa kita untuk berpartisipasi dalam situs Tanja Bahasa Indonesia.
Tutur bahasa cermin budi pekerti sebuah bangsa.
Saya nantikan kehadirannya di situs tersebut, sahabat sekalian.
Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Ada sebuah kata yang membuat telinga saya panas.
Kata “afeksi”. Jengkel sekali saya kalo mbaca tulisan yang mengandung kata2 serapan semacam ini. Meskipun memang benar ada di KBBI, tapi saya tetap gak suka. Seperti “affection” saja…
He he… Mas Asop, semuanya ada, afeksi, produksi, konsumsi, legitimasi, dan lain sebagainya. Makanya ada yang sampai protes untuk tidak menggunakan istilah “cinta produk dalam negeri”, karena kata “produk” itu sendiri datangnya dari luar.
sebagai pembaca blog mas cahya yang budiman, saya merasa senang.saya sendiri merasa kurang bagus berbahasa Indonesia, tetapi saya juga belum tahu, kurang bagusnya itu sampai dimana 😉
Selalu merasa kurang itu seperti yang disampaikan Steve Jobs, “keep hungry, stay foolish”. Atau mungkin sesuatu seperti itu, sehingga kita terpacu untuk terus membenahi diri :).
Ow ow ow…pembaca budiman. Dari kemarin dipanggil budiman mulu 😛 *salah pokus* -> salah nulis minta ditimpuk bakpia sama Cahya. Sukak artikel ini. Baiklah…tulisan berantakan. Makasih untuk linknya, wahai RI-1 yang kece! 😀
Tinggalkan Balasan