Siapa yang tidak tahu kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), salah satu bunga yang cukup sering kita temukan di mana-mana. Namun mungkin sekarang sudah semakin jarang seiring banyaknya bangunan modern. Di desa saya dulu, dan termasuk rumah saya, kami memagari pekarangan tidak dengan tembok namun dengan menggunakan kembang sepatu – mereka dapat tumbuh lebat dan mudah diatur. Jika perawatannya bagus, justru akan tampak seperti pagar vila mewah.
Sehingga jamak banyak orang menggunakan kembang sepatu sebagai tanaman hias pembatas. Daunnya yang hijau pekat namun terang, memberikan kesan asri, dan bunganya yang indah – meski tidak harum – memberikan kesan kenyamanan yang meneduhkan.
Mungkin kembang sepatu bukanlah bunga favorit saya, namun karena kedekatan tamanan ini dengan kami anak-anak desa tempo dulu, saya memiliki kesan mendalam akannya. Di luar konteks bahwa kembang sepatu adalah bunga nasionalnya negara Malaysia, saya rasa saya masih bisa bernostalgia menemukan banyak kembang sepatu di sekitar lingkungan saya.
Sebuah kembang sepatu, aslinya berwaran peralihan dengan pinggiran putih dan tengah merah muda.
Saat kecil, kami sering menggunakan daun kembang sepatu sebagai salah satu bahan ramuan tradisional untuk membuat gelembung tiup. Setiap orang memiliki komposisi rahasianya, sebuah formula yang dicampurkan dari sabun colek yang masih populer di masa itu.
Kembang sepatu, meski mungkin dinamakan demikian karena bisa digunakan untuk menyemir sepatu. Juga dikenal sebagai salah satu tanaman obat di nusantara. Anda bisa menemukan banyak tulisan tentang hal ini. Saya dengar daunnya secara tradisional digunakan sebagai obat demam, batuk bahkan sariawan. Ekstrak etanolik bunga kembang sepatu dapat menurunkan kolesterol total dan trigliserida, termasuk menurunkan gula darah – ahli farmasi di bidang obat-obatan herbal mungkin dapat membantu menjelaskan ini lebih terinci.
Di sisi budaya, terutama di daerah saya, bunganya digunakan sebagai aksesori dalam banyak sisi. Disebut sebagai pucuk bang, kembang sepatu biasanya diletakkan sebagai penghias mahkota (gelung). Termasuk sebagai hiasan pada pelbagai tempat suci seperti Pura, namun tidak digunakan sebagai bunga persembahan – seingat saya ada ketentuan yang sebaiknya menghindari bunga dengan tangkai putik yang tampak untuk dijadikan bunga persembahan pada masyarakat Hindu di Bali.
Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
11 tanggapan
Tina Latief
dulu kalau saya disengat lebah biasanya mom langsung metik bunga ini untuk dijadikan obat oles untuk mengurangi lebam dan bengkak..
banyak jenisnya, dan semuanya cantik-cantik..
Ingatan saya tentang bunga sepatu adalah untuk berbagai percobaan yang berkaitan dengan dunia tanaman. Misalnya belajar stek, mencangkok, dan menempel. Bunga sepatu sangat kuat dan cepat tumbuh. Satu hal lagi yang sangat menyenangkan adalah variasi bentuk dan warna bunga yang sangat beragam. Dengan sistim menempel kita dapat membuat satu batang tanaman memiliki lebih dari sepuluh macam bunga. Sangat menyenangkan.
Hahhaa…kalimatmu ambigu. Kalau kamu gak pernah ngegunain untuk semir sepatu sendiri, terus kamu pernah gunain kembang sepatu untuk semir sepatu orang lain? 😛
Tinggalkan Balasan